Genit-Genit Gaduh

Author : Nick Irwan | Fri, 1 April 2016 - 10:45 | View : 681
religion1.png

Jika agama dibawa-bawa dalam politik maka masalah itu akhirnya tak akan selesai. "Kalau partai itu berlandaskan agama itu tak ada salahnya, tetapi hendaknya azas agama tak dibawa dalam praktek politik praktis," demikian argumentasi yang pernah disampaikan oleh Almarhum K.H. Abdulrahman Wahid (Gus Dur) dalam satu kesempatan di Wonosobo. Isu agama kerap kali terseret ke dalam arus dinamika politik Tanah Air, dikotomi pemisahan antara mayoritas dan minoritas seakan tak asing lagi didengar. Persoalan fanatisme umat yang berlebihan merupakan celah bagi para provokator untuk menciptakan keadaan yang dia inginkan, yang pada akhirnya berakhir pada kebijakan yang beraroma politis dan menguntungkan pihak tertentu sehingga ada pihak yang tersakiti oleh kebijakan tersebut. Demi politik pencitraan, persoalan GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia hingga saat ini terlunta-lunta, padahal dasar hukum yang dikeluarkan Mahkamah Agung dan rekomendasi Ombudsman sudah jelas dan berulang-ulang disuarakan media, bukan hanya Reformata, namun hampir semua media sudah pernah menyinggung soal hal itu, tapi birokrasi yang dihuni para politikus seakan tuli dan buta. Banyak pihak sependapat bahwa kisruh maupun kerusuhan berbau agama sebenarnya merupakan konflik kepentingan dari elite-elite tertentu untuk mencapai keuntungan pribadi maupun kelompok, dengan kata lain politisasi agama sudah sering terjadi di republik ini. Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI) mengatakan bahwa kisruh agama di Indonesia sebenarnya persoalan politik (dikatakan pada saat bertemu awak media di Grha PGI, Salemba, Jakarta Pusat, 15/12). Kekeliruan terkait politisasi agama itu rasanya tidak adil jika hanya dialamatkan kepada para politisi berotak kotor saja namun, harus diakui juga ada ‘kegenitan’ dari kelompok agamawan untuk ‘nimbrung’ (ikut serta) dalam memuluskan kepentingan elite politik itu sendiri. Masih ingatkah ketika masa kampanye pemilihan presiden 2014 lalu, ada sekelompok pendeta ikut-ikutan mendukung calon tertentu? Parahnya lagi ada pendeta yang seakan mendahului Tuhan dalam menentukan kemenangan salah satu calon itu dalam sebuah ibadah pengucapan syukur yang diadakan salah satu partai politik pengusung. Hmmm...!! nampaknya pak pendeta itu terlalu genit untuk ikutan dalam praktek politik praktis hingga dia lupa bahwa Tuhan adalah penentu segalanya. Adapula kelakuan pendeta yang meninggalkan kependetaannya demi menjadi politisi, untuk menuju parlemen yang akhirnya ‘jual diri’ dalam gereja dengan selembaran janji yang merupakan ciri para politisi (meminjam kata-kata Prof. J. E Sahetapy) mulut berbau ‘amis’. 
Sejarah kekristenan telah membuktikan pada kita bahwa semakin dekat gereja secara institusi dengan politik pemerintahan maka akan semakin bobrok kondisi keagamaan itu sendiri. Usaha-usaha untuk mebentuk negara Kristen telah dilakukan dan terbukti gagal. Calvin mencoba menciptakan sebuah kota yang ilahi di Geneva dan tidak berhasil. Demikian juga pada abad ke-4 ketika Konstantinus bertobat dan menyatukan gereja dengan negara, pada akhirnya itu pun mengalami kegagalan baik di dalam sisi pemerintah maupun gereja itu sendiri. Gereja pada akhirnya terlibat secara aktif dalam tindak kekerasan yang imoral dan melawan ajaran dari agamanya sendiri akibat keikut sertaan gereja dalam politik praktis. Indonesia merupakan salah satu negara yang bisa dikategorikan religius, fanatisme buta dan tidak adanya pembatas yang secara jelas memisahkan fungsi tujuan dari agama dan politik seakan memicu conflict of interest  dari seseorang atau kelompok tertentu, guna membuat gaduh umat yang memang ingin aman dan damai beribadah di Indonesia yang katanya bersemboyan Bhineka Tunggal Ika. Kebijakan birokrasi yang hampir selalu berpihak pada kelompok tertentu itu hanya legalitas dari politik pencitraan guna mempertahankan kekuasaan. Jika sudah seperti ini maka tidak heran sentimen agama di tengah-tengah umat merebak, jika hal ini dibiarkan terus menerus maka bisa saja mempengaruhi sentimen kedaerahan. Jika para tokoh agama hanya sibuk mengurusi urusan negara maka semakin kisruhlah umat itu. Mengetahui keinginan umat beragama itu sebenarnya sederhana, umat hanya ingin beribadah secara damai dan merdeka dalam berkeyakinan. Harapan harus terus dipelihara, pengharapan akan Tuhan harus tetap diyakini kebenarannya, oleh karena itu di Tahun 2016 ini, mari kita satukan harapan kita bersama untuk terus menciptakan suasana kerukunan umat beragama di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dan dari Minggas hingga Rote. Cara kita adalah Ora et Labora. Mari jadi terang bagi bangsa dan hindari perpecahan. 

nickirwan1@gmail.com

 

Komentar

Top