Kerohanian Tidak Mengkotak-kotak

Author : Harry Puspito | Mon, 2 May 2016 - 13:16 | View : 621
bipolar-mania-and-spirituality.jpg

Oleh: Harry Puspito

Dalam tulisan berikut akan dibahas menengenai apa yang oleh peneliti Gallup diukur sebagai bagian dari kerohanian seseorang. Kerohanian seseorang diukur dari perilaku-perilaku dan sikap-sikapnya dalam berbagai aspek kerohanian seperti Alkitab ungkapkan. Salah satu adalah seberapa jauh seseorang menghayati bahwa “Iman saya mempengaruhi setiap aspek hidup saya.” Di Amerika Serikat, hanya 40% orang Kristen yang menyetujui pernyataan ini. Artinya sebagaian besar (60%) mengganggap iman kekristenannya hanya berlaku dalam satu atau beberapa aspek tertentu dalam hidupnya. Sedangkan dalam aspek-aspek yang lain, iman kekristenannya tidak berlaku.

Alkitab jelas berbicara mengenai Allah Sang Pencipta, yang tertarik dan berkuasa atas segala hal, baik mengenai alam semesta ini maupun manusia. Ketika manusia yang diciptakan jatuh dalam dosa, Dia menyediakan jalan kembali kepada-Nya, melalui penebusan oleh Anak-Nya Yesus Kristus. Keselamatan adalah anugerah, tidak bisa diusahakan manusia, tapi pemberian Allah (Efesus 2:8, 9) yang diterima manusia dengan iman. Ketika orang beriman kepada Yesus, maka dia berhadapan dengan Juruselamat, yang adalah Tuhan dan Tuan atas hidupnya. Oleh karena itu ketika seseorang beriman kepada Yesus maka Tuhan menuntut menjadi Tuhan atas segala aspek hidupnya. Jika ada seseorang menolak Dia dalam satu bagian hidupnya saja, maka sebenarnya dia menolak Tuhan. Dengan kata lain, bagi Tuhan ‘semua atau tidak sama sekali.’

Bagi manusia modern pertanyaannya, dalam area apa kita mempercayakan kepada Tuhan? Dalam dunia yang sudah dirasuk oleh paham sekularisme ini, masalah iman kepada Tuhan telah menjadi area terpisah dengan bagian-bagian lain dari kehidupan. Paham ini menyebabkan orang Kristen bisa terjebak dalam paham ateisme praktis, dimana walaupun dia mengakui keberadaan Allah dan mengekspresikan suatu bentuk iman kepada Dia – paling umum adalah dalam bentuk partisipasi ibadah Minggu – tapi untuk maksud-maksud praktis dia hidup seolah-olah Allah tidak ada atau tidak memiliki tuntutan apa-apa kepada dia. Secara praktis dia mengingkari kalau penyataan-penyataan Allah seperti tertulis dalam Alkitab itu relevan bagi kehidupannya di dunia – apakah itu soal pekerjaan, soal pasangan, masalah penggunaan waktu dan hartanya, atau yang lain. Mereka memiliki wawasan dunia yang dualistis, membatasi penyataan Allah pada satu bagian kehidupan, yaitu bagian kerohanian dan moral, tetapi tidak pada bagian-bagian lain seperti pada masalah-masalah pekerjaan, kesehatan, pendidikan, ilmu, politik, dsb. Itu pun sering terbatas pada tingkat pemahaman dan mungkin keyakinan, tapi sering tidak sampai menjadi komitmen dan perilaku.


Misalnya, ketika seorang pemuda memasuki dunia pendidikan tinggi, dia tidak serta merta membawa pergumulan masa depannya kepada Tuhan, tapi mencari informasi – yang sekarang demikian muda didapat dari paman Google – mengenai prospek berbagai jurusan yang ditawarkan oleh perguruan-perguruan tinggi. Ada yang berkonsultasi dengan orang lain yang dia pandang mengerti prospek karir ke depan. Ketika dia memasuki dunia kerja, banyak orang Kristen tidak menghayati kalau Tuhan punya rencana bagi hidup setiap orang. Dalam situasi krisis ketika pekerjaan sulit didapat, maka dia mengirimkan lamaran sebanyak mungkin, dan menubruk penawaran pekerjaan yang pertama terbuka bagi dirinya. Bahkan ketika pekerjaan itu ditawarkan oleh bisnis yang menawarkan produk dengan pesan “Merokok membunuhmu.”

Ketika seseorang dalam lingkungan kerja, perilakunya menjadi sangat berbeda dengan ketika di gereja. Kebun binatang bisa dengan mudah keluar dari mulutnya ketika marah kepada bawahan. Untuk mendapatkan bisnis, dia tidak segan-segan menyediakan dana pelicin seperti praktek yang banyak terjadi. Agar tidak banyak membayar pajak, segala usaha dilakukan – membuat pembukuan ganda, memanipulasi data, dsb. Kalau sudah tingkat tinggi, dia bisa memindahkan usaha ke negara surga bagi pengelak pajak.

Ini adalah beberapa praktek orang Kristen yang mengkotak-kotakkan imannya, ada kotak gereja, ada kotak pekerjaan, ada kotak pertemanan, ada kotak pendidikan, dan banyak kotak-kotak lain. Tuhan ada di kotak tertentu saja, yaitu kotak iman atau kotak gereja. Di kotak-kotak lain, Tuhan tidak disana. Saya sendirilah yang ada disana. Saya mau atur urusan-urusan itu dengan kemampuan dan cara-cara saya sendiri.

Jelas iman yang mengkotak-kotakkan kehidupan ini tidak Alkitabiah. Alkitab melihat kehidupan seutuhnya adalah ‘rohani’ – dari Allah, dalam perhatian Allah dan dalam kuasa Allah. Alkitab berbicara mengenai ‘segala sesuatu’ atau ‘segala hal’ – dalam ketaatan, dalam bersyukur, dalam bertumbuh, dalam mempercayakan kepada Tuhan, dalam kasih karunia-Nya, dalam keberhasilan, dsb, dsb. 

Mari kita harus membongkar kotak-kotak kehidupan pribadi dan menjadikan satu kotak besar dimana Yesus adalah Sang Tuhan dan Tuan-nya. Ketika kita melakukan ini, maka kita akan mengalami kehidupan seperti yang dijanjikan, kehidupan yang berdampak dan  kehidupan penuh damai sejahtera dan suka-cita di dalam Dia.  Tuhan memberkati !!! BERSAMBUNG

Komentar

Top