Saya Naksir Suami Orang

Author : Bimantoro | Wed, 11 March 2015 - 14:12 | View : 2898
Nama saya S, saya sudah menikah kurang lebih 15 tahun dan memiliki 3 orang anak. Suami saya, walaupun sibuk, tapi sangat baik dan rasanya kami jarang bertengkar. AKhir-akhir ini saya sepertinya jatuh cinta dengan teman sekantor saya. Teman saya ini juga sudah berkeluarga, tapi dari ceritanya dia tidak terlalu bahagia dengan isterinya. Walaupun kami sekantor tapi kami jarang bertemu karena di ditempatkan di gedung lain. Ini semua berawal dari kegiatan-kegiatan training di kantor yang suka mempertemukan kami. Hubungan kami lebih sering lewat messaging. Tapi kalau sudah kontak messaging bisa lama sekali, sering kali kami kontak saat suami saya sudah tidur, atau kalau jam istirahat makan dikantor. Saya tahu ini salah, kami berdua juga sadar kalau kami tidak mungkin bersatu, tapi rasanya kok susah yang melupakan teman saya ini, demikian juga dia. Sesekali ketika acara kantor mempertemukan kami, kami bisa ngobrol cukup lama, dan rasanya nyaman sekali ketika dia memegang tangan saya dan menyatakan rasa sayangnya, tapi saya dan dia sadar dan tidak mau melangkah lebih jauh.  Kadang ingin melupakan dia, tetapi sulit sekali. Saya tahu ini berdosa dan saya juga merasa bersalah kepada suami dan isterinya. Tapi bagaimana caranya supaya ini bisa berakhir. Kami sudah mencoba berkali kali sepakat tidak berhubungan lagi, tapi selalu gagal. Mohon sarannya
SP di Jawa Tengah
 
Dear SP,
 
Terima kasih untuk surat yang dilayangkan kepada kami. Dari apa yang SP ceritakan tampaknya SP dan teman kantor sedang jatuh cinta. Jatuh Cinta merupakan suatu perasaan yang sangat sulit dilawan, walaupun kita sadar bahwa perasaan ini seharusnya tidak boleh kita kembangkan. Tetapi entah kenapa, memang sangat sulit melawan perasaan jatuh cinta, sehingga rasanya strategi apapun, untuk menghindari perasaan jatuh cinta,  akan tidak berhasil. Untuk itu saya akan mencoba mengajak SP memikirkan beberapa hal sebagai berikut:
 
1. Apa resikonya kalau perasaan jatuh cinta itu dibiarkan?. Secara alamiah sebuah perasaan jika dibiarkan akan terus bertumbuh, apalagi jika bukan sekedar dibiarkan tetapi juga di pelihara. Passion (hasrat) dan Intimacy (keintiman) akan terus semakin bertambah dan SP harus berhati hati karena, jangan berpikir bahwa ketika hasrat dan keintiman sudah semakin besar, maka berhubungan lewat messaging atau sekedar bertemu di acara kantor akan menjadi cukup. Dorongan-dorongan untuk memuaskan kebutuhan kebutuhan dalam diri kita akan semakin besar dan akan membuat kita berani mengambil tindakan yang semakin jauh. Ketika hasrat dan keintiman terhadap teman semakin besar, maka hasrat dan keintiman terhadap pasangan akan berhenti, lalu perlahan lahan kita akan mengembangkan suatu pembenaran akan pikiran, perasaan dan tingkah laku yang saat ini terjadi antara SP dan teman kerja SP. Awalnya memang akan muncul rasa bersalah, tetapi ketika pembenaran semakin kuat, maka rasa bersalah akan semakin bisa ditekan, walapun ada kemungkinan muncul perasaan cemas dan takut bahwa relasi ini akan terbongkar oleh pasangan kita. Kalau perasaan jatuh cinta ini semakin besar, yang terjadi adalah akal sehat kita semakin mengecil, dan kita bisa saja mengerjakan sesuatu yang disadari atau tidak akan berakibat pada relasi kita dengan pasangan dan mungkin dengan anak-anak kita. Dalam hal ini saya ingin SP waspada bahwa jangan pernah SP merasa kuat, bahwa SP bisa membatasi hubungan ini dan cukup puas hanya melalui messaging dan pertemuan yang di fasilitasi oleh kantor.
 
2. Kenapa kita selalu gagal dalam mengakhiri hubungan, yang kita sadar tidak dapat dibenarkan.  Sebagaimana saya sampaikan di point pertama, ketika hasrat dan keintiman terhadap pasangan berhenti atau semakin kecil, maka komitmen kita juga akan semakin kecil. Kita tidak lagi berusaha menemukan kebaikan-kebaikan dalam diri pasangan, dan yang lebih bahaya lagi adalah kebaikan pasangan yang pada mulanya kita anggap cukup, menjadi tidak cukup. Ketika komitmen terhadap pasangan berhenti pada level tertentu atau bahkan semakin kecil, maka cara kita mendapatkan atau memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita tidak lagi diupayakan didapatkan dari pasangan. Kita kemudian terjebak dengan pemikiran ,dan mungkin fantasy fantasy, akan adanya alternatif pemenuhan kebutuhan diri kita dari orang yang bukan pasangan kita. Akibatnya, ketika pasangan mencoba memenuhi kebutuhan kita, disadari atau tidak, kita menolak. Apalagi kalau kita sudah bersimpati terhadap ketidak puasan orang itu pada pasangannya, maka perasaan dibutuhkan menjadi muncul dan merasa bahwa kehadiran kita menjadi penting dalam kehidupan orang itu, disisi lain kita merasa kehadiran pasangan kita menjadi tidak penting. Ujung-ujungnya komitmen kita terhadap pasangan menjadi semakin kendur.
 
3. Dari kedua hal tersebut diatas, saya berharap SP bisa memikirkan resiko resiko yang akan terjadi, ketika SP terus melanjutkan hubungan SP dengan teman kerja SP. Apa resikonya bagi relasi SP dengan suami, dengan anak, dengan keluarga besar, dengan rekan kerja lainnya, dengan keluarga teman SP. Sambil SP memikirkan resiko dengan manusia, pikirkan juga akibatnya bagi hubungan SP dengan Allah. Apakah membiarkan perasaan jatuh cinta ini akan membuat SP bisa berdamai dengan diri dan Allah?. Firman Tuhan dalam 1 Petrus 5:8 mengatakan “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. Hati-hati dengan perasaan-perasaan yang menjebak dan membuat kita tidak bisa lagi menggunakan akal sehat kita.
 
Saya menangkap keinginan SP untuk mempertahankan pernikahan SP. Untuk itu , selain membuat strategi dalam menghentikan relasi ini, kerjakan juga perbaikan relasi dengan pasangan. Pikirkan kenangan-kenangan indah bersama suami, munculkan kembali hasrat dan keintiman. Perbaiki kembali komitmen dalam pernikahan SP. Jika diperlukan, carilah pertolongan kepada konselor pernikahan yang tepat.   Kiranya semangat Natal, memampukan SP untuk menghadapi dinamika kehidupan yang tidak mudah ini.
Tuhan memberkati.

Komentar

Top