User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Gambar Wajah Di Planet Mars  |  Dimulai, Pembangunan Gedung Baru UKI  |  Persekongkolan Negara Dan Massa Anarkis  |  Suplemen Kalsium Tingkatkan Risiko Serangan Jantung  |  Pemerintah 'tak Hargai' Kebebasan Beragama  | 

Laporan Khusus

14 October 2008

Krisis Karena Gaya Hidup

Krisis-Karena-Gaya-Hidup.gif
Pendapat Presiden Venezu ela Hugo Chavez bahwa sistem pasar bebas itu telah gagal, tidak sepenuhnya betul. Hal itu menurut pengamat ekonomi Dr. Pande Raja Silalahi. “Sekarang ini semua orang diberikan tempat untuk memberikan opini. Termasuk opini Hugo Chavez yang menya-takan krisis Amerika yang menjelma menjadi krisis ekonomi dunia ini menandakan bahwa gagalnya sistem kapitalisme pasar,” kata dia. Kapitalisme, lanjut Pande, selalu menekankan tidak adanya inter-vensi. Justru, kini, intervensi itu menjadi begitu penting agar pasar tidak bergerak liar. Nah, ini dilakukan terlambat, walaupun kesadaran ini sebetulnya sudah cukup lama ada. Menurut Pande, tidak ada kegagalan dalam sistem pasar bebas. Pasar, jelas dia, pada dasarnya tidak akan menyelesaikan segala
persoalan. Dan rekayasa finansial, yang muncul belakangan ini, perlu mendapat perhatian lebih ketat lagi. “Jadi, kalau dibilang pasar bebas itu gagal, di mana?” tanya dia. Saat ini, lanjut Pande, rekayasa finansial itu di luar kontrol. “Di mana perkembangan derivatif daripada kredit berkembang sedemikian cepat sehingga berada di luar kontrol otoritas monoter,” ungkap dia. Salah satu penyebab Amerika mengalami krisis, ujar Pande, terkait dengan pola gaya hidup. Sekarang, kemampuan saving rate-nya (tingkat tabungan) lebih kecil dari investment rate (tingkat investasi). Dan itu berdasarkan triple deficit di mana terjadi defisit neraca perdagangan, neraca pembayaran dan anggaran.
 
Namun demikian, dunia masih tetap percaya kepada Amerika. Bisa dikatakan, lanjut Pande, masyarakat Amerika kini “lebih besar pasak daripada tiang”. Ada anggapan bahwa Indonesia itu boros. Padahal sebaliknya, penduduk Indonesia, dari 100% pendapatannya, yang ditabung 24%. Sedangkan, Amerika hanya 15% saja dari pendapatannya ditabung. Sedangkan, 20% dari pendapatannya dimasukkan dalam investasi. Tak heran kalau di Amerika itu mereka hidup dengan hutang dan menutupinya dengan defisit. Di Amerika, papar Pande, pasar uang lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Di Indonesia kebanyakan “penjudi”. “Cuma salah satu persoalannya adalah masyarakat di sana semakin konsumtif. Itulah sulit dibayangkan, pada level di mana orang tidak punya pendapatan dan pekerjaan, diberikan kredit rumah. Ya, jelas saja mereka tidak mampu bayar,” kata dia. Gelembung finansial Pada awal Januari 2008, ekonom Econit, Rizal Ramli, pernah memprediksikan bahwa tahun ini sebagai The Year of The Bubbles.
 
Gelembung tersebut telah terjadi di Indonesia, terutama di sektor finansial termasuk bursa dan kredit konsumen. “Dan gelembung ini bisa meledak pada tahun 2008, alasannya kemungkinan Amerika kan mengalami resesi, yang disebabkan oleh triple deficit. Yakni, defisit anggaran, perdagangan dan kapital. Se-waktu-waktu hal tersebut dapat berimbas dan meledak di Indonesia,” kata dia. Efek krisis tersebut terhadap Indonesia, lanjut Rizal, berpengaruh terhadap eks-por komoditi terutama daerah-daerah luar Jawa. “Dam-paknya sudah terasa dengan anjloknya permintaan sekitar 50-60 persen. Sementara dampak terhadap rakyat biasa baru akan terasa pada kuartal kedua tahun depan. Dan ini akan berlanjut hingga 2011,” paparnya. Sepuluh arahan Presiden dalam rangka menangani krisis ini, menurut Rizal, kualitasnya tidak memadai. Sebab isinya hanya imbauan, bukan policy (kebijakan).
 
Dia mencon-tohkan anjuran untuk meningkatkan sektor riil yang selama empat tahun saja tidak berbuat apa-apa. Pun, semestinya, pemerintah melindungi industri padat karya dengan tarif bea masuk produk impor yang tinggi. Sehingga produk luar tidak berkeliaran bebas di Indonesia. “Namun ideologi kabinet sekarang tidak mem-percayainya karena mereka lebih percaya pasar bebas,” tegas dia. Dalam menangani dampak krisis ini, Rizal meminta pemerintah harus jujur. Pertama, di mekanisme perdagangan. Kini, harga komiditi sedang turun, sehingga akan mengurangi ekspor. Hal itu sudah terjadi sejak kuartal I. Current account-nya sudah defisit, bukan surplus, namun pemerintah mengaku tidak terjadi apa-apa. “Bila pemerintah tidak jujur, mereka tidak akan percaya. Optimis memang boleh, tetapi harus berdasarkan fakta dan policy. Sehingga kondisi yang buruk bisa berubah menjadi baik,” kata dia. Kedua, lanjut Rizal, pada mekanisme finansial. Keadaan seperti ini menyebabkan kesulitan likuiditas di seluruh dunia. Hal ini bisa memicu berbagai masalah. “Apalagi, jika pemerintah menam-bahnya dengan kebijakan uang ketat. Sebab kebanyakan rakyat mengonsumsi dengan cara kredit, seperti membeli produk elek-tronik, kendaraan, dan rumah.
 
Bila Gubernur BI Boediono mengikuti saran IMF dengan menaikkan tingkat suku bunga, maka bisa terjadi sub-prime di Indonesia,” ungkap dia. Keadaan krisis seperti ini, papar Rizal, akan berlangsung tiga hingga empat tahun mendatang, mana-kala cara penganannya seperti ini. Mengutip dari tulisan majalah Time, beberapa minggu lalu, dikatakan, “Indonesia is the sleeping giant”. Jadi, negara ini merupakan raksasa yang sedang tidur selama ini, terutama di sektor ekonomi. Padahal, negara ini memiliki potensi menjadi negara besar di Asia. ? Ambarita

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.299.577 Hit: 1.857.322 Since: 14.11.05 | 0.8683 sec | TOP
Online Support :