Hartono Sugianto: Membangun Generasi Yang Takut Akan Tuhan

Author : Nick Irwan | Wed, 4 February 2015 - 10:49 | View : 1234
1.jpg

Program televisi dewasa ini dinilai berbagai kalangan praktisi media, banyak mengandung konten yang negatif, baik itu untuk disaksikan orang dewasa maupun anak-anak. Hal seperti inilah yang membuat hak publik untuk mendapatkan tayangan yang bermutu dan bernilai edukasi semakin tersisih digerus oleh media penyiaran yang seharusnya memberikan tayangan yang selain bersifat menghibur namun juga harus mendidik. Acara talkshow maupun sinetron yang hanya menjadi hiburan semata, malah mempertontonkan keburukan verbal, bully bahan candaan, menyerempet pornografi, asusila dan tayangan lain yang tidak sesuai dengan kultur dari budaya bangsa Indonesia yang mengedepankan kesopanan dan etika.

Profesional muda yang berkiprah di dunia media penyiaran, Hartono Sugianto saat ditemui Reformata di sela-sela syuting sebuah program acara di Cikarang, Jawa Barat (13/11/2014), mengatakan bahwa, “Ekosistem di negara kita ini, sayangnya masih tidak begitu mendukung  untuk memunculkan konten-konten (tayangan teve) yang berkualitas dan positif”.
Semua masih tergantung dengan sistem rating dan itu menjadi monopoli karena hanya ada satu lembaga rating yaitu Nielsen. Ketika Nielsen melakukan survei mengenai itu, tanggapan masyarakat adalah tidak suka dengan sinetron namun ketika berbicara rating hal itu berbeda, sinetron masih mendapat rating yang bagus”.

Hartono saat ini berkarir sebagai Chief Operating Officer (COO) di perusahaan media Cahaya Bagi Negeri (CBN).Menurutnya, komitmen dari para produser sebagai ‘palang pintu’ dalam membuat tayangan harus berkomitmen dalam menyajikan konten yang bersifat mendidik dan mengedepankan nilai-nilai budaya Indonesia.

“Dia (produser) bisa mengemas secara entertaining tapi bernilai, bukan hanya membuat orang tertawa, namun juga harus dapat memberikan edukasi yang positif dengan mengajarkan orang untuk menjalankan gaya hidup yang tidak negative thinking”, ujarnya.  Lebih lanjut Hartono yang berkeinginan ke depan untuk membuat komunitas parenting, mengatakan saat ini sudah ada beberapa stasiun televisi yang mulai menayangkan program-program yang mempunyai nilai edukasi yang baik untuk disaksikan khalayak ramai. Stasiun televisi tersebut menayangkan program-program yang aman untuk disaksikan anak-anak. Seseorang yang dikatakan sebagai anak menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Fokus perhatian dari para praktisi media terhadap perilaku anak, dikarenakan banyaknya perilaku yang menyimpang di kalangan remaja, di usia tertentu anak rentan akan perubahan perilaku dan cepat terpengaruh dengan tayangan televisi. Evaluasi tayangan di televisi yang dirilis oleh Komisi Penyiaran Indonesia banyak yang tidak baik. Ada sekitar 286 sisi pelanggaran dalam pelbagai tayangan teve yang ditonton oleh sekitar 250 juta masyarakat Indonesia.

Awal mulanya Hartono bercita-cita menjadi seorang dokter, namun karena ketidaksukaannya terhadap pelajaran hafalan maka dia memutuskan untuk mengambil studi psikologi. Garis hidup membawanya ke dunia penyiaran. Setelah berdiskusi dengan orang-orang terdekat dan dengan terlebih dulu memohon petunjuk Tuhan, akhirnya Hartono memutuskan mengambil studi ke luar negeri di bidang brodcasting. Bermula dari posisi sebagai Segment Producer & Creative Supervisor di CBN Indonesia Januari 2002, hingga mencapai posisi saat ini sebagai Chief Operating Officer.

Dengan adanya bonus demografi di Indonesia, Hartono berharap dapat berpartisipasi untuk membangun generasi penerus yang berkualitas, minimal yang dapat memberikan sumbangsih dalam menanamkan nilai-nilai positif bagi generasi muda yang takut akan Tuhan, generasi yang memiliki integritas dan karakter Kristus. 
Nick Irwan 

Komentar

Top