Natal Di Dalam Hati Untuk Aceh, Berani?

Author : Redaksi | Wed, 7 December 2016 - 21:43 | View : 1624

AKSI intoleransi kembali terjadi di negeri yang seharusnya menjunjung tinggi kebhinekaan. Kali ini giliran Pendeta Stephen Tong dan ratusan jemaatnya yang sudah berkumpul di Gedung Sabuga Bandung untuk ber-KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) menjadi korban penistaan kebebasan beragama.

Massa dari komunitas intoleran yang mengatasnamakan Pembela Ahlus Sunnah (PAS), Selasa petang (6 Desember) merangsek ke Gedung Sabuga, tempat acara. Mereka minta Stephen Tong tidak melanjutkan KKR yang dicurigai bisa memurtadkan (?) penganut agama lain. Soal benar tidaknya kecurigaan ini hanya Stephen dan Tuhan yang tahu.

Stephen Tong rupanya “patuh” kepada kelompok intoleran. Dia dan kelompok penjunjung tinggi intoleran (dimediasi polisi) akhirnya bersepakat tidak melanjutkan KKR sekaligus ibadah Natal tersebut.

Kebhinekaan (baca: kerukunan) khas Indonesia kembali tercoreng. Tidak bisa dibantah, Jawa Barat benar-benar menjadi provinsi yang masyarakatnya paling tidak toleran. Kasus KKR Sabuga tersebar ke seantero jagad. Kaum minoritas di negeri ini (khususnya Kristen) dipaksa mengukuhkan dirinya sebagai warga kelas dua.

Beberapa jam setelah peristiwa KKR gagal di Bandung, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menulis surat ditujukan kepada Kapolri Tito Karnavian. Isinya PGI menyayangkan polisi tidak mampu melindungi warga negara yang akan beribadah padahal acara KKR itu telah berizin. PGI menyayangkan polisi tunduk pada komunitas intoleran. PGI berharap kasus intoleran seperti ini tidak terulang. Pertanyaannya: mungkinkah?

Kembali diperlakukan seperti itu, lagi-lagi umat Kristen menempatkan dirinya sebagai pihak yang terzolimi dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan lantaran beriman hanya Tuhan-lah Hakim yang adil. So, umat Kristen tak boleh membalas, apalagi mendendam. Umat Kristen yang melow, boleh jadi cuma bisa meratap dan minta dikasihani sampai akhir zaman tiba. Sebuah sikap “nrimo” yang tidak lain adalah bentuk kecengengan umat Kristen.

Lantaran sikap seperti itu, sampai-sampai aktivis media sosial Denny Siregar gemas melihat umat Kristen yang tidak melakukan apa-apa padahal jelas-jelas telah diperlakukan tidak adil. Lewat tulisannya, Denny mengajak umat Kristen bergerak dan melawan bukan kepada umat Islam, tapi kelompok intoleran yang telah memanfaatkan agama untuk melakukan tindakan diskriminatif.

Denny Siregar bahkan “terpanggil” untuk mengutip Matius 10:16:  "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."

Sayang, menurut Denny, umat Kristen yang paham akan firman ini, ternyata tidak mengamalkannya. Banyak orang Kristen yang sibuk pasrah dan menyerahkan semua duka derita itu kepada Tuhan. Malah ada yang menyamakan gempa di Aceh sebagai bagian dari pembalasan pembubaran KKR Natal di Bandung. Celaka 12 kalau sinyalemen Denny ini benar.

Denny mengajak umat Kristen untuk melawan bukan berperang secara fisik atau menyiapkan pasukan, tapi  menggunakan konstitusi sebagai alat untuk mencapai tujuan. “Laporkan mereka yang mengganggu ibadah kalian kepada alat negara sebagai bentuk usaha. Baru hasilnya serahkan pada Tuhan,” begitu tulis Denny.

Sampai sedemikian jauh pihak yang dirugikan atas peristiwa KKR Sabuga Bandung tidak ada yang melaporkan ke polisi agar diproses lebih lanjut. Boleh jadi mereka beriman karena ada tertulis: “pembalasan adalah hak-Ku”.

Repotnya lagi semua kasus penistaan terhadap umat Kristen di negeri ini dijadikan “PR” agar Tuhan (sendirian) yang mengerjakannya. Sampai sedemikian jauh hanya PGI yang merasa perlu berkirim surat ke Kapolri dan menyampaikan kritik dan penyesalan kepada Tito Karnavian.

Baiklah saya bisa pahami jika umat Kristen menyerahkan pergumulan ketidakdilan dan perlakuan kesewenang-wenangan saudaranya hanya kepada Tuhan, sebab tugas atau misi utama umat Kristen adalah menebar kasih.

Jika memang begitu, saya belum tahu, apakah sudah ada komunitas Kristen (gereja) yang sudah menyiapkan SDM (relawan) untuk membantu saudara-saudaranya yang tertimpa bencana gempa bumi di Aceh. Sudahkah umat Kristen berniat mengumpulkan uang untuk membangun rumah warga atau tempat ibadah di Aceh yang hancur akibat bencana tersebut?

Lebih ekstrem, beranikah umat Kristen di Indonesia merayakan Natal tahun ini hanya di dalam hati dan dana yang sudah dikumpulkan untuk merayakan Natal dialihkan untuk membantu korban bencana Aceh? Dengan demikian Natal tahun ini tidak harus dibarengi dengan perayaan yang (maaf) motifnya hanya upaya untuk mengenyangkan perut (makan).

Perasaan saya mengatakan inisiasi “gila” ini bakal memunculkan pendapat pro dan kontra, seperti khawatir dituding kristenisasi atau politisasi bencana kemanusiaan, dan ujung-ujungnya tidak melakukan apa-apa kecuali berharap agar dikasihani karena terzolimi.

Semoga imbauan PGI yang dikeluarkan pertengahan November lalu agar “seluruh warga gereja mampu meresponi berbagai perkembangan yang terjadi belakangan ini  dengan sikap dan tindakan yang sungguh-sungguh mencerminkan kasih Kristus di tengah masyarakat” tidak sebatas akta, tapi benar-benar menjadi karya nyata. Selamat bergumul.[]

 

Gantyo Koespradono

*Penulis adalah Wartawan Senior

Komentar

Top