Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Jejak

Gregorius Dari Nazianzus Orator Ulung Pembela Doktrin Trinitas

Posted : 01 Juli 2011
220px-Gregory_of_Nyssa.jpg
DALAM dunia teologi yang semua orang bebas mengeluarkan teori dan pendapat, tidak sedikit yang menganggap bahwa Tuhan Yesus ketika menjadi manusia telah “kehilangan” ke-Allahan-Nya.  Dia telah kehilangan sifat-sifat ilahi-Nya ketika berinkarnasi menjadi manusia.  Hal ini tentu saja tidak dapat diterima oleh bapak-bapak gereja ortodoks yang berjuang bagi kebenaran dogma kristiani.  Satu orang dalam barisan tersebut adalah Gregorius  dari Nazianzus.
Gregorius  dari Nazianzus yang juga dikenal sebagai teolog Gregorius atau Gregory Nazianze ini berjuang keras melawan aliran teologi dan pemikiran yang tidak setia pada dogma ortodoks Kristen. Dengan doktrin trinitariannya uskup dari Konstantinopel pada abad ke-4 ini menjawab pengajaran-pengajaran keliru yang berkembang di masa itu.  Doktrin trinitariannya juga memberi warisan yang  yang signifikan terhadap bentuk trinitarian teologi dalam bahasa Yunani dan Latin. Tak heran jika kemudian banyak teolog modern mengaku dipengaruhi oleh karya teologis Gregory, terutama dalam hal hubungan antara tiga pribadi trinitas.
Gregorius lahir dari keluarga terpandang di Karbala dekat Nazianzus, barat daya Kapadokia . Orang tuanya, Gregory dan Nonna terkenal sebagai orang kaya yang memiliki banyak tanah. Dalam keluarganya, pendidikan adalah hal utama, karea itulah sejak usia dini Gregorius sudah dititipkan pada Amphylokhios, pamannya sendiri, untuk belajar beragam ilmu pengetahuan. Setelah sekian tahun belajar secara mandiri bersama pamannya, Gregorius lalu melanjutkan studi retorika dan filsafat di Nazianzus, Kaisarea , Alexandria dan Athena . Dalam perjalanan studi ke Athena Gregorius mengalami hal penting yang mentransformasi hidupnya.  Di perjalanan ke Athena kapal yang ditumpangi Gregorius menghadapi badai besar.  Dalam ketakutan yang memuncak, Gregorius berdoa sekaligus bernazar pada Kristus, jika luput dari badai besar itu, dia akan menyerahkan diri dan  mengabdikan hidupnya untuk melayani Kristus.
Betul, Gregorius luput dari bahaya besar yang akhirnya menghan-tarkannya pada dunia pelayanan.  Di Athena, Gregorius belajar di bawah rhetoricians terkenal Himerius dan Proaeresius dan menyelesaikannya dalam waktu yang singkat.  Pada tahun 361 Gregorius kembali ke Nazianzus dan ditahbiskan sebagai penatua.  Selama di rumah dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membantu ayahnya merawat dan menggembalakan jemaat Kristen lokal. Masa muda Gregorius dihabiskannya dengan menerjunkan diri dalam diskursus teologi.  Bahkan ia  menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk memerangi Arianisme.
Salah satu warisan teologi yang terkenal dari Gregorius adalah doktrin trinitas.  Sebuah rumusan teologis paling signifikan sebagai kontribusi pembelaan Gregorius terhadap doktrin Nicea. Teologi Gregorius terkenal karena kontribusinya pada bidang pneumatologi,  yaitu, teologi mengenai sifat dari Roh Kudus.  Dalam hal ini, Gregorius  menggunakan ide prosesi untuk menggambarkan hubungan an-tara Roh dan Ketuhanan: “Roh Kudus benar-benar Roh, datang dari Bapa bukan dengan generasi tetapi dengan prosesi (procession).  Meskipun demikian Gregorius tidak sepenuhnya mengembangkan kon-sep  ide prosesi tentang Roh Kudus ini.
Selain itu, dari beberapa  tulisan teologis Gregorius, beberapa orang berpendapat bahwa sama seperti temannya Gregory dari Nyssa, Gregorius mungkin telah mendukung beberapa bentuk doktrin apocatastasis, tentang keyakinan bahwa Allah akan membawa semua ciptaan selaras dengan Kerajaan Surga. Karena itulah di akhir abad kesembilan belas universalis Kristen , khususnya JW Hanson dan Philip Schaff, menggambarkan teologi Gregorius sebagai universalis.
Semasa hidupnya, Gregorius diakui sebagai salah satu orator yang sangat terkemuka yang pernah pernah ada. Gregorius juga dikenal sebagai pelopor Kristen dalam seni berpidato.  Tak hanya cakap berbicara, tapi Gregorius juga memiliki kekuatan imajinasi yang tinggi, kejernihan dan ketajaman pemikiran, serta berapi-api dalam semangat dan ketulusan yang jujur dan apa adanya.  
Santo Gregorius meninggal pada 25 Jan 389 yang kemudian dimakamkan di Nazianzus. Pada tahun 950 reliknya kemudian dipindahkan ke Konstantinopel, ke gereja Para Rasul Kudus.
            ?Slawi/dbs
64
198 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.1157 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net