dr. Stephanie Pangau, MPH
Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010, ya Dok. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati Bu Dokter dan keluarga. Dok, saya ingin bertanya seputar penyakit rabies, karena di kampung saya di Minahasa (Sulawesi Selatan) banyak sekali anjing berkeliaran. Sering saya dikejar anjing saat berjalan-jalan. Saya sangat ketakutan kalau sampai digigit, karena ada teman saya yang juga digigit tapi untung dia hanya luka kecil dan ternyata sembuh.
Pertanyaan saya: 1) Apa sih penyakit rabies itu, Dok? 2) Bagaimana cara penularannya? 3) Berapa lama masa inkubasinya? 4) Apa saja gejala rabies? 5) Bolehkah pasien rabies dirawat di rumah saja? 6) Bagaimana mencegah penularan rabies setelah digigit binatang? Atas jawaban Dokter, terima kasih.
Silvy
Denpasar, Bali
Reformata.com - 1. RABIES adalah penyakit yang disebabkan virus rabies, spesies genus lyssavirus dan family rhabdoviridae. Penyakit ini merupakan penyakit zoonisis mamalia (terutama anjing, kucing, dan kera) yang penting di Indonesia, sebab penyakit tersebut tersebar luas di setiap provinsi dengan jumlah kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang cukup tinggi setiap tahunnya.
2. Transmisi virus rabies ke manusia bisa terjadi melalui 3 faktor, yaitu kontak binatang-manusia, manusia-manusia, dan jalur lain (inhalasi aerosol).
3.Masa inkubasi yang dilaporkan bisa bervariasi antara 2 minggu hingga 2 tahun, tetapi umumnya 3 hingga 8 minggu. (i) Masa inkubasi terpendek dan terpanjang yang pernah dilaporkan adalah terpendek 4 hari dan terpanjang 13 tahun; (ii) Masa inkubasi sangat tergantung juga pada tingkat keparahan luka, lokasi luka (terkait dengan kepadatan jaringan saraf di lokiasi luka dan jarak luka dengan otak), jumlah serta strain virus yang masuk, serta perlindungan oleh pakaian dan faktor-faktor lain.
4) Gejalanya cukup spesifik yaitu gatal atau parastesi (kebas) pada daerah luka gigitan yang menyembuh atau sudah sembuh. Gejala lain yang tidak spesifik seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, lelah, nyeri tenggorokan, gejala saluran cerna, irritabilitas, ansietas dan insomnia. Kira-kira 1 minggu sesudah gejala di atas, pasien akan menunjukkan gejala rabies furious (lebih sering ditemukan) atau paralitik (lumpuh). Gejala utama yang timbul adalah spasme hidrofobik yang merupakan refleks kontraksi otot-otot inspirasi saat terpicu oleh usaha meminum air, suara air, bahkan pada stadium lanjut, saat mendengar kata “air”. Refleks-refleks di atas juga bisa muncul dengan pemicu lain seperti menghirup udara (aerofobia), sentuhan pada langit-langit mulut, kilatan sinar maupun suara keras. Bisa juga timbul perasaan seperti diteror. Pasien juga bisa merasa sakit pada tenggorokan, lengan bergetar, spasme berulang dari otot leher SKM (sternokleidomastoideus), diafragma, dan otot pernafasan lain, sehingga timbul ekstensi generalisata yang bisa disertai kejang dan opisthotonos. Pada sepertiga kasus, spasme hidrofobik ini bisa diikuti dengan henti nafas dan jantung. Masih banyak gejala mengerikan lainnya yang bisa timbul dan akhirnya akan mengalami kematian 1-3 minggu setelahnya.
5) Pasien tersangka rabies, mutlak harus dirawat di rumah sakit, di ruang tersendiri (isolasi), tenang dan di-fiksasi untuk menghindarkan tindakan yang tidak rasional dan diberikan obat-obatan yang sedikit sedative, anti-nyeri (analgetik) dan anti-kejang.
6) Penanganan paska-gigitan binatang bertujuan membunuh atau menetralkan virus rabies pada lokasi luka sebelum virus sempat memasuki ujung saraf. Penanganan ini meliputi 3 komponen penting, yaitu : (i) Perawatan luka, secara dini usaha yang paling efektif adalah dengan: mencuci luka gigitan dengan air mengalir dan sabun atau detergent selama 10-15 menit. Pencucian harus dilakukan dengan penggosokan yang kuat sehingga perlu dipertimbangkan pemberian anastesi lokal bahkan umum untuk menghindari kesakitan. Pencucian diakhiri dengan pemberian antiseptic yang mempunyai potensi virusidal (misalnya alkohol 40-70%, povidon iodine); luka tidak boleh dijahit, kecuali jahitan situasi untuk tujuan menghentikan perdarahan. Perlu dipertimbangkan juga pemberian antibiotic untuk mencegah infeksi bakteri, analgetik untuk mengurangi rasa sakit dan pencegahan terhadap tetanus. (ii) Pemberian imunisasi aktif dengan VAR (Vaksin Anti Rabies), dan (iii) imunisasi pasif dengan Ig Rabies atau SAR (Serum Anti Rabies).vð
Koordinator Pembinaan Pelatihan
Yayasan Prolife Indonesia (YPI)