Mengembalikan HKBP Menjadi Gereja Yang Misioner

Author : Redaksi | Fri, 17 June 2016 - 23:38 | View : 891

Reformata.com, Jakarta-  Sebagai salah satu lembaga gereja tertua yang ada di Indonesia, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pernah menjalankan misi Perkabaran Injil secara besar-besaran dimasa lampau. Daerah Tapanuli Raya ikut menjadi saksi bagaimana para penginjil asal tanah Batak mewartakan Sukacita Kristus hingga ke pelosok daerah. Puncak era keemasan Perkabaran Injil yang dilakukan oleh HKBP terjadi dimasa Pdt. Dr. (H.C) Justin Sihombing memimpin gereja tersebut sebagai Ephorus, selama kurun waktu 1942 hingga 1960-an. Namun Perkabaran Injil yang dilakukan oleh gereja dengan jumlah jemaat 4,5 juta jiwa itu seakan surut seiring waktu, karena HKBP lebih menitikberatkan pelayanannya di dalam.

Cerita inilah yang mengawali perbincangan Reformata.com dengan Ketua Pelaksana Direktur STT HKBP, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar di Wisma PGI, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (16/6). Disela kesibukannya sebagai seorang hamba Tuhan, ia memaparkan bagaimana HKBP mesti mewujudkan visi barunya yakni “Menjadi Berkat Bagi Dunia”, dan harus dijawab dengan menggalakkan kembali Perkabaran Injil.

“Bagaimana itu bentuknya? Dibidang-bidang lain bisalah kita pikirkan, tetapi dibidang Perkabaran Injil ini harus kita pikirkan keluar. Sebab selama ini HKBP tidak pernah mengirim misionarisnya keluar Indonesia, kecuali mengirim pendeta ke Negara ini lalu menjadi pendeta di Negara sana,” tutur Pdt. Robinson.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa program Perkabaran Injil sudah dilaksanakan dalam periode ini, dimana Injil  diperkenalkan lebih dahulu kepada jemaat sejak mereka masih berusia kanak-kanak, sehingga mereka akan tumbuh dalam iman dan pengetahuan yang berlandaskan takut akan Kristus.

“Anak-anak harus dilatih untuk bersaksi sejak dini. Nah inilah yang sedang dilakukan sekarang, supaya anak-anak itu mengetahui apa itu isi Injil mulai dari nol sampai terakhir. Misalnya mulai dari mengenal dosa hingga bagaimana hidup sebagai seorang Kristen, sehingga ketika beranjak remaja hingga pemuda nanti mereka sudah memahami apa itu Perkabaran Injil, dan ikut memberitakan Injil,” tutur dosen Perjanjian Baru di STT HKBP itu.

Pendeta Robinson juga menambahkan bahwa dalam penerapannya HKBP telah siap untuk kembali menjadi gereja yang misioner. Ini terlihat dari ketersediaan para personel yang sedang menjalankan pendidikan ataupun telah lulus dari sejumlah lembaga di bawah naungan HKBP, seperti di Sekolah Guru, Sekolah Diakones, Sekolah Theologi, dan Bibelvrouw.

“Intinya semua ini dipersiapkan hanya untuk memimpin jemaat. Kalau nanti kita sudah siap untuk memberitakan Injil keluar mereka ini harus kita persiapkan juga, tidak hanya untuk memimpin jemaat tetapi juga pergi keluar,” imbuhnya.

Selain kesiapan lembaga dan personel, yang tak kalah penting menurut Pdt. Robinson adalah pengoptimalan jejaring HKBP dengan badan-badan misi lain di luar negeri, salah satu contohnya VEM (Vereinte Evangelische Mission). Lembaga misi yang berpusat di Jerman itu membutuhkan banyak tenaga misi yang akan dikirimkan ke sejumlah Negara di tiga benua yakni Afrika, Asia, maupun Eropa.

“Ketika mereka (jejaring) membutuhkan tenaga, maka kita kirimkan para personel kita kesana. Tidak harus hamba Tuhan semata, tetapi juga bisa dari pelbagai latar profesi seperti dokter, guru, maupun ahli yang berasal dari HKBP,” tutupnya.  *Ronald

Komentar

Top