Reformata.com - ORANG awam tidak selayaknya hanya diam sebagai pendengar, tapi juga harus terlibat aktif dalam penjelajahan dan permenungan Alkitab. Monopoli para teolog dan filsuf dalam penjelajahan kebenaran selayaknya digugurkan.
Adalah Michael Servetus, ahli geografi, yang juga psikolog menggugat monopoli konsumsi kebenaran oleh para teolog dan filsuf saja. Ilmuwan yang telah menyumbang banyak bagi kesejahteraan manusia melalui penemuan-penemuan ilmiahnya ini kemudian membuktikan konsistensi pernyataannya dengan melakukan penyelidikan Alkitab.
Servetus percaya bahwa berita Kristus tidak hanya ditujukan kepada kaum teolog dan filsuf saja, melainkan kepada orang awam yang dapat memahami dan menerapkannya. Karena itu, ia memutuskan untuk memeriksa teks Alkitab dalam bahasa aslinya dan menolak ajaran apa pun yang tidak selaras dengan Alkitab. Tak heran jika dalam setiap karyanya, kata “kebenaran” dan kata turunannya lebih sering muncul daripada kata mana pun dalam tulisan-tulisannya.
Michael Servetus, ilmuwan yang lahir pada tahun 1511 di Villanueva de Sijena, Spanyol ini, sejak muda dikenal sebagai siswa yang menonjol. Bahkan dalam beberapa literatur disebutkan sejak usia 14 tahun, Servetus telah berkutat dengan bahasa Yunani, Latin, dan Ibrani, serta belajar filsafat, matematika, dan teologi. Kegemarannya mempelajari banyak hal itulah yang kemudian mendorongnya untuk mencari ke-benaran dalam kitab.
Pada usia 16 tahun, Servetus pergi ke Perancis untuk belajar hukum di Universitas Toulouse. Di tempat inilah, untuk pertama kalinya ia melihat Alkitab secara lengkap. Meskipun waktu itu membaca Alkitab bagi kalangan awam dilarang keras, Servetus melakukannya secara diam-diam. Setelah menyelesaikan pembacaannya yang pertama, ia bertekad untuk membacanya “seribu kali lagi”. Boleh jadi, Alkitab yang dipelajari Servetus di Toulouse adalah Poliglot Complutum, sebuah terjemahan yang memungkinkan dia membaca Alkitab dalam bahasa aslinya (Ibrani dan Yunani), beserta terjemahannya dalam bahasa Latin.
Namun sangat disayangkan, konstruksi dan metode penje-lajahan kitab suci di luar sistem justru membawanya pada kesim-pulan miring yang sama sekali jauh berbeda dari dogma utama gereja. Pembelajaran Servetus dalam bidang sejarah dan Alkitab secara liar justru membawanya pada kesimpulan bahwa selama tiga abad pertama tarikh Masehi, kekristenan telah diselewengkan. Menurut Servetus, Konstantin dan para penggantinya telah mem-perkenalkan ajaran-ajaran palsu yang mengakibatkan diterimanya konsep tritunggal sebagai doktrin resmi.
Servetus menganggap doktrin “tritunggal” sebenarnya tidak ada. Di Alkitab tidak pernah sekali pun tertulis kata tersebut. Tentu saja kesimpulannya tersebut diang-gap sesat. Bagaimana tidak, ada begitu banyak tanda, indikasi, kalimat dan statemen dalam Alkitab mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru yang mengarah pada penjelasan tritunggal tersebut. Pra-anggapan dan konstruksi berpikir yang tidak tepat (terlepas dari sistem) telah membawa Servetus pada kesimpulan yang tidak tepat. Inilah salah satu alasan mengapa gereja kala itu “mengekslusifkan” pembelajaran Alkitab hanya di kalangan teolog dan rohaniawan – karena dipandang mumpuni dan memang belajar tentang hal itu.
Pembelajaran Alkitab juga membuat Servetus menolak doktrin-doktrin lain gereja, dan ia menganggap penggunaan patung-patung tidak berdasarkan Alkitab. Di usia 20 tahun, Servetus menerbitkan bukunya ‘‘On the Errors of the Trinity’’, karya tulis yang menyebabkan dia menjadi sasaran utama inkuisisi. Pada 27 Oktober 1553, Michael Servetus dibakar di sebuah tiang di Jenewa, Swiss. Guillaume Farel pengeksekusinya memberi peringatan kepada orang-orang yang menyaksikannya, “Servetus adalah pria bijaksana yang menganggap dirinya mengajarkan kebenaran, namun dia jatuh ke tangan si iblis. Hati-hati agar hal yang sama tidak menimpa kalian!”
Slawi/dbs