Kreatifitas Bebas Bukan Kreatifitas Bablas

Author : Nick Irwan | Fri, 1 April 2016 - 12:35 | View : 472
creativitystring.jpg

Pecinta musik heavy metal di era 90an pasti mengenal grup band kontroversial asal Amerika, Marilyn Manson. Ya, grup band itu dibentuk pada tahun 1989 oleh pria bernama Brian Hugh Warner. Pria yang sebelumnya berprofesi sebagai wartawan musik itu memutuskan alih profesi sebagai musisi dengan genre rock alternatif. Banyak band rock di era itu seperti Alice Cooper menyebut Marilyn Manson identik dengan seks, obat-obatan dan setanism. Lirik musik Marilyn Manson oleh sebagian pemuda pecinta musik Rock, dianggap mewakili masyarakat banyak yang kecewa dengan keadaan dan menggambarkan kehidupan nyata yang terjadi disekeliling mereka. The Dope Show, dan The Beautiful People, merupakan judul lagu yang melambungkan nama band itu. Marilyn Manson memproklamirkan bahwa mereka adalah anti Kristus. Sikap anti Kristus itu ditunjukan mereka dengan menyobek Alkitab pada saat konser, sikap itu mendapat pujian dari pendiri Gereja Setan Anton LaVey, bahkan LaVey menobatkan Marilyn Manson sebagai pendeta Gereja Setan saat band itu memutuskan untuk masuk menjadi jemaat Gereja Setan. Keputusan Marilyn Manson yang bergabung dengan Gereja Setan membuat band itu semakin terkenal dan mempunyai banyak penggemar terutama kaum muda. Gelombang protes dari laum religius datang ketika band tersebut meluncurkan album kontroversial berudul Antichrist Superstar.  

Ada kemiripan cerita antara Marilyn Manson dan pendiri Gereja Setan, Anton LaVey. Mereka berdua kecewa dengan keadaan sekitar, terutama perilaku dari orang-orang yang mengaku beragama namun masih suka dengan hidup yang dianggap tidak selaras dengan perintah agama. Menjadi hamba uang, saling menyakiti, ketidak pedulian terhadap sesama hingga menyebabkan pertikaian dan masih banyak lagi sikap hidup yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Perilaku itu dianggap sebagai kemunafikan manusia baik oleh Anton LaVey maupun Marilyn Manson. Kendati demikian kontroversi yang dibuat oleh kedua tokoh tersebut namun, pegikut mereka terutama dari kalangan anak muda cukup banyak, hal ini dikarenakan karena apa yang ditawarkan atau di contohkan oleh kedua figur tersebut sangatlah mengoda. Kebebasan, ya kebebasan tanpa rambu yang harus dipatuhi oleh para pengemar maupun pengikutnya, hal ini sangat sesuai dengan jiwa kaum muda yang sedang mencari jati diri untuk menentukan arah masa depan. Ketidakpahaman akan kebesaran Tuhan ditambah pula dengan salah ‘treatment’ dari gereja untuk membina kaum muda, kian mendorong kaum muda itu sendiri untuk menuju jurang dosa. Banyak kegiatan positif yang coba dirancang, namun tidak sedikit tindakan positif itu menjadi sia sia dan dianggap monoton, cenderung tidak kreatif hingga membuat kaum muda merasa bosan akan kegiatan tersebut. Apalagi kegiatan positif yang monoton dan kurang kreatif itu ditambah dengan unsur pemaksaan, sudah tentu akan bertentangan dengan jiwa muda yang penuh kreatifitas tanpa pengekangan, kaum muda bukannya menolak untuk dilarang, mereka hanya perlu dibimbing dan diarahkan, bukan ‘dipaku’ pada satu aturan yang baku. Banyak komunitas kaum muda gereja yang memang melakukan pelayanan bukan karena ada unsur-unsur seperti yang disebut di atas itu merupakan bukti bahwa arahan dan bimbingan tersebut tepat sasaran dan tepat guna.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, bertambah 320 ribu orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 7,24 juta jiwa. Keadaan itu tentu mempengaruhi daya beli kebutuhan sehari-hari, masa seperti ini bisa dikatakan masa sukar, masa dimana banyak godaan dan tantangan bagi kehidupan orang Kristen. Keadaan masa sukar akan kian parah jika gereja tidak mengambil peranan guna menjawab kebutuhan bukan saja soal rohani namun juga soal jasmani jemaat, hal ini dapat memicu tindakan yang melenceng dari ajaran Firman Tuhan,.Iblis dapat dengan mudah mengoda manusia untuk berbuat tindakan yang berlawanan dengan ajaran Tuhan, yang pada akhirnya manusia itu sendiri terperangkap dalam lumpur dosa. Hal ini diperparah lagi jika mereka yang menyebut ‘hamba Tuhan’ sibuk dengan aktifitas dan asik memikirkan diri sendiri. Firman Tuhan adalah jawaban dari masa sukar tersebut, berpeganglah teguh pada ajaran Tuhan jangan tergoda sesuatu yang manis. Persekutuan Kristen tidaklah menolak kreatifitas untuk membunuh kebosanan, namun kreatifitas tersebut tentunya harus sesuai dengan koridor dan tata cara bergereja yang baik yang sesuai dengan pedoman Alkitab dan hanya kepada Tuhan sajalah kita menyembah.
Nickirwan1@gmail.com 

Komentar

Top