Karya Penyandang Tunanetra Bagi Sesama

Author : Ronald | Mon, 18 April 2016 - 08:25 | View : 705

Reformata.com- Hidup dengan kondisi fisik yang penuh keterbatasan bukan berarti membatasi seseorang untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Semangat itulah yang ditunjukan oleh Ritson Manyoyo, seorang hamba Tuhan yang mengalami kebutaan sejak tahun 1999. Sebuah titik balik terjadi di dalam dirinya saat ia memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan dan memulai pelayanan anak-anak penyandang tunanetra melalui yayasan Elsafan, yang didirikannya pada tahun 2005. Kisah yang telah menginspirasi banyak orang ini dituturkan lewat sebuah buku berjudul ‘Elsafan Ritson Manyoyo’, dan diluncurkan bertepatan dengan tahun ke-10 usia pelayanan Elsafan.
“Saya hanya punya impian agar anak-anak tunanetra itu tidak dikasihani,” tutur Ritson disela acara peluncuran bukunya yang mengusung tema ‘Melihat Apa yang Tidak Bisa Dilihat Oleh Mata Orang Biasa’, yang digelar di Ballroom Hotel Santika, Kelapa Gading, pada Sabtu malam (16/4).
Dalam sambutannya Ritson juga menuturkan bahwa mengacu pada data World Health Organization (WHO), penyandang disabilitas di Indonesia mencapai angka 24 juta jiwa, dan penyandang tunanetra di Indonesia sendiri berada di angka 3,6 juta jiwa, atau setara dengan penduduk Singapura. Keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus itulah yang mengetuk pintu hatinya untuk merubah paradigma ‘Ketergantungan’ yang selama ini diberikan oleh masyarakat kepada para penyandang tunanetra. Menurut Ritson satu-satunya cara untuk bisa lepas dari ketergantungan adalah membekali dengan pendidikan dan keterampilan  sehingga para anak  berkebutuhan khusus bisa hidup mandiri dikemudian hari.
“Saat ini kami sedang mempersiapkan training center. Di Poso sudah ada lahan sepuluh hektar dimulai dengan perkebunan cengkeh. Saya hanya mengharapkan kalau penyandang tunanetra sulit mendapatkan pekerjaan, kami akan melatih mereka disana supaya orang buta bisa pelihara lele, kambing, pembibitan dan berbagai macam hal, sehingga mereka bisa hidup dari diri mereka sendiri tanpa harus meminta-minta dan menyusahkan orang lain. Ini yang akan kami (Elsafan) kerjakan kedepan untuk memberikan warna bagi bangsa ini,” tutur Ritson.
Dikesempatan yang sama Presiden Direktur PT. Hagajaya Kemasindo Sarana (PT. HKS) yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina yayasan Elsafan, Handoko Supranoto, berharap dengan peluncuran buku ‘Elsafan Ritson Manyonyo’ dapat menginspirasi lebih banyak orang yang secara fisik justru lebih ‘Sempurna’.
“Para tunanetra di yayasan ini bukan minta dikasihani, bukan. Tetapi mereka minta disupport dan diberikan kesempatan untuk berkarya seperti bapak dan ibu yang secara fisik lebih sempurna,” kata Handoko yang tengah bersukacita karena momen peluncuran buku tersebut bertepatan dengan perayaan hari ulang tahunnya yang ke-58.
Penampilan Adon Basejam membawakan lagu ‘Jangan Menyerah’ karya D’masiv Band dan unjuk kebolehan bermusik yang dipersembahkan oleh Elsafan Children Voice ikut memeriahkan acara peluncuran buku yang diselenggarakan oleh PT. HKS itu. Diantara para tetamu, hadir pula Asisten Kesejahteraan Rakyat Bidang Pendidikan dan Sosial DKI Jakarta H. Fatahillah, yang mewakili Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Sebagai bentuk dukungan terhadap visi dan misi, Lions Club Jayakarta Prima dan Lions Club Jakarta Timur turut memberikan beasiswa kepada lima belas siswa berprestasi di  yayasan Elsafan. Acara peluncuran buku itu ditutup dengan pemotongan kue ulang tahun dari Handoko Supranoto dan doa yang dipimpin oleh pendiri Yayasan Misi Kita Bersama (YAMIKA), Pdt. Bigman Sirait.
Buku ‘Elsafan Ritson Manyonyo’ ditulis oleh Laurence Suryanata yang mengangkat kisah dan pergumulan hidup dari Ritson Manyonyo serta visi dan misinya tentang kelangsungan hidup dan masa depan dari anak-anak penyandang tunanetra. Saat ini Elsafan fokus melayani 42 anak-anak penyandang tunanetra dari latarbelakang suku dan agama yang beragam menggunakan sistem pendidikan dan keterampilan khusus seperti baca-tulis braille, orientasi mobilitas, pendidikan ‘komputer berbicara’ untuk tunanetra, pelatihan dibidang pertanian dan peternakan, maupun public speaking.

Komentar

Top