Kemurahan Tuhan Di Perjalanan Hidup Putera Rote

Author : Chandra | Fri, 1 July 2016 - 20:44 | View : 1757

Reformata.com, Jakarta- Rote merupakan sebuah Pulau yang terletak di gugusan kepulauan dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di pulau inilah pada bulan April tahun 1936 menjadi tempat  kelahiran Prof. Adrianus Mooy M.Sc., Ph.D, seorang putera asli Rote yang meraih puncak karirnya sebagai seorang Gubernur Bank Indonesia (BI), pada tahun 1988. Perjalanan hidupnya yang sarat akan prestasi dan kemurahan Tuhan diabadikan kedalam sebuah otobiografi berjudul “Adrianus Mooy From the Island of Rote: Telling His Story”. Penampilan tari Cerana yang diiringi alunan alat musik khas Rote, Sasando, membuka acara peluncuran otobiografi dari sang Profesor, yang berlangsung di Birawa Hall, Menara Bidakara, Jakarta, Jumat sore (1/7). Hadir dalam acara peluncuran tersebut sejumlah tokoh penting Indonesia seperti mantan Wakil Presiden RI ke-11 dan mantan Gubernur BI ke-13 Prof. Dr. H. Boediono, M.Ec, begawan ekonomi Indonesia Prof. Emil Salim, serta pejabat petahana Gubernur BI Agus Martowardojo.

Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) Dr. (Hon) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc, yang hadir dan menyampaikan kata sambutannya mengatakan bahwa momen peluncuran otobiografi itu terasa sangat spesial, karena tepat lima puluh lima tahun silam berlangsung acara pemberkatan pernikahan dari Prof. Mooy dengan sang istri, Amelia Mooy, di Wisconsin, Amerika Serikat.

“Kita akan menyaksikan buku yang akan kita luncurkan ini merupakan suatu hadiah bagi kita semua, oleh karena disana diceriterakan bagaimana sejarah, suatu kisah seorang Prof. Mooy ternyata terjadi oleh karena anugerah Tuhan. Karena itulah ditulis ‘Telling His Story’,” ujar Jonathan sembari memuji sahabatnya yang kini masih berkarya sebagai Rektor UPH Surabaya itu.

Sementara itu Prof. Emil Salim dalam kata sambutannya mengatakan bahwa daerah Nusa Tenggara Barat dan Timur merupakan contoh daerah tertinggal dan miskin. Namun ditengah kemiskinan itu muncul seorang putera lokal yakni Adrianus Mooy, yang berhasil mengharumkan daerahnya dengan menjabat sebagai Gubernur BI di kemudian hari. Ia mengibaratkan daerah miskin di Indonesia sebagai sebuah lubang yang membelenggu masyarakat lokal, sehingga peranan penting yang bisa dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat adalah menyediakan ‘seutas tali’,  yakni membantu membangun kapasitas Sumber Daya Manusia di daerah melalui pendidikan.

“Mutiara-mutiara cerdas ada di seluruh Tanah Air Indonesia, di Papua, di NTT, di Kalimantan. Beri tali, beri kesempatan Indonesia Timur untuk bisa bangkit, seperti Mooy menunjukan bahwa Indonesia Timur tidak lebih rendah dari Indonesia Barat,” ujar Emil yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Ketika bebicara diantara para undangan, Prof. Adrianus Mooy bercerita bagaimana Tuhan selalu menunjukan kemurahan hati-Nya di dalam hidupnya. Ia juga berkisah tentang pengalaman sewaktu ia merantau meninggalkan Rote menuju Surabaya dengan menumpang sebuah kapal pengangkut ternak. Dengan hanya mengantongi uang Rp.250,- ia berangkat dari kampungya demi menimba ilmu di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Setelah lulus, Tuhan mengizinkan ia untuk menyelesaikan program master dan doktoralnya di Amerika Serikat. Ia berharap melalui buku tersebut akan ada banyak orang yang terinspirasi untuk berkeinginan maju walau berada di tengah situasi yang serba terbatas.

“Buku ‘Telling His Story’ ini menceriterakan cerita Tuhan, bagaimana Ia merubah hidup saya dari seorang anak kampung bukan saja di Pulau Rote, tetapi Pulau Rote yang paling Selatan,” ujar Mooy.

Selama berkarya Prof. Adrianus Mooy juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Masyarakat Eropa di Brussels, Belgia, dan menjabat Wakil Sekretaris Jenderal PBB di ESCAP, Bangkok, Thailand. Semasa menjabat sebagai Gubernur BI, pada tahun 1992 Pemerintah RI menganugerahkannya Bintang Mahaputra (Adipradana) atas pelbagai prestasi yang ditorehkannya.

Editor: Ronald

Komentar

Top