“Dan apabila kamu mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang, janganlah kamu gelisah. Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan. Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.” (Markus 13: 7-8).
Peristiwa-peristiwa seperti yang tertera dalam firman Tuhan di atas, yakni perang, gempa bumi dan kelaparan, adalah kejadian-kejadian yang kerap terjadi di muka bumi ini. Tidak sedikit juga, kemudian, yang mengaitkan peristiwa-peristiwa itu bahwa tanda-tanda akhir jaman sudah dekat.
Lalu bagaimana pula dengan krisis ekonomi dengan peristiwa krisis ekonomi global yang hingga kini belum terselesaikan? Apakah krisis yang bermula dari Amerika ini juga bagian dari tanda-tanda akhir jaman?
Berkenaan krisis ini, Pdt Patti Ginting berpendapat bahwa krisis ini diperkenankan Tuhan. Mengapa? “Supaya manusia mengerti bahwa di dunia ini tidak ada jaminan apa pun. Hanya dalam Tuhan ada jaminan,” kata dia.
Krisis ekonomi juga disebabkan oleh para pelaku pasar saham. Ketamakan dan “gambling” atau “berjudi” sudah tak asing lagi di seluruh bursa saham di dunia. Melihat kondisi seperti itu, Pdt. Patti menganjurkan kepada anak-anak Tuhan, khusus para jemaat di gerejanya, untuk tidak bermain saham. Kalau menabung, itu masih baik. “Sebab orang yang bermain saham itu bisa kecanduan. Di mana dia akhirnya terikat uang, waktu dan pola pikir. Ke mana pun dia pergi, ke situ terus pikirannya itu. Waktu mengikuti kebaktian pun sebentar-sebentar dia cek sahamnya. Itulah maka dikatakan bahwa di mana hartamu berada, di situlah hatimu berada,” ungkap dia.
Kecuali, ujar Pdt. Patti, jika si pemain saham tersebut memang memiliki keahlian di situ. Coba saja tengok, berapa banyak orang yang menitipkan uangnya ke satu perusahaan sekuritas yang tiba-tiba mengalami kerugian. Pun, jika untung, uang yang didapat bukan hasil kerjanya. Banyak gambling-nya, tidak ada jaminan apa-apa. sebentar bisa lenyap sebentar bisa kaya. “Pada dasarnya saya berprinsip, seperti yang tertulis di Alkitab bahwa barangsiapa menabur maka dia akan menuai,” jelas dia.
Pdt. Patti melanjutkan, “Melihat kondisi global sekarang di mana manusia bertambah jahat, materialistis, keadaan tambah sukar dan iklim cuaca yang labil, ini menandakan bahwa akhir jaman semakin dekat. Cuma waktunya kapan kita tidak tahu. Ini menunjukkan bahwa keadaan dunia ini makin parah,” papar dia. Tapi di saat kondisi parah seperti ini pun, ujar Pdt. Patti, kuasa dan mukjizat Tuhan begitu nyata. Orang-orang bertobat pun luar biasa. “Memang di akhir jaman pun kuasa Tuhan makin nyata,” tandanya.
Tak berdasar
Sementara itu, Pdt. Yoshua Lie berpandangan bahwa krisis ekonomi yang melanda dunia belakangan ini, tidak serta merta dikaitkan dengan akhir jaman. “Atas dasar apa kita mengaitkan peristiwa itu,” kata dia. Krisis ekonomi pada tahun 1929, juga dirasakan oleh orang Amerika sebagai sesuatu yang dahsyat.
Tak bisa dimungkiri, lanjut Pdt. Yoshua, seringkali ada saja yang mengaitkan peristiwa akhir jaman itu dengan peristiwa yang lain, dengan mengutip dari ayat-ayat di Alkitab. Namun, apa pun dalam hidup manusia, baik pergumulan manusia menjadi suatu peristiwa, itu tidak pernah final. Yang bisa membuat final adalah Tuhan Yesus sendiri.
Di satu pihak, jelas Pdt. Yoshua, akhir jaman itu bisa dijadikan suatu pengharapan, ketika manusia sudah buntu karena banyaknya masalah. Justru, sebagai orang yang percaya akan datangnya hari final Tuhan, semestinya kita jangan terpaku ke sana dulu. “Dalam kondisi krisis seperti ini, di samping kita berlutut kepada Tuhan dan berpikir jernih, seharusnya kita juga berpikir kontribusi apa yang bisa diberikan menangani krisis ini,” kata dia.
Pdt. Yoshua juga tidak sepakat jika ada orang yang memutar-mutar duit atau bermain “judi” di bursa saham. “Cuma, bicara tentang saham, sistemnya sendiri memang kompleks. Jadi, tidak bisa dipukul rata. Sebab, saham-saham itu ada di wilayah yang masih bisa dipertanggungjawabkan dan bisa menjadi berkat, namun ada juga wilayah yang dijadikan seperti gambling tadi,” kata dia.
Etika Protestan
Kini, perekonomian dunia dikuasai oleh suatu sistem ekonomi yang dinamakan kapitalisme pasar bebas. Ada anggapan krisis ekonomi di Amerika, baru-baru ini, disebabkan sistem yang sulit dikontrol dan sepertinya sudah berjalan dengan logikanya sendiri. Merujuk dari tesis Weber, ada kalangan, kemudian, yang mengaitkan mentalitas Kristen dengan kapitalisme.
Menurut Ir. Herlianto, MTh, Weber di masanya berbicara mengenai kaitan mentalitas Kristen dengan kapitalisme. Namun banyak kritik ditujukan padanya karena ia berpikir terlalu linier satu arah seakan-akan protestantisme (tepatnya calvinisme) mengarah pada mentalisme kapitalis, yang dibedakan dengan gereja Katolik Roma yang bersifat tradisional. “Dalam hal ini, Weber mengabaikan bahwa proses sosiologis itu berjalan dua arah, bahkan tidak linier melainkan dinamika multidimensi yang saling mempengaruhi,” kata dia.
Bahwa ada kaitan antara agama dan ekonomi, lanjut Herlianto, jelas ada. Namun itu tidak berdiri sendiri sebagai duet karena berkaitan pula dengan budaya, sosial, peradaban, dan lainnya yang kompleks sekali. Pengamatan menunjukkan bahwa sebelum hadirnya Calvinism di abad ke-16, ‘spirit of capitalism’ itu sudah ada pada abad ke-14 di Vinisia dan Floresia dan pada abad ke-15 di Antwerpen. Di Belanda dan Inggris ‘spirit of capitalism’ sudah berkembang tanpa hubungan langsung dengan Calvinisme. Bahkan,
Italia juga mengalami spirit yang sama padahal beragama Katolik. Sedangkan Swiss yang menjadi palungan Calvinisme sudah mengalami bom ekonomi sebelum John Calvin lahir. “Dari beberapa kelemahan itu maka sebenarnya tesis Weber, sekalipun merupakan karya klasik, belum membuktikan adanya hubungan langsung ‘Calvinisme’ dengan ‘Kapitalisme’. Apalagi kalau ini diperluas menjadi kaitan ‘Kristen’ dengan ‘Kapitalisme’,” ungkap dia.
? Ambarita