Reformata.com - Hidup dengan idealisme tinggi tentu bukan hal yang mudah. Sikap ini tak hanya berbenturan dengan nafsu diri, tapi juga berbenturan dengan orang sekitar, bahkan tak sedikit di antaranya yang membenci orang yang terlalu idealis. Tak heran orang rela menenggak racun demi prinsip ideal dan konsep yang dipegangnya, tapi tak sedikit pula yang mengingkari prinsip diri. Martin Bucer, teolog reformator Protestan di Jerman ini ada pada posisi pertama – salah satu orang yang berjuang demi ide yang dipegangnya.
Martin Bucer, pria kelahiran di Schlettstadt, daerah Alsace (se-karang Sélestat, di Prancis, 1491, di-kenal banyak orang lewat usaha-nya menata kembali organisasi gerejawi, mempersatukan kedua cabang utama reformasi, mendamaikan antara Luther dan Zwingli soal kontroversi ekaristi, meskipun usahanya ini direndahkan orang.
Sebagai seorang teolog, Martin Bucer mempercayakan peng-gemblengan dirinya di Heidelberg yang sudah terkenal kondang itu. Di tempat inilah Martin berkenalan dengan karya-karya Erasmus, Thomas Aquinas, dan tulisan-tulisan Martin Luther, yang mulai dikenalnya secara pribadi pada 1518. Tak hanya itu, di tahun-ta-hun berikutnya, Martin pun kerap hadir pada sebuah perdebatan tentang Luther dengan sejumlah pakar kepausan.
Pengajaran Martin mengenai Roh Kudus dan disiplin gereja memiliki peranan yang penting dalam sistem pemerintahan ge-rejawi masa itu, yang di dalamnya juga diikutsertakan kontribusi kaum awam dalam urusan gerejawi – turut ambil bagian dalam anugerah pelayanan yang nantinya juga diikuti oleh Calvin.
Untuk menjaga dan memper-tahankan idenya tentang disiplin gerejawi ini, Martin Bucer dengan sekuat tenaga melakukan perla-wanan keras menetang gerakan Anabaptis dan para radikal seperti Karlstadt, Ludwig Haetzer, Hans Denk, Sebastian Frank, Caspar Schwenckfeld, Melchior Hoffman, dan Clemens Ziegler, yang masih memegang konsep lama soal keikutsertaan kaum awam dalam soal gerejani.
Martin Bucer juga memper-kenalkan reformasi ke Hanau-Lichtenberg (1544). Tak sekadar memperkenalkan, Bucer bersama-sama dengan Melanchthon pun membuat tata cara reformasi pada 1543 yang pengaruhnya bahkan mencapai Belgia, Italia, dan Perancis.
Kedekatannya dengan kaum Lutheran tak membuat panda-ngannya melulu sama dengan pandangan Luther. Hal ini dapat dilihat dari pandangan Martin tentang sakramen Perjamuan Kudus, yang sangat mirip dengan Zwingli, namun demikian Martin tetap ingin mempertahankan kesatuannya dengan golongan Lutheran, untuk merumuskan suatu pernyataan iman yang akan mempersatukan para reformator Jerman Selatan yang Lutheran dengan para reformator Swiss itu. Tak heran banyak orang pun menuduhnya plin-plan, tidak tegas pendirian.
Satu lagi karya akbar Martin di akhir hayatnya yang cukup mewarnai doktrin gereja masa kini adalah “De Regno Christi” (tentang Kerajaan Kristus), sebuah mahakarya yang tercipta atas permintaan sang raja. Karya ini sesungguhnya dibuat Martin untuk mengajarkan natur kerajaan Allah yang sesungguhnya berikut cara mewujudkannya di dunia.
Martin Bucer meninggal pada 27 Februari 1551, tak berapa lama setelah menyelesaikan karya terakhirnya. Namun pada 1557, atas perintah Ratu Mary, kuburannya digali dan dihancurkan dan tulang-tulangnya pun dibakar. Namun demikian, empat tahun kemudian Ratu Elizabeth sekali lagi memberikan penghormatan kepadanya.
Itulah Martin Bucer, seorang pelopor yang jasanya tak terkira dalam memerjuangkan hak kaum awam untuk turut serta berpartisipasi dalam melayani. Karena perjuangan Martin dan para penerusnyalah orang dapat memperoleh, sekaligus meresponi anugerah pelayanan yang Allah karuniakan itu. Slawi/dbs