User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Bumi Bukan Ciptaan Tuhan?  |  FPI Suruh Polri Bercermin  |  Masyarakat Tak Perlukan FPI  |  Bollywood Bikin Film Tentang Yesus Semasa Kecil  |  Wanita Katolik Buka Warung Murah Untuk Buka Puasa  | 

Kredo

04 February 2010

Manusia Ukuran Segala Sesuatu?

123plato.jpg

 Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.

Reformata.com - MANUSIA dalam keseluruhan eksistensinya sangat kompleks untuk dipikirkan dan dibicarakan. Berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, filsafat, agama dan banyak lagi pen-dekatan yang terus- menerus dikembangkan untuk memahami dan menjelaskan siapa dan bagai-manakah seharusnya manusia itu di jagad raya ini. Selain itu pada umumnya setiap individu dalam tahapan tertentu juga akan berta-nya-tanya mengenai makna hidup-nya, apa yang sebaiknya dilakukan-nya, dan bagaimana  supaya me-miliki hidup yang lebih bermakna serta memiliki peran tertentu di tengah komunitasnya. Jika berbi-cara mengenai hakekat manusia dari berbagai pandangan akan terdapat banyak perbedaan dan ketidaksepakatan dan konsep-konsep itu tentunya yang akan mempengaruhi dan mendasari pemikiran dan tingkah laku sese-orang atau sekelompok orang dalam sebuah komunitas tertentu atau dalam skala yang yang lebih besar. Salah satu pandangan yang menarik  mengenai manusia diformulasikan oleh seoarang filsuf Yunani, Protagoras  (490– 420 SM) yang mengatakan bahwa manusia adalah “Homo Mensura” yang berarti “manusia adalah ukuran untuk segala sesuatu” (“Man, the measure of all things).” Benarkah pendapat ini? Apa alasan dan maksud Protagoras dengan mengatakan “untuk segala sesuatu ukurannya adalah manusia.”

Bibit Relativisme
Pernyataan di atas menjadi sangat kontroversial pada zaman-nya, bagaimana seseorang dapat mengklaim sesuatu benar dan salah dari dirinya sendiri. Kemudian siapa yang dimaksud dengan manusia? Apakah seseorang dapat diklaim sebagai ukuran atas segala sesuatu atau dalam berbagai keragaman budaya dan pikiran dapat disimpulkan bahwa manusia menjadi ukuran segala sesuatu? Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pemikiran di atas mengarah pada konsep relativitas di mana setiap orang dapat mengungkap-kan ide dan pikirannya untuk me-nentukan dan menjelaskan segala sesuatu sebagai benar atau salah berdasarkan pengalamannya masing-masing.
Jika seseorang atau sekelompok orang pada akhirnya dalam kebe-basan kehendaknya menerima dan mengadopsi paham ini sebagai sistem nilai hidupnya, dapat diprediksi akan menjadi seperti apa kehidupan komunitas yang demikian. Plato sendiri menyang-gah Protagoras dengan mengata-kan: “Jika setiap orang percaya bahwa dia benar dengan panda-ngannya sendiri tentang sesuatu, maka tidak ada orang lain yang dapat menilai pengalaman orang lain lebih baik dari dirinya sendiri, tidak akan ada orang lain yang lebih baik posisinya untuk menilai apakah pendapat seseorang itu benar atau salah, setiap orang memiliki opini masing-masing dan semuanya benar. Selanjutnya Plato mengaskan bahwa sia-sialah orang membayar mahal demi mendapat-kan pendidikan jika setiap orang memiliki ukuran (wisdom) masing-masing. Dari pemikiran Protagoras terlihat jelas betapa sarat konsep relativitas yang dipahami oleh paham-paham postmodernism seperti di zaman sekarang ini.
Relativitas yang ditawarkan di zaman postmodern sekarang ini adalah kebebasan hak individu yang setinggi-tingginya dengan alasan hak asasi manusia, lalu mereka menuntut kebebebasan berperilaku dan berkreasi (mis. generasi “punk”) asal tidak meng-ganggu orang lain. Namun mung-kinkah seseorang atau sekelom-pok orang dapat menuntut kebe-basan di dalam sebuah komunitas yang berbeda tanpa menyinggung nilai-nilai dan hak-hak kelompok yang lain? Bukankah hukum se-buah negara atau komunitas dibuat karena terlalu banyak per-bedaan selera dan nilai yang saling bertentangan, yang jika diberi kebebasan akan menjadi brutal?
Karl Marx di abad ke-19 menga-takan bahwa hakekat riil manusia adalah keseluruhan hubungan-hubungan sosial, sekalipun ia sendiri menolak keberadaan Tuhan. Namun kecenderungan untuk hidup saling berkaitan dalam konotasi yang mutual positif sangat seperti ini sangat tipis di zaman sekarang ini. Kepercayaan-keper-cayaan masing-masing orang yang bersifat egosentris telah mempe-ngaruhi cara hidup banyak orang di berbagai sistem masyarakat, sosial, politik dan ekonomi.  Misalnya dalam kehidupan berma-syarakat dan bernegara Indonesia pun sangat jelas terlihat ada kelompok-kelompok yang merasa dirinya benar dengan memaksakan nilai-nilai mereka untuk diterapkan di masyarakat, maka tidak heran mereka berani mengatasnamakan agama untuk menghanguskan agama lain dengan aksi bakar gereja, seperti terjadi juga di Malaysia saat ini.

Ciptaan Mulia
Bagaimana Alkitab menggambar-kan keberadaan manusia, apakah hakekat sejati manusia sebenar-nya? Seberapa besar dan luas kehendak dan pikiran manusia boleh menjelajah dan mengonsep-kannya menjadi sebuah sistem nilai dan keputusan? Apakah menurut Alkirab manusia menjadi penentu nilai dan tingkah lakunya di dunia ini? Alkitab dengan jelas membe-ritahukan bahwa pada awalnya memang manusia diciptakan oleh Allah dalam kemuliaan yang dikaru-niakan dengan menciptakan manusia itu serupa dengan gambar dan rupa Allah (Kej. 1: 27-28). Sang pemazmur menggambarkan kemuliaan itu : “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuat-nya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.” (Maz. 8:5-7).
Manusia diberikan potensi dan talenta yang luar biasa sehingga ia juga diberi tugas yang besar untuk mengelola bumi dan isinya yang juga diperuntukkan untuk kelang-sungan dan perkembangan hidup manusia itu sendiri (Kej 2:15). Namun oleh karena ketidaktaatan manusia pertama kepada Allah maka terjadilah suatu kecacatan dan penyimpangan yang juga diwariskan kepada seluruh keturu-nan Adam dan Hawa (Kej. 3).  Semenjak itu manusia mengalami disorientasi hidup dari tujuan yang semula ditetapkan Allah bagi manusia, manusia memiliki kecen-derungan berbuat jahat (Kej 6:5) dan selalu tergoda untuk menuruti keinginan-keinginan daging. Selain kecenderungan untuk berbuat jahat ditegaskan juiga bahwa manusia memiliki sifat yang sangat licik (Yer. 17:9).
Dari penegasan-penegasan Alkitab inilah dapat disimpulkan bahwa  orientasi hidup semua ma-nusia disadari atau tidak merupakan orientasi hidup dalam pemuasan hawa nafsu dan keinginan dosa yang selalu bermuatan egosentris. Kalau demikian gambaran manusia yang ditegaskan Alkitab maka dapat disimpulkan bahwa jika manusia dianggap sebagai “homo mensura/ ukuran untuk segala sesuatu” maka akan terjadi kekacauan dan kebebebasan yang tidak terkendali dalam hidup manusia. Dengan demikian manusia itu sendirilah yang akan menentukan siapakah manusia dan siapakah “Allah” menurut pemikiran dan konsepnya amsing-masing, dengan kata lain manusia menjadi penentu segala sesuatu.  
Lalu siapakah yang paling tepat untuk diterima sebagai tolok ukur segala sesuatu? Alkitab menegas-kan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu di alam semesta ini dan bahwa Allahlah yang berdaulat untuk menentukan segala sesuatu dan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta sesungguhnya diperuntukkan untuk kemuliaan Allah dan untuk menyatakan kemu-liaan Allah yang maha tinggi.  Upa-cara pengumpulan persembahan yang dipelopori Daud dalam 1Tawa-rikh 29 menggambarkan bahwa tidak ada suatu kebaikan dan karya apa pun yang layak dibanggakan oleh manusia di hadapan Allah, apa pun yang dapat dilakukan oleh manusia semata-mata hanya untuk menyatakan kemuliaan dan kebesaran Allah dan manusia dalam segala keberdosaanya tidak memiliki harapan apa pun selain sujud dan berharap akan belas kasihan dan anugerah Allah supaya diampuni dan diselamatkan.
Terlalu absurd untuk menyata-kan manusia sebagai “ukuran segala sesuatu,” karena manusia sebetulnya telah terjual dan terikat oleh hukuman kematian kekal dan manusia terlalu terbatas untuk menentukan segala sesuatu yang jauh di luar jangkauan pikiran, peraasaan dan tindakannya. Hanya karena kebutaan, kebodohan dan kesia-siaan pikiran manusia berdosa semata yang memunculkan ide tentang manusia sebagai tolok ukur segala sesuatu. Sikap dan refleksi terbaik diajarkan oleh Musa dalam Mazmur 90, menegaskan kepada setiap kita bahwa manusia hanyalah debu, manusia harus merendahkan diri sambil berharap akan kemu-rahan Tuhan dalam segala yang dilakukannya. Hanya Allah yang layak menentukan segala sesuatu, karena Dialah Sang Kebenaran, Dialah pencipta waktu dan pemilik waktu serta pemilik segala sesuatu dan segala sesuatu ada dan diciptakan hanya untuk kemuliaan-Nya— “soli deo Gloria” ( Roma 11:36).v

Penulis melayani di GSRI Kebayoran Baru, Dosen STTRII.
 

Bookmark and Share

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.423.261 Hit: 2.022.992 Since: 14.11.05 | 0.9278 sec | TOP
Online Support :