Dia Digadang-gadang Menjadi Ephorus HKBP Yang Baru

Author : Nick Irwan | Fri, 17 June 2016 - 22:50 | View : 4614

Reformata.com, Jakarta- Menjadi pemimpin dari gereja yang besar bukanlah perkara yang mudah. Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), merupakan salah satu gereja dengan jutaan jemaat yang tersebar di Indonesia bahkan sampai luar negeri. Memimpin jemaat dengan jumlah fantastis dan tersebar di berbagai tempat itu menjadi tantangan bagi seorang pemimpin. Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa, menyambut Sinode Godang HKBP September nanti, bermunculan nama-nama calon pemimpin HKBP.

Salah satu nama yang mencuat ke publik adalah Pdt. Dr. Robinson Butarbutar. Lulusan Sekolah Tinggi Teologi (STT) HKBP Pematangsiantar itu digadang-gadang banyak pihak merupakan calon kuat untuk memimpin gereja HKBP ke depan dengan maju untuk menjadi calon Ephorus yang baru. Reformata kemudian berusaha untuk mencari tahu sosok dari bapak tiga orang anak ini. Diketahui, Pdt. Robinson Butarbutar merupakan lulusan dari London Bible College, Inggris pada tahun 1990 dalam bidang Penafsiran Alkitab, tidak heran jika ia merupakan sosok yang visioner. Hal itu kemudian terlihat dari cara Pdt. Robinson saat memberikan pandangan terkait persoalan-persoalan yang terjadi di HKBP, tidak hanya berbicara terkait Penatalayanan yang efektif dalam manajemen organisasi gereja, namun juga cara dan bagaimana hal tersebut dapat dilaksanakan agar konsep yang ada tidak hanya terhenti sebatas teori atau hanya dibahas dalam forum saja. Jam terbang pelayanan dari Pdt. Robinson pun tidak bisa dipandang sebelah mata, ia tidak pernah menolak pengutusan dimanapun, termasuk ke wilayah-wilayah minim fasilitas seperti di Afrika, karena pelayanannya diberbagai wilayah itulah jejaring yang terbangun cukup luas, Pdt. Robinson mampu memperkenalkan HKBP di dunia.

Saat ditemui Reformata di Wisma Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (16/06), Pdt. Robinson menjelaskan pandangannya terkait HKBP. Menurutnya saat HKBP sudah baik hanya perlu disesuaikan dengan kemajuan jaman dan dimatangkan lagi sistem yang belum berjalan dengan sempurna. Saat ditanya terkait seringnya terjadi kisruh di internal gereja, Pdt. Robinson menjawab bahwa hal tesebut seharusnya bisa dicegah jika program-program pengutusan sesuai dengan visi HKBP yaitu HKBP menjadi berkat bagi dunia dapat dilaksanakan lebih baik lagi. HKBP harus kembali kepada pengutusan, selain itu juga pemimpin di tingkat Pusat harus secara langsung turun ke lapangan sebelum kekisruhan itu berkembang. Dengan demikian persoalan yang dihadapi dapat dicegah agar tidak meluas dan berlarut-larut.

“HKBP itu sudah kuat dari dalam. Konsep dan teorinya sudah ada, hanya tinggal bagaimana konsep dan teorinya itu dilaksanakan secara nyata. Koinonia, Marturia, dan Diakonia itu haruslah secara nyata diterapkan di HKBP dan beberapa prioritas yang diusungnya adalah tentang kesatuan HKBP dan perbaikan sistem kesejahteraan,” ujar pendeta dengan jejaring di dunia yang luas ini.

Lebih lanjut dikatakan juga bahwa komunikasi antara pemimpin dan umat itu harus terbangun secara konsisten dengan secara berkala mengunjungi semua distrik HKBP yang tersebar di berbagai wilayah. Pdt. Robinson juga mengatakan bahwa sebagai sebuah persekutuan orang percaya di dalam satu gereja, doa merupakan suatu kebutuhan yang harus berangkat dari dalam hati, dipergumulkan dan terus dihidupi.

 

 

 

 

 

Komentar

Top