User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Gambar Wajah Di Planet Mars  |  Dimulai, Pembangunan Gedung Baru UKI  |  Persekongkolan Negara Dan Massa Anarkis  |  Suplemen Kalsium Tingkatkan Risiko Serangan Jantung  |  Pemerintah 'tak Hargai' Kebebasan Beragama  | 

Laporan Khusus

15 October 2008

Badai Ekonomi AS Landa Indonesia

Badai-Ekonomi-AS.gif
Bermula dari bangkrutnya dua perusahaan pembiayaan perumahan terbesar Amerika Serikat (AS), Fannie Mae dan Freddie Mac, 7 September 2008, mau tak mau, Departemen Keuangan AS mengambil alih dua perusahaan tersebut. Seminggu kemudian, Lehman Brothers mendaftarkan perlindungan kebangkrutan dan terpaksa Merrill Lynch pun diakuisisi Bank of America. Kedua nama tersebut adalah nama-nama paling besar di dunia keuangan. Seperti bola salju, saham International Group turut merosot 60,80 persen.
Guna menjaga stabilitas ekonomi, Bank AS menyuntikkan US$ 70 miliar ke pasar. Ternyata, suntikan itu tidak dapat menahan merosotnya indeks Dow Jones sebesar 4,4 persen, yang terbesar sejak 2001. Tak pelak, Indonesia pun terkena imbasnya.  

Rentetan krisis finansial di AS, terus saja menggoncang bursa saham dunia. Undang-Undang Stabilisasi Ekonomi Darurat, yang memuat rencana penggelontoran dana talangan (bail out) sebesar US$ 700 miliar dolar, telah diteken oleh Presiden Bush. Namun,  tetap saja berbagai bursa saham dunia terus berambrukan.
Melihat tsunami krisis ekonomi ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak tinggal diam. Agar indeks saham tidak terperosok lebih dalam, BEI sempat menutup sementara aktivitasnya.

Sudah diprediksi
Prediksi Dana Moneter Internsional (IMF) akan terjadinya krisis ekonomi dunia tidak meleset. Seperti yang dikabarkan di beberapa media, pada awal tahun 2008, IMF mengeluarkan laporan tahunan, yang mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia akan menjadi lambat dalam dua tahun ke depan. Hal ini diakibatkan oleh krisis kredit perumahan di Amerika Serikat.
Dalam laporan itu juga, IMF mengatakan pertumbuhan eko-nonomi dunia akan turun 3,7 persen pada tahun 2008 dan 2009, lebih rendah 1,25 persen dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2007. Kelesuan itu dimulai Amerika Serikat, yang oleh IMF diyakini akan jatuh ke dalam “resesi ringan” tahun ini.
Ancaman terburuk dikarenakan dampak yang terus muncul di pasar keuangan, akan memungkinkan krisis di sektor pinjaman perumahan saat ini bermutasi menjadi krisis yang lebih besar.
IMF mengatakan kerugian akibat krisis sub-prime mortgage di Amerika bisa menyebar ke sektor lainnya, seperti properti komersial, kredit konsumen dan hutang perusahaan.
Melihat kondisi itu, IMF memperkirakan pertumbuhan 2008 di Amerika Serikat 0,5%, Eropa 1,4% dan Inggris Raya 1,6%.
Negara-negara dengan per-ekonomian yang mulai kuat seperti Cina dan India, pertumbuhan ekonominya tidak akan terlalu terpengaruh dengan kelesuan di Barat, Meski dampaknya dalam perdagangan akan tetap terasa. Jumlah impor ke negara-negara kaya diperkirakan akan berkurang dengan tajam, sehingga ekspor oleh negara-negara maju berkurang. Dan IMF memperingatkan bahwa dampak akan dirasakan lebih besar di Amerika Latin atau di negara-negara yang terkait dengan dolar Amerika, yang nilainya turun drastis di pasar valuta asing.
Selain itu, lembaga Econit yang dipimpin oleh Rizal Ramli, pada awal Januari 2008, kembali mengeluarkan peringatan bahwa telah terjadi gelembung finansial di pasar modal serta pasar kredit konsumen dan properti komersial. Dan Econit menyebut tahun 2008 sebagai tahun gelembung (The Year of the Bubble).
Melihat bertumbangannya bursa saham dunia, yang merupakan produk dari kapitalisme pasar bebas, Presiden Venezuela Hugo Chavez yang kental dengan pemikiran sosialisme itu pun angkat bicara. Dia mengatakan bahwa krisis ekonomi dunia yang bermula dari sarang kapitalisme, Amerika Serikat, mengindikasikan sebagai kegagalan dari sistem kapitalisme pasar bebas. Betulkah demikan? Atau terlalu dinikah pernyataan Hugo Chavez tersebut?  Mungkin, seiring perjalanan waktu, komentar dari Hugo Chavez akan terjawab.
Berbagai upaya untuk mengurangi bahkan menihilkan krisis ini coba dilakukan. Termasuk di antaranya dengan mengubah gaya hidup yang yang cenderung “lebih besar pasak daripada tiang”.
Pasar bebas yang kerap kali berjalan dengan logikanya sendiri ini, mau tak mau kini harus dikontrol. Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), yang dinahkodai oleh Susilo Bambang Yudhoyono mencoba mengeluarkan jurus 10 langkah. Ampuhkah 10 langkah itu?
Menurut Rizal Ramli, ke-10 langkah itu tidak cukup karena hanya sebatas imbauan, bukan policy. Apalagi, lanjut dia, landasan dari berbagai langkah yang diambil, esensi dasarnya adalah monetaris. Ini dilakukan akibat KIB terlalu manut terhadap model IMF dan Bank Dunia. Mereka membiarkan aliran hot money sampai 24 miliar dolar lebih selama empat tahun pemerintahan SBY.
Agak rumit memang memastikan suatu  ketika membicarakan suatu krisis masih berproses. Jelasnya, 200 juta lebih rakyat Indonesia berharap banyak agar pemerintah mengambil langkah yang bijak dan strategis. Biar bagaimanapun, kalau krisis ini berkepanjangan, lagi-lagi rakyat menjadi korban dan semakin miskin.
      ? Ambarita/dbs

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.299.614 Hit: 1.857.366 Since: 14.11.05 | 0.8583 sec | TOP
Online Support :