Kristen Di Mesir Kembali Jadi Sasaran Penganiayaan

Author : Ronald | Wed, 20 July 2016 - 17:03 | View : 742

Reformata.com, Mesir-  Kekerasan sektarian yang ditujukan kepada umat Kristen di Mesir kembali menelan korban jiwa. Kali ini seorang umat Ortodoks Koptik harus meregang nyawa usai menjadi sasaran pengainayaan oleh kaum ekstremis di wilayah Minya, bagian Selatan Mesir, pada Minggu waktu setempat (17/7).

Seperti dilaporkan Associated Press kepada Dailymail, Selasa silam  (19/7), Uskup Macarious dari Minya mengatakan bahwa massa menyerang keluarga dari dua orang imam Ortodoks Koptik hingga menyebabkan seorang anggota keluarga bernama Fam Khalaf (27) meninggal dunia, sementara ayah dari salah seorang imam lainnya mengalami luka-luka.

Fam Khalaf tewas dianiaya menggunakan pisau dan tongkat sehari setelah gerakan massa radikal menyerang  dan membakar rumah-rumah orang Kristen di desa Abu-Yacoub, Minya, menyusul beredarnya rumor bahwa umat Ortodoks yang mendiami wilayah tersebut bermaksud untuk mengubah sebuah Taman Kanak-kanak menjadi sebuah gereja.

Kejadian ini memicu kemarahan di kalangan umat Kristen Mesir seiring meningkatnya kekerasan yang ditujukan kepada komunitas mereka. Pada hari Senin (18/7), para pelayat berkumpul di sebuah gereja lokal untuk melangsungkan doa bagi korban dan menyatakan protes. Mereka berbaris menuju pemakaman sembari meneriakkan "Dengan darah dan jiwa, kami menebus salib."

Pejabat keamanan setempat menyatakan 4 orang telah diamankan karena diduga melakukan pembantaian terhadap Fam Khalaf. Sementara itu mereka juga menyatakan setidaknya 14 orang telah ditahan atas tuduhan melakukan perusakan dan pembakaran terhadap kediaman orang Kristen di Minya.

Berdasarkan data dari Bank Dunia, populasi di Mesir mencapai jumlah 91 Juta jiwa pada tahun 2015. Umat Kristen di negeri itu menyumbang jumlah 10 persen dari total populasi Mesir. Kekerasan sektarian sesekali terjadi terhadap pemukiman Kristen, tempat usaha, dan gereja di wilayah selatan Negara yang pernah dipimpin oleh Hosni Mubarak selama 30 tahun itu. (dailymail/WB).

Komentar

Top