Knowing Is To Bring Shalom

Author : Redaksi | Sun, 18 September 2016 - 09:45 | View : 393

Tujuan pendidikan Kristen untuk membawa shalom sangat essential sebagai suatu respon terhadap pergerakan globalisasi. Globalisasi adalah konsep ekonomi yang memberikan kebebasan prosedur dengan tujuan untuk memberikan kesempatan bagi investment asing menanamkan modalnya. Hal ini membawa negara-negara super power yang memiliki karakteristik sistem ekonomi kapitalis mengontrol perekonomian dunia termasuk Indonesia.  Globalisasi membawa sistem teknologi dalam menjalankan bisnis sehingga menggilas perekonomian yang masih bersifat tradisional. Sistem globalisasi ini pada satu sisi menghidupkan perekonomian bangsa namun sepertinya tidak menawarkan harapan kepada mereka yang secara sosial, ekonomi dan politik adalah orang-orang yang “ordinary”.

Pada konteks pendidikan, sistem globalisasi ini berpengaruh kepada penawaran yang diberikan pihak sekolah kepada siswa. Keterampilan menggunakan komputer dan gaget, fasih berbahasa Inggris dan mandarin, keterampilan berkomunikasi, berfikir kritis dan menyelesaikan masalah adalah sederetan keterampilan yang biasanya ditawarkan sekolah dalam rangka berpartisipasi padai sistem ekonomi global. Tentu tidak semua siswa mendapat penawaran seperti ini khususnya bagi mereka yang berasal dari status sosial ekonomi bawah. Tidak mengherankan jika sampai sekarang masih terdengar informasi tentang tenaga kerja Indonesia yang diekploitasi. Mereka adalah graduate dari sekolah-sekolah yang menawarkan keterampilan “mendengarkan” bukan keterampilan “berfikir kritis”, yang memberikan kemampuan mencatat bukan “inquiry”. Mereka adalah “produk” dari sekolah yang membiasakan untuk mendengarkan guru ceramah berjam-jam tapi tidak untuk berbicara.  Mereka terbentuk menjadi orang yang “taat” namun tidak “kritis” sehingga wajar saja jika untuk membela hak mereka sendiripun yang telah diabuse secara fisik, emosi dan bahkan seksual tidak mampu.

Berefleksi dari situasi ini, kebutuhan yang menantang bagi pendidikan Kristen atau lebih spesifkanya guru-guru Kristen (terlepas mengajar di sekolah Kristen atau sekolah umum) tentang epistemologi mengetahui. Apakah mengetahui? Apakah tujuan mengetahui? Bagaimana “mengetahui” dipahami oleh guru dan siswa? Apakah “mengetahui” dipahami sebagai suatu proses mempersiapkan siswa untuk siap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik untuk keuntungan diri sendiri ataupun dapat berkompetisi mendapatkan pekerjaan atau untuk menciptakan bisnis mereka sendiri?  Apakah “mengetahui” dipahami untuk mempersiapkan siswa siap pakai oleh masyarakat secara professional? Atau dapat dipahami sebagai suatu proses untuk mempersiapkan siswa menjadi manusia yang terampil dan dapat menyelesaikan masalah yang sangat direquire pada bisnis kelas dunia?

Wolterstorff (2004) menjelaskan bahwa Kekristenan memiliki suatu visi shalom yang diartikan sebagai kerjasama dalam menciptakan hubungan yang benar dan harmonis dengan manusia yang lain dan membawa sukacita pada komunitas manusia tersebut. Sukacita pada komunitas manusia hanya memungkinkan terjadi ketika manusia hidup berdampingan dengan damai dalam semua aspek hubungannya: dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan kerabatnya, dengan alam (Yesaya 11: 6). Shalom terjadi ketika kita membawa damai sejahtera kepada masyarakat; kepada mereka yang “kerapuhannya” sangat tinggi dan diperlakukan tidak adil secara sistemik. Membawa shalom adalah panggilan kepada setiap komunitas termasuk institusi pendidikan Kristen.

Pemahaman seperti ini akan membawa transformasi terhadap apa yang perlu diketahui, mengapa perlu mengetahui dan bagaimana mengetahui dan mengimplementasikan apa yang diketahui. Dengan demikian pendidikan Kristen harus membuka mata siswanya terhadap mereka yang diperlakukan tidak adil baik secara politik, ekonomi dan sosial. Membuka mata terhadap kebenaran dan realitas disekitar mereka.  Hadirnya Shalom kiranya menjadi mimpi setiap kita, pendidik Kristen. 

Mery Fuji Siahaan

Penulis merupakan Dosen Kependidikan Di Universitas Pelita Harapan 

Komentar

Top