MAKNA NATAL SEJATI

Author : Pdt Robert R Siahaan | Wed, 4 February 2015 - 10:46 | View : 1418
makna-natal-sejati.jpg

Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div

Penulis Melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia Kebayoran Baru.
www.robertsiahaan.com

Setiap bulan Desember orang-orang Kristen di seluruh dunia merayakan Natal dengan berbagai acara serta sajian-sajian makanan dan dekorasi-dekorasi Natal yang indah di rumah-rumah atau di gereja. Selain itu banyak orang Kristen juga sering menggunakan moment natal untuk bertemu dan berkumpul dengan sanak saudara dan keluarga, karena sepanjang tahun jarang bertemu dan juga karena tinggal di kota yang berbeda-beda. Apakah makna natal sejati terletak pada perayaan-perayaan, dekorasi-dekorasi natal ang indah serta reuni-reuni keluarga? Tentu saja makna Natal sesungguhnya tidak terletak pada semua aktivitas natal serta pernak perniknya, semua itu hanya gambaran dan ekspresi dari sukacita natal yang ada di dalam diri orang-orang yang telah menerima keajaiban Natal itu di dalam dirinya. Karena banyak juga orang Kristen yang merayakan Natal, namun sama sekali tidak memahami dan tidak mengalami makna sejati Natal di dalam dirinya. Bahkan sebagian orang Kristen merasa jenuh dan apatis terhadap perayaan Natal dan tidak sedikit yang mengalami kesendirian, keterasingan serta kesedihan di saat sebagian besar orang Kristen sedang merayakan Natal dengan meriah. Mengapa harus ada Natal? Apa makna Natal yang sejati? Mengapa Kristus harus datang ke dunia? Apa faktor terpenting di dalam Natal serta perayaan-perayaannya? Jika kita mengurutkan persitiwa sejarah di dalam Alkitab dimana manusia diciptakan dengan tujuan kekal yang Allah tetapkan di dalamnya, maka kita melihat bahwa sejak awal manusia diciptakan manusia tidak sanggup mentaati perintah Allah dan tidak sanggup mencapai tujuan yang Allah tetapkan. Manusia jatuh di dalam ketidaktaatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah, dan ganjaran yang ditetapkan Allah bagi pelanggaran itu adalah kematian yang kekal (Kej. 2:16-17; Kej. 3; Roma 3:23,26). Pengaruh dari kejatuhan manusia dalam dosa (sinful nature) mengakibatkan banyak pertikaian, keserakahan, penyembah berhala, kesombongan, kepentingan diri sendiri, banyak muncul kejahatan, korupsi, pembunuhan, dsb.  Selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa,  tindakan dan motivasi hidup manusia tidak pernah terlepas dari pengaruh dosa (polluted), sehingga banyak sekali timbul masalah-masalah kejahatan, kekacauan, keputusasaan.  Dampak terbesar kejatuhan manusia dalam dosa adalah kepastian tentang kematian kekal, dan semua manusia mengalami ketidak pastian mengenai kehidupan setelah realita kematian (Mazmur 49:8). Kematian rohani dan kematian kekal adalah konsekuesi dari pemberontakan manusia terhadap perintah Allah dan konsekuensi dari keterpisahan kekal dengan Allah. Tidak ada jaminan dan kepastian hidup kekal di dalam diri manusia dengan segala kemajuan teknologi dan informasi saat ini. Semua manusia akan menghadapi realita kematian dan ketidak berdayaannya mengahapi kematian itu, dan tidak ada agama apa pun di dunia ini yang dapat memastikan kehidupan sesudah kematian itu. Dengan kata lain semua manusia secara pasrah menerima atau menolak, akan menghadapi fakta dan nasib dalam kematian yang kekal sebagai hukuman Allah. Alkitab menegaskan bahwa kematian itu bersifat kekal, dan kematian itu bukan sekedar kematian, setiap manusia berdosa akan masuk ke dalam kematian kekal di dalam neraka (Matius 5:22, 23:33). Semenjak manusia jatuh dalam dosa, Alkitab menyatakan bahwa manusia sedang berjalan dalam kegelapan (Matius 22:13) dan sedang meluncur menuju kebinasaan: “Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan…Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.” (Mazmur 49: 13,15). Itulah sebabnya Allah merencakan keselamatan bagi manusia, dan tidak ada jalan lain dan tidak ada cara lain bagi Allah untuk  menyelamatkan umat manusia dari hukuman kekal selain dari Allah sendiri menjadi manusia. Alkitab juga menegaskan bahwa nyawa manusia harus dibayar dengan nyawa manusia, dan Allah menuntut penebusan yan sempurna, yaitu manusia sempurna yang tidak berdosa.
Di dunia ini tidak ada satu pun manusia yang tidak berdosa, tidak ada satu pun manusia yang sempurna, semua berdosa dan semua akan binasa, sementara penebusan menuntut korban manusia dan penumpahan darah yang sempurna (baca. Imamat 17:11; Ibrani 9:22). Nabi Yesaya menubuatkan kedatangan Yesus Kristus sebagai terang yang besar yang mengalahkan kegelapan yang telah menguasai manusia ribuan tahun: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yesaya 9:1). Injil Yohanes menegaskan lagi: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.” (Yohanes 1:9-10). Kedatangan Yesus Kristus sebagai juruselamat manusia yang lahir menjadi manusia memberikan pengharapan dan keselamatan menjadi berita yang luar biasa di malam natal. Malaikat Tuhan diutus kepada para gembala dan memberitakan kabar besar itu: “Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11).

Makna Natal Sejati
Makna sejati natal adalah memperoleh kasih Allah yang sangat besar, yang diberikan kepada manusia dengan gratis sebagai hadiah dan bukan upah karena melakukan sesuatu. Tidak ada suatu perbuatan yang dapat dikerjakan oleh manusia sehingga Allah harus mengupahnya dengan keselamatan, karena kehidupan manusia dengan segala potensinya pada dirinya sendiri adalah milik Allah dan dianugerahkan oleh Allah. Penebusan dan keselamatan yang kita terima adalah semata-mata anugerah Allah dan sepenuhnya adalah inisiatif dan perbuatan Allah. Tidak ada kontribusi apa pun dari diri manusia sehingga ia diberi anugerah dan mendapatkan keselamatan di dalam dirinya. Yesus Kristus datang ke dunia untuk membayar tebusan kepada Allah Bapa di surga atas semua kesalahan-kesalahan dan dosa manusia kepada Allah.
Seorang Kristen yang telah mengalami pertemuan dengan Allah yang sejati, tidak akan meletakkan atau mengukur nilai natal yang sejati dengan segala materi, kedudukan, pendidikan serta status dan identitas lainnya. Natal sejati adalah lahirnya Allah yang sejati, sang jalan kehidupan dan kebenaran di dalam hidup seorang Kristen. Semua status sosial, pendidikan, ekonomi atau apapun prestasi dan semua kesuksesan Anda, sama sekali tidak menjadi dasar sukacita natal. Kelahiran Kristus serta penebusan yang dibayarkan-Nya untuk pengampunan dosa-dosa kita sehingga kita memiliki kehidupan kekal adalah satu-satunya alasan terpenting dan dasar sukacita natal sejati dalam diri orang Kristen. Yang terbaik, terindah, termahal, dan bersifat kekal sudah dianugerhkan Allah kepada setiap kita, seingga tidak ada lagi hal apa pun di dunia ini yang dapat menggatikan sukacita natal sejati. Lihatlah Natal dengan cara pandang yang berbeda, bersukacitalah karena Kristus telah lahir ke dunia, dan terutama telah lahir di dalam hidup saudara. Sekalipun perayaan-perayaan natal di bulan Desember akan berlalu, namun bagi orang Kristen sejati, setiap hari adalah saat untuk bersyukur dan merayakan natal Kristus di dalam hidupnya. Setiap hari dapat dimaknai sebagai natal sejati, karena anugerah itu bersifat mutlak, sempurna dan kekal. Harta yang tidak akan dapat berkarat dan tidak akan pernah hilang.
Pemaknaan natal sejati ditunjukkan melalui seluruh totalitas hidup dalam setiap detail-detial pikiran, perkataan dan perbuatan yang dipersembahkan bagi kemuliaan Allah di tempat maha tinggi. Agar melalui semua keberadaannya orang Kristen juga senantiasa menjadi berkat bagi sesamanya, dalam keluarga, di tempat bekerja dan dalam masyarakat. Perayaan Natal sejati adalah merayakan kasih Allah yang tidak terbatas yang telah diberikan kepada kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:16-17).
Selamat merayakan kasih Allah yang terbesar dalam hidup Anda. Gloria in excelsis Deo.

Komentar

Top