Berkaca Pada Sosok Ephorus HKBP Pertama

Author : Nick Irwan | Wed, 14 September 2016 - 13:46 | View : 579

Reformata.com, Jakarta- Perkembangan pelayanan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) hingga menjadi organisasi keagamaan yang besar, tidak lepas dari peranan Ephorus pertama Ingwer Ludwig Nommensen. Di tengah situasi Sinode Godang ke-63 yang kian hangat, banyak kalangan membicarakan sosok pemimpin HKBP (Ephorus) yang sangat diperlukan saat ini, hal itu dimaksudkan untuk menyelesaikan pelbagai persoalan yang ada serta sosok pimpinan yang mampu mengembangakan visi HKBP yakni, ‘Menjadi Berkat Bagi Bangsa dan Dunia’ melaui perannya sebagai ‘Garam dan Terang’ dunia. Ingwer Ludwig Nommensen (Ephorus pertama HKBP) pernah membuktikan bahwa ia mampu menjadi ‘Garam dan Terang’ di tengah-tengah umat, hal itu diketahui dari pelbagai sumber bacaan yang mengangkat sosok fenomenal kelahiran 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, Jerman Utara.

Dikutip dari berbagai sumber, Ompui Nommensen, begitu namanya sering disebut, merupakan sosok yang sederhana dengan kegigihan untuk melayani mereka yang belum mau mengenal Tuhan. Huta Dame atau dalam bahasa Indonesia berarti kampung damai berhasil dibangun Ompui Nommensen. Di kampung itulah ia mengumpulkan jemaat mula-mula, pada tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah, sekaligus menjadi rumah baginya di Pearaja, Tobasa, Sumatera Utara, yang hingga kini menjadi pusat dari HKBP yang tersebar di wilayah Indonesia dan di Luar Negeri.

Ompui Nommensen merupakan sosok pelayan Tuhan yang secara langsung terlibat di tengah-tengah umat. Cara ia menyampaikan Firman Tuhan pun dengan cara-cara yang mudah untuk dipahami kalangan awam, dari mulai penerjemahan Kitab Perjanjian Baru ke bahasa Toba hingga mempraktekan secara langsung Kasih Tuhan itu dengan membantu memperbaiki pertanian, peternakan bahkan hingga meminjamkan modal usaha, yang memang diperlukan umat ketika itu. Ompui Nommensen tahu dan mampu menyerap kebutuhan umat, yang saat itu belum sepenuhnya menerima Firman Tuhan. Perbedaan bahasa, budaya hingga perjalanan yang panjang untuk sampai di  rura (lembah) Silindung tidak mampu menahan cita-cita dari Ompui Nommensen untuk menjadi ‘Garam dan Terang’ di tengah masyarakat Batak saat itu.  Ompui Nommensen ditempa di seminari Rheinische Mission Gesselschaft (RMG), kemudian ditahbiskan pada bulan Oktober 1861 dan tiba di Indonesia pada tahun 1862. Tujuan Ompui Nommensen ke Tanah Air guna melayani Tuhan di tengah bangsa Batak. Pelayanan itu ditebus Ompui Nommensen dengan melakukan perjalanan yang menghabiskan waktu 142 hari lamanya. Ompui Nommensen menjadi Ephorus pertama HKBP pada tahun  1881 setelah ditunjuk oleh RMG.

Selama 50an tahun melayani orang Batak, tidak terkira dedikasi pelayanan Ompui Nommensen. Pasang surut yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen Batak, kadang-kadang menjadi pergumulan berat buatnya tetapi tidak sedikit pula sukacita yang menambah semangatnya. Tidak mengherankan jika seorang ahli sejarah misi bernama Stephen Neill, menempatkan Ompui Nommensen menjadi salah satu pekabar Injil terbesar sepanjang sejarah. Ompui Nommensen wafat pada usia 89 tahun dan di makamkan di Sigumpar, Tobasa, Sumatera Utara. Makam dari Ompui Nommensen tersebut dirawat dengan baik oleh pemerintah setempat, bahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Toba Samosir menetapkan Makam Ingwer Ludwig Nommensen ini sebagai salah satu objek wisata yang direkomendasikan untuk dikunjungi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Top