Zaman Yang Telah Rusak!

Author : Pdt Robert R Siahaan | Mon, 29 June 2015 - 11:56 | View : 1547
1203sincity.jpg

MENARIK sekaligus mencengangkan kasus-kasus yang terjadi di negeri ini dengan maraknya korupsi dalam jumlah hingga triliunan rupiah, ditambah lagi dengan terungkapnya makelar-makelar kasus (“markus”) hukum, perpajakan dan berbagai birokrasi lain di negeri ini (seharusnya disingkat “maksus”,  bukan “markus”--penggunaan istilah yang tidak benar ini adalah salah satu dosa para pakar.  
Suatu panggung keberdosaan manusia sangat jelas terpampang di depan mata kita semua yang menunjukkan betapa dahsyatnya dampak dosa menguasai hidup manusia. Sekalipun Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat mengagungkan nilai-nilai agama serta memiliki kegiatan keagamaan yang sangat aktif di level nasional maupun internasional namun seolah-olah tidak mempengaruhi tatanan hidup dalam ipoleksosobud negeri ini. Karena yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari dalam tingkah laku hidup bermasyarakat dan bernegara saat ini sangatlah memprihatinkan. Mulai dari cara berkendaraan bermotor di jalan-jalan perumahan hinga jalan raya di berbagai kota di Indonesia ini kelihatan carut-marut seolah tidak ada rambu-rambu atau peraturan lalu lintas. Misalnya saja soal penggunaan knalpot motor yang sering menggangu ketenteraman di perumahan-perumahan apalagi di rumah petak-petak dalam gang-gang kecil, lampu lalu lintas yang sering diterobos, seolah-olah dibiarkan karena tidak ada tindakan penertiban. Lebih jauh lagi dengan muncul jaringan teroris, banyaknya pabrik sabu-sabu beroperasi di ruko atau perumahan.  
    Institut Teknologi Bandung (ITB) baru saja secara resmi mencabut desertasi dan gelar doktor dari Mochamad Zuliansyah yang memplagiat tesis dari Syika Zlatanova dari Graz University of Technology, Austria. Lebih lagi kalau kita melihat ke panggung dunia, maka akan semakin besar lagi noda-noda kerusakan zaman ini dipertontonkan. Konflik Timur Tengah yang kelihatan tidak ada habisnya, manipulasi investasi fiktif secara besar-besaran di Amerika,  kasus pelecehan seksual di Vatikan, serta banyak lagi kasus-kasus yang sangat kompleks di dunia ini. Semakin dunia ini dipenuhi berbagai aliran agama, tidak menunjukkan adanya kualitas moralitas yang semakin membaik dibanding berpuluh tahun lalu. Kehidupan manusia zaman ini lebih digerakkan oleh semangat relativitas dan hedonisme, seperti diungkapkan Gandhi: “Akar kekerasan adalah kekayaan tanpa kerja, kesenangan tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, ilmu tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip.”

Menilai zaman
Kemampuan untuk membaca dan menyelami betapa besarnya kerusakan yang dialami manusia dalam dosa akan memberikan suatu pemahaman yang utuh dalam membaca dan menyikapi kehidupan dunia saat ini. Bagaimanakah cara orang Kristen mencermati dan menyikapi fenomena hidup manusia yang bergelimang dosa seperti saat ini? Seberapa besarkah sebetulnya potensi kerusakan dan dampak negatif dari kejatuhan manusia dalam dosa tersebut berdampak pada tatanan dan tingkah laku hidup manusia di zaman ini? Dalam kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa diungkapkan bahwa Allah secara tegas langsung memisahkan manusia dengan diri-Nya yang Mahakudus, Allah menjauh dari manusia dan Allah mengusir manusia dari taman Eden (Kej 3: 23). Mulai saat itu manusia harus bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhannya dan berjuang untuk kelangsungan hidupnya. Dalam proses inilah di sepanjang zaman manusia mengalami kejatuhan-kejatuhan dalam dosa yang semakin besar.
Setelah kejatuhan dalam dosa, Allah melihat kehidupan manusia yang semakin parah,  Akitab menggunakan kata “rusak”, bahkan Allah menilai bahwa bumi (kehidupan semua manusia) sudah sangat rusak (Kej 6: 11-12). Dahsyatnya pengaruh dosa terhadap manusia sudah terlihat jelas pada keluarga pertama yang dibentuk di bumi ini (keluarga Adam dan Hawa), ketika itu Kain dengan perencanaan yang matang membunuh Habel adik kandungnya sendiri oleh karena hal yang mestinya sangat sepele dibanding masalah yang lebih rumit dalam hidup ini. Padahal waktu itu Allah baru saja memperingatkan Kain  bahwa kemarahan dan dosa sedang mengintip dia (Kej. 4: 4-8).
Di zaman dimana ketika kehidupan manusia yang sangat tenang, hasil tanah berlimpah, bahkan dapat berinteraksi langsung dengan Allah sekalipun nyatanya tidak mampu membendung gemuruh hati manusia untuk melampiaskan dosanya. Apakah dunia ini akan semakin membaik atau akan terus semakin rusak? Alkitab menggambarkan bahwa setelah jatuh dalam dosa, manusia memiliki kecenderungan pikiran, motivasi dan tindakan yang berdosa, hati manusia pun telah dipenuhi oleh potensi kelicikan yang sangat besar (Kej 6: 5; Yer 17: 9). Dengan gambaran demikian, layakkah kita menuntut  kejujuran dan hati nurani yang murni dari orang-orang yang tidak mengenal Allah agar mereka melakukan kebenaran yang seutuhnya, bagaimana menyikapinya? Misalnya ketika pansus pemilu atau pansus Bank Century bekerja, sebagian orang meneriakkan “pakai hati nurani dong,” dan sebagian orang dengan begitu percaya menegaskan bahwa mereka bekerja berdasarkan hati nurani. Namun hati nurani yang bagaimana?  
Menuntut sekelompok orang agar bertindak berdasarkan hati nurani sebetulnya merupakan permintaan yang gamang, mengapa? Karena Alkitab telah menggambarkan betapa rusaknya hati nurani manusia yang telah jatuh dalam dosa yang cenderung egois dan menyimpang. Memang tidak berarti bahwa tidak ada lagi orang yang memiliki ketulusan dan kejujuran hati nurani, tetapi kalau permintaan itu dialamatkan kepada mereka yang sedang memanipulasi kebenaran akan makin tidak jelas akhirnya. Sehingga langkah-langkah hukum yang tegas dan tindakan preventif dari berbagai pihak lebih diperlukan dari pada menuntut hati nurani yang tidak jelas ukurannya.

Makna kebaikan
Apakah semua manusia pada umumnya (orang-orang yang tidak mengenal Allah) memang tidak lagi mempunyai hati nurani sehingga tidak mungkin mengharapkan keadilan dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbisnis dan bernegara?  Di satu sisi memang manusia telah jatuh dalam dosa, dan kecenderungannya adalah berbuat dosa, tetapi kecenderungan itu tidak berarti bahwa manusia berdosa tidak mampu lagi melakukan hal yang baik. Sehingga dengan demikian sifat kebaikan itu sendiri masih ada dalam diri setiap manusia, namun kecenderungan untuk menjadi baik atau jahat kadang-kadang dipengaruhi banyak aspek, misalnya latar belakang keluarga, kebudayaan, pendidikan, dsb. Semakin baik kualitas latar belakang seseorang semakin besar kemungkinannya untuk melakukan hal-hal baik dalam dunia ini dan sebaliknya. Walaupun demikian tidak selalu dapat dipastikan bahwa dari keluarga yang baik akan pasti selalu menghasilkan seorang pribadi yang baik, masih ada faktor-faktor lain yang membentuk dan mempengaruhi hidup manusia itu, termasuk misteri Allah yang tidak selalu dapat kita mengerti.
Bagaimana orang Kristen bersikap dan bertindak di tengah dunia yang semakin rusak ini? Apakah perbuatan baik orang Kristen akan menjadi sia-sia sehingga tidak perlu serius dalam menjalankan iman Kristen dalam seluruh aspek hidupnya? Justru dengan mengetahui bahwa manusia telah sedemikian jauh terjerumus dalam dosa seharusnya semakin memberikan kesadaran-kesadaran baru bagi orang Kristen untuk menyatakan hidup yang benar di dunia ini. Jika perbuatan baik dapat memberi dampak baik bagi seseorang atau terhadap suatu lingkungan berarti dibutuhkan semakin banyak perbuatan baik untuk menghasilkan dampak kebaikan yang semakin besar.
Sudah merupakan panggilan Allah bagi setiap orang Kristen yang telah dimurnikan hati nuraninya dan telah dibersihkan status keberdosaannya dalam kematian Kristus untuk senantiasa mempersembahkan segala yang terbaik dari pikiran, motivasi dan tindakannya untuk menjadi alat kemuliaan Allah di tengah dunia ini. Setiap orang Kristen dihadirkan di dunia untuk manjadi garam dan terang, menggarami dunia yang sudah rusak dan menerangi dunia yang semakin gelap (Mat 5:13-15). “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Mat 5:16. Soli Deo Gloria.

Komentar

Top