Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)
Reformata.com - MENYUSUL terjadinya Tragedi Ciketing 12 September lalu, seorang aktivis kebebasan beragama menulis sebuah esai singkat di sebuah milis. Intinya, esai tersebut menyesalkan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dinilainya lebih mementingkan karir daripada mengurusi rakyat. Esai tersebut diakhiri dengan sebuah kalimat pendek demikian: “Go to hell pemimpin pencitraan!!!”
Bisa dibayangkan, dengan tiga tanda seru yang menutup kalimat pendek tersebut, si penulis sangat mungkin sedang marah terhadap SBY. Ada apa dengan SBY? Mengapa sang presiden harus menjadi tumpuan kemarahan? Tentu bukan karena SBY secara pribadi bersalah kepadanya, melainkan karena SBY sebagai presiden tak mampu memenuhi harapannya sebagai rakyat yang merindukan sosok pemimpin yang baik. Pertanyaannya, apakah SBY bukan seorang pemimpin yang baik?
Menjelang Pileg 2009, dalam sebuah acara panel diskusi politik, seorang seniman yang juga ketua umum sebuah partai politik mengatakan begini tentang SBY. “Is he a good man? Yes. Is he a good leader? No.” Alasannya, menurut dia, pemimpin identik dengan risk taker. “SBY bukanlah seorang risk taker,” kata seniman sekaligus politikus itu. Saya yang sama-sama semeja dengannya sebagai panelis saat itu langsung berespon di dalam hati: “Benar.”
Saya setuju dengan pendapat-nya bahwa SBY bukanlah seorang pemimpin yang baik. Memang, ada banyak definisi tentang kepemim-pinan dan kriteria pemimpin yang baik yang bisa dijadikan referensi. Tapi satu hal yang pasti, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani membuat keputusan untuk kebaikan, meski ada risiko yang akan dihadapinya. Mungkin saja sang pemimpin bukan tipikal seorang pemberani. Namun, demi kebaikan orang banyak yang dipimpinnya, dia berani mengambil sebuah keputusan yang berisiko. Itu berarti, dia rela dan siap berkorban untuk sesuatu yang diyakininya baik. Dia sanggup bersikap tegas untuk itu, meski mungkin saja jabatannya menjadi taruhan.
Jika kita jeli mengamati, selama ini mungkin hanya dua kali SBY menunjukkan sikap tegasnya secara terbuka terkait isu-isu penting yang menjadi sorotan publik. Pertama, dalam kasus tewasnya seorang praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (2007). Kedua, dalam kasus diculiknya bocah Raisya (2007). Terkait peristiwa-peristiwa lainnya, SBY memang bicara juga, tapi cenderung kurang atau bahkan tidak tegas. Mungkin lantaran itulah maka mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pernah mengatakan, diperlukan nyali luar biasa untuk menjadi pemimpin bangsa di masa men-datang. “Kalau tidak maka tidak bisa membenahi negeri bermasalah ini,” katanya dalam se-buah diskusi politik menjelang Pileg 2009.
Terkait gangguan atau ancaman ter-hadap kebebasan beribadah yang te-lah berulang kali di-alami jemaat gereja HKBP di Ciketing maupun GKI di Bo-gor, apakah SBY pernah berkomentar keras? Tidak. Bahkan setelah jemaat HKBP melak-sanakan kebaktian di depan Istana Merdeka, Jakarta, Minggu 15 Agustus lalu, yang dihadiri pula oleh pelbagai komunitas pendu-kung kebebasan beragama dan beribadah, SBY tetap bergeming. Sungguh membingungkan melihat sikapnya. Padahal, terkait kasus beredarnya video porno dua sejoli yang mirip Ariel-Luna Maya dan Ariel-Cut Tari, SBY tercatat telah berkomentar tiga kali. Padahal, terhadap rencana pembakaran Al-Quran oleh Sekte Evangelis Florida, Amerika Serikat, pimpinan Terry Jones, SBY secara proaktif mengirim surat resmi kepada Presiden AS Barack Obama, meminta agar aksi pembakaran tersebut dicegah demi perdamaian global. Bukan main... apa yang terjadi di luar negeri diurusinya, padahal persoalan yang sudah berulang kali terjadi di dalam negeri nyaris dibiarkannya.
Begitulah sang presiden pilihan rakyat langsung dengan perolehan suara lebih dari 60 persen itu. Pengelolaan kesan (impression management) seakan menempati urutan teratas dalam skala prioritasnya. Tujuannya, tentu saja, demi pencitraan dirinya sebagai pemimpin. Tak heran jika terkait isu-isu yang sebenarnya tak terlalu penting namun tengah menjadi sorotan publik, SBY menyem-patkan diri untuk mengeluarkan pernyataan politik.
Tatkala Indra Azwan, seorang pencari keadilan dari Kota Malang (yang anaknya tewas ditabrak seorang perwira polisi) berjalan kaki ke Jakarta untuk menemui SBY, adakah sang presiden terketuk hatinya untuk menemui Indra barang beberapa menit saja? Tidak. Tetapi, begitu Indra menjadi sorotan publik lantaran ia kemudian “mengadu” kepada patung gorila di Ragunan dan aksinya ditayang secara khusus oleh MetroTV, SBY langsung memerintahkan stafnya untuk memanggil Indra.
Menurut Karl Rove, penasihat strategi pencitraan mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush, taktik jitu untuk mengalahkan lawan politik adalah “menyerang kekuatannya, bukan kelemahannya”. Bukankah dalam konteks SBY, apa yang dikatakan Rove itu benar? Citra diri yang positif sebagai pemimpin yang “tenang, santun, simpatik, berwibawa” merupakan kekuatan yang selama ini selalu diandalkan SBY. Boleh jadi karena didorong oleh obsesi untuk terus mem-pertahankan citra diri yang positif itulah maka SBY lebih kerap terlihat lambat daripada cepat dalam bersikap dan bertindak terhadap pelbagai masalah krusial. Bukankah “kelemahan” itu yang kemudian dimanfaatkan Jusuf Kalla, dalam kampanye Pilpres 2009, dengan mengklaim dirinya sebagai sosok pemimpin yang “lebih cepat lebih baik”?
Pencitraan sesungguhnya baik dan positif jika ia bersifat alami, dalam arti tidak secara sengaja dibangun. Itulah yang oleh Wooden (2006) disebut innate image, sesuatu yang berkaitan dengan karakter. Sebaliknya, pencitraan menjadi tak baik dan negatif jika orang yang ber-sangkutan secara sadar mengelolanya demi tujuan meraih reputasi atau me-ningkatkan popu-laritas. Ia bahkan menjadi sesuatu yang palsu jika tidak didukung dengan fakta-fakta sesuai dengan apa yang hendak digambarkan oleh citra yang dimaksud. Menurut Covey (1989), citra diri seperti itu tak ubahnya topeng. Itulah yang disebut Wooden sebagai social image: sesuatu yang terlihat dari luar bagus tapi tidak otentik sekaligus tidak jujur, dan karenanya juga tidak sejati.
Di tengah kehidupan bersama, sesuatu yang palsu di dalam diri seseorang lambat-laun niscaya terungkap juga. Seiring makin terbukanya hal-hal yang asli di balik topeng itu, reputasi atau po-pularitas orang yang bersangkutan pun akhirnya melorot, karena pada saat bersamaan orang banyak mulai meninggalkannya atau melihatnya tak lagi sebaik dan sepositif sebelumnya.
Terkait SBY, apakah presiden yang mampu menggubah lagu-lagu sendu itu kini mulai mengalami pelorotan citra diri? Silakan menyimpulkan sendiri. Yang jelas, popularitasnya berdasarkan hasil survai kian merosot dari waktu ke waktu. Pula, kian lama kian banyak pihak dan kalangan yang secara tegas mengatakan “stop pencitraan” terhadap SBY.
Tak pelak, SBY pun kerap terlihat goyah akhir-akhir ini. Sebagai contoh, ketika suatu kali seorang aktivis muda membawa-bawa seekor kerbau dalam aksi demonya, SBY memerlukan diri untuk meresponinya secara khusus dalam sebuah rapat terbatas di Istana Cipanas dengan mengatakan hal itu “tidak sopan”. Padahal, saat bersamaan, ketika kader Partai Demokrat yang juga anggota DPR, Ruhut Sitompul, berkata “bangsat” dan “burung” dalam sidang wakil rakyat yang terhormat, SBY tidak berkomentar sedikit pun.
Contoh lain, ketika Adjie Suradji, seorang anggota TNI AU aktif membuat tulisan opini di sebuah media massa yang berisi kritikan terhadap Presiden, SBY lagi-lagi memerlukan diri untuk meresponi-nya secara khusus dalam pidatonya di Istana Negara, 8 September lalu, usai buka puasa bersama dengan para pemimpin redaksi media massa. Herannya, isu “opini Adjie Suradji” menempati peringkat kedua dalam delapan isu yang dibahas SBY. Sedemikian pentingkah kritikan Adjie di mata SBY? Tidakkah lebih pantas “persoalan kecil” itu diselesaikan secara internal saja di institusi TNI?
Terkait itu SBY agaknya punya pertimbangan sendiri: Adjie sudah “menyerang” citra dirinya selaku pemimpin yang di lingkungan militer sebenarnya tabu untuk dikritik secara terbuka. Setali tiga uang, Adjie pun punya pertimbangan sendiri: SBY sebagai pemimpin lebih memen-
tingkan pencitraan daripada menyelesaikan pelbagai masalah yang sebenarnya mampu diberes-kan dengan cepat asalkan ada keberanian dan ketegasan. Itulah yang membuat Adjie akhirnya geregetan, sehingga ia kemudian secara sadar memutuskan “melanggar” tabu tersebut. Demi mengingatkan sang pemimpin, Adjie rela berkorban dan siap menghadapi risikonya.
Tragedi Ciketing sudah berlalu, dan SBY sudah bersuara untuk itu. Tapi kita masih wait and see, bahwa presiden pilihan rakyat dua kali berturut-turut itu benar-benar peduli terhadap sekelompok umat yang kesulitan beribadah di negeri yang konon religius ini.