Wirawan Hartawan, Owner Disc Tarra Dan HydroFarm

Tue, 17 March 2015 - 12:28 | View : 3265
wirawan-hartawan.jpg

 Dari Musik Hingga Organik

Setelah sepakat untuk diwawancarai pada tanggal 15 Januari 2015 di kantornya pukul 14.00 WIB, Reformata pun kemudian pergi ke bilangan Jakarta Barat untuk menemui seorang pengusaha yang bisa dikatakan mempunyai andil dalam perkembangan dunia musik tanah air, beliau adalah Wirawan Hartawan. Siang yang terik itu selesai mampir untuk mengisi perut yang sudah tidak kuat menahan lapar, Reformata pun bergegas menemui narasumber untuk mengisi rubrik profil ini, kami disambut oleh petugas keamanan yang dengan sigap menanyakan maksud dan tujuan dari kedatangan Reformata, “mau kemana pak” tanya pak satpam itu, “kami sudah janji bertemu pak Wirawan, pak”, jawabku kepada pak satpam itu seraya melepaskan helm di kepala. Kami pun disuruh untuk menunggu di lobi kantor itu, tak lama kemudian Reformata pun dipersilahkan naik ke lantai 3 untuk menemui Wirawan Hartawan yang saat itu tengah mengikuti rapat. Di ruangan tempat kami menunggu, terpampang album-album musik dari para musisi Indonesia, berserta foto covernya. Wirawan pun muncul, dengan senyum dan gaya enerjik khas para pekerja ulet, ia menyalami kami dan mempersilahkan untuk mewawancarainya. Wirawan pun mulai bercerita mengenai pengalamannya.  

Walau menurut pengakuannya bahwa ia tidak fasih dalam berbahasa Indonesia, karena dari kecil hingga dewasa berada di luar negeri, namun Wirawan Hartawan bersemangat untuk menjelaskan kisah hidupnya. Tercatat dalam salah satu akun sosial miliknya, ayah dari tiga orang putra ini menempuh pendidikan dari tahun 1967 sampai dengan 1977 di St Stephen's College, Hong Kong. Selesai menamatkan pendidikannya di Hongkong, ia pun melanjutkan studi ke Stanford University Graduate School of Business di Kanada. Seusai menamatkan pendidikannya itu, Wirawan kemudian memulai karir di CitiBank untuk membangun Consumer Service Group dari CitiBank. Bersama-sama dengan Mario Teguh seorang motivator tersohor, Wirawan membangun CitiBank dari sisi pelayanan pelangannya, mulai dari memperkenalkan kartu kredit hingga membangun citra perusahaan dari CitiBank kepada para pelangan. Pada tahun 1986 Wirawan memutuskan untuk berhenti bekerja dari CitiBank, “saya dikasih tahu bos saya bahwa saya sudah tidak bisa berkembang lagi di CitiBank, karena pangkat saya pada saat itu sudah cukup tinggi diumur 26 saya sudah berada pada top karir”, jelas Wirawan. Kemudian Wirawan memutuskan untuk membantu orang tuanya pada saat itu, Wirawan bercerita bahwa pada saat itu orang tuanya sudah merintis usaha penerbitan kaset semacam Atlantic Record. Mendapat dukungan dari orang tua, Wirawan lalu mendirikan Disc Tarra ditahun 1986 yang awal mula perkembangannya menjual kaset lalu compact disc hingga laser disc, usaha yang pada saat itu belum dilirik oleh para pengusaha karena pasar pembelinya belum terlihat menguntungkan. Dengan keuletan, kerja keras serta bermodalkan jaringan pelangan dari CitiBank yang ia bangun seusai menempuh pendidikan, usaha tersebut berkembang pesat hingga memiliki ratusan toko.

Cara Tuhan meng-Introduce

Hidup berkecukupan sejak kecil, mempunyai kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri, karir yang bagus hingga usaha yang sukses tidak lantas membuat Wirawan kebal akan pahit getir kehidupan, usaha yang dibangunnya dari nol runtuh dalam sekejap, situasi ekonomi dan keamanan negera di 1998 sempat membuat Wirawan merugi miliaran rupiah akibat operasional perusahaan tersendat dan bunga bank mencapai 80 persen, inilah titik awal dari kesadaran Wirawan akan pentingnya menghadirkan Tuhan dalam setiap kesempatan, berkat sang istri yang memang taat berdoa, Wirawan mulai bersekutu dengan Tuhan dalam berbagai kesempatan. Hal ini berbuah manis seiiring dengan situasi dalam negeri membaik, disc tara pun kembali mengeliat bahkan semakin berkembang, Wirawan menganggapnya inilah cara Tuhan meng-introduce nya.  Di tahun 2012, Tuhan kembali menguji Wirawan, dokter memvonisnya dengan mengatakan bahwa ada penyumbatan di otak bagian kiri miliknya. Akibat vonis itu, Wirawan dipaksa untuk menghindari konsumsi daging merah dan perbanyak mengkonsumsi sayur-sayuran organik, walau tidak mengenakan baginya namun itulah yang harus dinikmati dikala menyantap makanan. Karena mahalnya sayuran organik, Wirawan lantas berfikir untuk menanam tanaman organik sendiri, awalnya untuk dikonsumsi pribadi, namun karena minat yang tinggi dari orang-orang sekitar terhadap manfaat mengkonsumsi sayuran organik, kemudian Wirawan berinisiatif untuk mempelajari lebih dalam lagi mengenai cara bercocok tanam yang efisien dan cocok pula dilakukan oleh semua masyarakat baik itu diperkotaan yang minim lahan, ataupun masyarakat pedesaan yang berlimpah sumber air. Setelah ilmu mengenai cara bercocok tanam ia dapat dari berbagai negara kemudian Wirawan menjadikan itu sebagai lahan bisnis baru, yang diberi nama HydroFarm. Wirawan dipenghujung percakapannya dengan Reformata, mengatakan bahwa bisnis HydroFarm ini sedang dikembangkan hingga nanti pada bulan Mei 2015, Wirawan berencana untuk membuka cafe Hydroponik yang menunya itu berasal dari tanaman HydroFarm.

Nick Irwan

Komentar

Top