User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Gambar Wajah Di Planet Mars  |  Dimulai, Pembangunan Gedung Baru UKI  |  Persekongkolan Negara Dan Massa Anarkis  |  Suplemen Kalsium Tingkatkan Risiko Serangan Jantung  |  Pemerintah 'tak Hargai' Kebebasan Beragama  | 

Laporan Khusus

14 October 2008

Kegagalan Kapitalisme Pasar?

Kegagalan-Kapitalisme-Pasar.gif
Dengan adanya krisis  ekonomi global ini, apakah  sistem kapitalisme yang dipakai dalam roda perekonomian dunia ini gagal? Ini menjadi pertanyaan bagi beberapa kalangan. Presiden Venezuela Hugo Chavez, misalnya, menyebut krisis ekonomi dunia yang dimulai dari Amerika Serikat (AS) sebagai bukti telah gagalnya sistem kapitalisme pasar bebas. Hal senada juga diungkapkan oleh anggota Partai Rakyat Demokratik, Dominggus Oktavianus. Dia menganggap bahwa sistem kapitalisme pasar ini memang betul-betul sedang mengalami kegagalan.  
Dan krisis yang terjadi saat ini, lanjut pria kelahiran Tambua 1977 ini telah diramalkan bakal terjadi sejak beberapa tahun lalu. Jadi, masalah ini sudah dapat dibaca dan diantisipasi. “Namun, perma-salahannya sistem kapitalisme ini sudah bergerak dengan logikanya sendiri. Bahkan apa yang terjadi di pasar finansial pergerakannya lebih cepat dibandingkan kemampuan pemerintah untuk membuat regulasi,” kata dia.
Memang banyak yang berko-mentar bahwa krisis ini dipengaruhi juga oleh ketiadaan regulasi pemerintah dan problem moral hazard, yakni ada peluang orang untuk mendapatkan keuntungan besar dalam jangka pendek melalui bursa saham.
Kapitalisme, hukumnya, adalah
bagaimana dapat mengakumulasi modal dan memperoleh keuntung-an sebanyak-banyaknya. “Sistem ini memang menciptakan orang jadi tamak dan tidak peduli lagi terha-dap orang lain,” kata Dominggus.

Awal kapitalisme
Sistem kapitalisme pasar atau yang juga dikenal dengan neoliberalisme, menurut Ketua Bidang Politik Partai Papernas  sudah berlangsung sejak awal 1980-an. Dampaknya, terjadi krisis di Amerika Latin pada dekade 1990-an awal. Di Asia Timur dan Asia Tenggara terjadi pada tahun 1997. Dan di Amerika terjadi pada tahun 2001.
Akumulasi modal yang telah berlangsung sejak tahun 1980 terjadi sedemikian rupa dilakukan oleh negara maju seperti AS. “Melalui pinjaman hutang, negara-negara miskin atau berkembang diperangkap untuk menerima sistem keuangan global ini. Salah satunya dengan membuka kurs mata uang yang diperdagangkan sehingga menciptakan suatu ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Dominggus.
Inilah yang kemudian diman-faatkan lembaga keuangan seperti IMF untuk memaksakan agenda liberalisasinya. Contohnya, libe-ralisasi perdagangan, privatisasi dan pencabutan subsidi serta de-regulasasi. “Jika agenda liberalisasai ini mewujud maka itu akan mempermudah proses penarikan sumber daya ekonomi negara terbelakang sehingga modal-modal tersebut terkonsentrasi ke negara maju. Penggelembungan ini terjadi terus-menerus baik berupa kertas-kertas dan surat-surat berharga,” kata Dominggus.
Perkembangan sektor finansial, kini, begitu cepatnya. Sementara pembangunan di sektor riil selama ini tidak maju. “Jadi hanya sebatas lips service saja dari pemerintah,” kata Dominggus. Kredit yang diberikan dalam sistem perbankan moneter, lanjut dia, bunganya selalu tinggi. Jaminan terhadap perlindungan industri tidak ada. Apalagi, ketika ingin memproduksi barang, barang-barang impor masuk begitu banyak. Begitu juga, sektor pertanian kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Sosialisme  
Sejarahnya, pembangunan Indonesia ini dimulai dari suatu proses yang panjang di mana-mana banyak pemikiran sosialisme yang mempengaruhinya. Founding Father, Sukarno pernah mengajarkan apa yang disebut marhaeinisme (marxisme dalam konteks Indonesia). Bung Hatta sendiri adalah orang pertama yang menciptakan manifesto komunis (Karl, Marx dan Engel). Demikian hal dengan Amir Syarifuddin. “Jadi kalau mau dirunut pondasi bangsa ini tidak lepas dari pondasi bangunan yang dinamakan sosialisme. Pondasi ini dipilih lantaran, ke depan, para pendiri bangsa ini menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang adil, bukan bangsa yang kapitalistik,” kata Dominggus.
Dalam krisis ini, ada langkah yang salah dilakukan negara ini paska-Sukarno. Di mana membuka akses begitu luas bagi korporasi untuk mengeruk sumber daya ekonomi negara ini. Baik itu cadangan devisa maupun cadangan sumber daya alam. Mulai saat itulah liberasasi menggurita di bumi pertiwi ini. “Mestinya, sistem liberasasi ini ditolak sedari awal,” kata dia.
Penolakan sistem ini bukan berarti mengarahkan ekonomi nasional menjadi tertutup. Namun, dibangun suatu bentuk relasi ekonomi dengan negara lain sehingga ada keseta-raan. Pun, nilai-nilai kristiani, yang berasal dari teladan Kristus, me-ngajarkan keadilan, peduli terha-dap sesama yang miskin dan tertindas.
Nilai-nilai solidaritas itu, ujar Dominggus, yang mesti ditumbuh-kembangkan, bukan eksploitasi. Sehingga terciptalah relaasi eko-nomi yang setara. Akhir-nya, bangsa ini tidak lagi menjadi inlander (bangsa yang terjajah).
Apakah Karl Marx yang pernah memprediksikan bahwa kapitalisme sedang menggali kuburannya sendiri sedang mewujud? Biarlah waktu yang menjawabnya.
? Ambarita  

Comments

Jefri, 08.06.10 12:31
lalu posisi gereja dalam ekonomi seperti apa pak ?

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.299.672 Hit: 1.857.433 Since: 14.11.05 | 0.8147 sec | TOP
Online Support :