BISA BERDOSA, BISA TIDAK BERDOSA Posse Pecare, Posse Non Pecare

Author : Pdt Robert R Siahaan | Wed, 11 March 2015 - 14:48 | View : 1336
adam-tableau1.jpg
Ketika manusia jatuh dalam dosa ia menjadi ter-cemar oleh dosa (polluted) se-hingga segala kecenderungan hati-nya (sinful nature) selalu mem-buahkan kejahatan semata-mata (Kej 6:5, Yer. 19:7) dan pada saat bersamaan manusia berada dalam status bersalah/berdosa (guilt) di hadapan Allah sehingga berada di bawah hukuman dosa (Rm. 3:23; 6:23). Status bersalah ini mutlak dan Alkitab menegaskan bahwa tidak seorang pun yang dapat dibenarkan/dibebaskan dari hukuman dosa sekali-pun ia melakukan hukum Taurat” (Rm. 3:20, 27) dan pasti akan menu-ju kematian kekal, kecuali menerima penebusan dalam Kristus.  

Apakah dampak kejatuhan terse-but betul-betul membuat manusia tidak bisa lagi melakukan kebena-ran dalam hidupnya? Jelas sekali Alkitab menyatakan bahwa dosa mengakibatkan kematian rohani sehingga manusia tidak bisa lagi mengenal kebenaran sejati dan pada dirinya sendiri tidak ada ke-inginan untuk mencari kebenaran. Seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Rm. 3:10-12, Mz. 14). Dengan kata lain manusia dalam status keberdosaannya di hadapan Allah hanya menghasilkan dosa dan tidak bisa lagi menghasilkan kebenaran, karena kecemaran akan selalu menghasilkan kecema-ran. Lalu apakah ada perbedaan se-telah seseorang menjadi Kristen?  

Ada tiga istilah teologi dalam bahasa Latin yang digunakan untuk menjelaskan hal ini: (1) Non posse non pecare – tidak bisa tidak berdosa, ini merupakan keadaan manusia setelah jatuh dalam dosa. Dalam kondisi tercemar oleh dosa tidak ada lagi potensi bagi manusia untuk melakukan hal yang benar dihadapan Allah, pikiran, perasaan, tindakan dan motivasi manusia akan selalu dipengaruhi oleh keberdosaannya. Sehingga ia non posse non pecare, tidak bisa tidak berdosa. (2) Posse non pecare – bisa tidak berdosa, merupakan kea-daan seseorang setelah diselamat-kan (dibenarkan, diampuni/dite-bus) dari dosa-dosanya dalam kematian Kristus di kayu salib (Rm. 3:24). Setelah diselamatkan setiap orang Kristen diberikan status baru sebagai orang yang dibenarkan yang telah dihapuskan kesalahan-nya dan dibersihkan dari pencema-ran dan dampak kematian kekal (Rm 6:23). (3) Non posse pecare – tidak bisa berdosa, merupakan keadaaan manusia setelah mene-rima pemuliaan (glorification) di da-lam sorga setelah kedatangan Tu-han Yesus kedua dan orang-orang  percaya diangkat dan masuk ke sorga (Rm. 8:30; 1Tes 4:16-17). Setelah diselamatkan, potensi kerohanian orang Kristen menjadi mirip dengan keadaan Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa, bisa berdosa dan bisa tidak ber-dosa (posse pecare, posse non pe-care). Tetapi tidak bisa dikatakan bahwa kondisi dan potensi keroha-nian orang Kristen sekarang de-ngan kondisi Adam dan Hawa sebelum jatuh mutlak sama karena sebelum kejatuhan mereka sama sekali belum dipengaruhi dosa.
 
Pertarungan Daging dan Roh
Sejak semula manusia diciptakan dalam dua natur yang terdiri dari daging dan roh, Kitab Suci menje-laskan bagaimana  Allah memben-tuk tubuh manusia dari debu tanah kemudian mengehembus-kan nafas hidup (neshamah/breath, spirit) sehingga ia memiliki hidup (livingsoul/ being, Kej 2:7). Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa manusia tidak hidup dari makanan jasmani saja, tetapi juga dari setiap Firman Allah yang merupakan makanan rohani ma-nusia (Matius 4:4, 26:41; Ul. 8:3). Penegasan terhadap dua natur manusia juga banyak digunakan Rasul Paulus dalam surat-suratnya dengan istilah keinginan daging (sarx/flesh) dan keinginan roh (pneuma/spirit) yang keduanya secara mutlak saling bertentangan dalam diri manusia. Banyak orang Kristen yang dirusak oleh keingi-nan-keiginan daging terhadap alkohol, perjudian, seks, narkoba atau gabungan di antaranya yang memperbudak mereka untuk terus-menerus melakukannya tanpa ada daya untuk melepaskan diri darinya. Termasuk keinginan-keinginan daging yang berkaitan dengan perasaan-perasaan den-dam, kebencian, kemarahan, iri hati, kesombongan, dsb., bisa begitu menguasai seorang Kristen hingga lumpuh untuk menghasil-kan perubahan dalam hidupnya.

Bahkan seringkali keinginan untuk berhenti dan lepas dari perbudakan dosa disertai perasaan frustrasi dan ketidakmampuan untuk bangkit dan melepaskan diri dari jerat dosa tersebut. Rajin ber-ibadah, rajin melayani, berpuasa, mengikuti kelas-kelas pembinaan yang bagus, ternyata tidak menja-min seorang Kristen akan meng-alami perubahan rohani yang signifikan dalam hidupnya. Banyak orang Kristen yang mengalami kegagalan dalam kerohaniannya dan tidak hidup dalam kekudusan sebagaimana yang Allah harapkan (Kol 3.). Oleh karena itu untuk memiliki kemenangan rohani dan hidup dalam kekudusan diperlukan langkah-langkah strategis yang secara sengaja dilakukan dengan penuh ketaatan kepada Allah dan firman-Nya.

Beberapa langkah dan kebiasaan yang diajarkan oleh Rasul Paulus adalah agar orang Kristen memikir-kan hal-hal rohani dan menjauhkan keinginan-keinginan daging: “Sebab mereka yang hidup menu-rut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh” (Roma 8:5-11). Dalam Kolose 3 Paulus juga  meng-ajarkan proses membuang sifat-sifat dan dosa-dosa lama yang telah bercokol dalam diri kita serta mulai mengenakan sifat-sifat baru yang harus menjadi karakter baru setiap orang Kristen. Mengadopsi dan melatih diri melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang diajarkan Alkitab mutlak bagi orang Kristen agar mengalami pembaruan hidup (Rm. 12:1-2). Dalam Roma 6:12-1,3 Paulus mengajarkan agar orang-orang Kristen tidak membiar-kan diri dikuasai dosa, dan tidak me-nyerahkan anggota-anggota tu-buh untuk berbuat dosa, sebalik-nya agar orang-orang Kristen me-nyerahkan total anggota-anggota tubuhnya kepada Allah, bagi kemuliaan Allah (Kol 3:17,23). Hal ini menuntut pilihan dan keputusan yang dilakukan dalam kesadaran penuh dan dalam totalitas ketaa-tan kepada Allah dan firman-Nya.  
 
Bisa Berdosa, Bisa Tidak Berdosa
Bisa berdosa dan bisa tidak ber-dosa menjadi potensi dan peluang baru bagi orang-orang Kristen yang sudah diselamatkan dalam penebu-san Yesus Kristus, yang mana yang harus kita hidupi dan harus kita pilih? Keinginan Allah mutlak supaya kita hidup tidak berdosa, kita diselamatkan supaya hidup dalam kekudusan dan menjadi terang di dunia ini (Mat 5:16, 1Pet 2:9). Mengapa orang yang sudah lama menjadi Kristen dan rajin beribadah tetapi tetap di dalam kehidupan yang diperbudak dan dikuasai oleh dosa? Kemungkinan orang Kristen tersebut belum pernah melatih diri dan mendisiplin diri untuk hidup kudus dalam ke-taatan dan kesetiaan yang sung-guh-sungguh kepada Allah. Keku-dusan hidup bukanlah kondisi kero-hanian  yang secara otomatis hadir dalam diri orang Kristen ketika ia lahir baru, tetapi lebih merupakan kewajiban untuk memperjuang-kannya setelah ia menerima status dikuduskan atau dibenarkan melalui penebusan Kristus. Hanya dengan pertolongan Roh Kudus dan kehadiran Firman Allah yang diresponi dengan kesediaan untuk taat disertai kedisiplinan yang memungkinkan orang Kristen men-capai kekudusan perubahan hidup. Sekalipun tidak ada jaminan seorang Kristen bisa melepaskan diri dari keinginan dan perbuatan dosa secara terus-menerus dan konstan, namun kemungkinan itu telah diberikan oleh Allah dalam penebusan-Nya (posse non pecare). “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempur-nakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”  (2 Korintus7:1).

Komentar

Top