DOT COM

Author : Nick Irwan | Fri, 1 April 2016 - 12:30 | View : 539
dot-com.jpg

Jakarta merupakan kota metropolitan yang identik dengan berbagai macam fasilitas yang memanjakan warganya. Tidak seperti kota-kota di wilayah Indonesia bagian Timur misalnya. Salah satu fasilitas yang dapat dinikmati warga Ibukota Jakarta adalah akses internet, tidak sedikit kafe-kafe maupun tempat umum lain menyediakan akses internet gratis lewat wi-fi. Tidak mengherankan juga jika popularitas gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) saat ini bisa bergaung hingga ujung Timur Indonesia. Hal itu tidak terlepas dari peranan media daring (online) yang dengan kecepatannya mampu memberi info ke pelosok Indonesia melalui akses jaringan internet. Dalam sehari, bisa ratusan berita yang disajikan ke pembaca mengenai aktifitas Ahok atau peristiwa yang terjadi di Jakarta.
Peranan media daring memang memegang peran penting namun, memang masih terdapat perdebatan soal model jurnalistik ala media daring yang model pemberitaannya sepotong-sepotong karena lebih memilih kecepatan, hanya media daring tertentu yang tetap mempertahankan kedalaman beritanya. Peranan media sosial seperti facebook dan twitter yang dikatakan sebagai new media juga memegang peranan penting di tengah masyarakat. Mobilisasi massa lewat sosial media yang bersinergi dengan pemberitaan dari medai daring juga mampu membuat pergerakan yang membuahkan hasil. Lihat saja ketika terjadi teror bom di Sarinah, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu. Hanya hitungan jam saja, hestek dengan tagar #KamiTidakTakut mampu mempengaruhi sudut pandang masyarakat dalam menilai suatu peristiwa bom dengan tenang. Ketenangan masyarakat mampu membuat kondisi Jakarta menjadi kondusif dalam hitungan jam saja karena tidak menyebabkan kepanikan warga, berbeda dengan teror yang terjadi di Paris, Perancis yang memakan waktu berhari-hari  untuk membuat  keadaan kota Paris kembali normal. Kepopuleran Ahok pun tidak terlepas dari peranan media daring dan media sosial. Ahok memanfaatkan media sosial untuk berinteraksi dengan warganya, yang kemudian disambut pemberitaan dari media daring.
Beberapa waktu lalu terjadi polemik perdebatan antara Taxi online dan Taxi konvensional  hingga terjadi aksi demonstrasi yang cenderung anarkis. Cara-cara konvensional yang malas berinovasi membuat publik pun memalingkan perhatian mereka ke sesuatu yang mudah dan terjangkau. Publik seakan dimanjakan dengan kemudahan online, hanya sekali tekan lewat aplikasi mobile semua tersedia. Begitu pula dengan media massa, publik tanpa harus mengeluarkan uang tunai untuk membaca berita. Walau demikian, pangsa pasar dari segala sesuatu yang berbau konvensional tetap ada. 
Dunia Kekristenan pun tidak terlepas dari peranan kemajuan teknologi. Dulu ketika ke gereja, masih banyak umat menenteng Alkitab di tangannya sekarang, karena Alkitab bisa dibaca lewat aplikasi maka hanya cukup membawa Handphone atau Tablet saja ke gereja dapat membaca Alkitab. Para pendeta pun seakan tidak mau ketinggalan dengan kemajuan teknologi tersebut. Perbedaan antara online dan konvensional mungkin hanya dicara menikmatinya saja, sebagai contoh untuk membaca berita di koran diperlukan waktu senggang, guna memahami isi berita yang dipaparkan jurnalis di koran itu. Jenis beritanya pun cenderung memiliki kedalaman dalam mengungkap fakta. Berbeda dengan cara membaca berita online, sambil berdiri di kereta pun masih oke saja. Begitu pula antara belanja ke mall dengan belanja online, di mall kita dapat memperhatikan detail bahan secara langsung serta mencocokan dengan ukuran tubuh kita, berbeda dengan belanja online terkadang kiriman yang datang tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi yang ditulis di websitenya. 
Selera, kebutuhan dan pilihan masing-masing orang tentu berbeda akan tetapi tentu kebanyakan orang akan memilih kualitas dari pilihanya itu. Ahok dianggap memiliki rekam jejaknya sendiri, mayoritas pemilih di DKI Jakarta merupakan masyarakat yang cerdas menurut salah satu pengamat politik. Kualitas Ahok dalam memimpin Jakarta tentu akan menghantarkan di ke tingkat yang lebih tinggi atas dorongan dan dukungan warganya. Begitu juga dengan media massa, kualitas penyajian sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan oleh oraganisasi pers terkait pemberitaan tentu akan mempunyai pembacanya sendiri. Menjamurnya media daring saat ini merupakan respon dari perkembangan teknologi yang dinikmati oleh masyarakat di Indonesia. Kualitas penyajian dengan standar jurnalistik seperti yang ada (pedoman media siber) menjadi modal bagi sebuah media massa yang akan dibentuk. Sedangkan cara konvensional, hanya  yang dapat berinovasilah yang akan menjawab perkembangan jaman namun penikmatnya masih tetap ada terutama bagi mereka yang berada di wilayah yang belum mampu memanfaatkan teknologi secara positif.

Komentar

Top