Galatia 6:10 Ala Basuki

Author : Redaksi | Tue, 13 December 2016 - 23:15 | View : 690
Tags : Ahok

BASUKI Tjahaja Purnama (Ahok) hari Selasa (13 Desember 2016) akhirya duduk sebagai pesakitan dalam sidang dugaan penistaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Di luar gedung pengadilan, kaum intoleran terus menunjukkan ketidaksenangannya kepada Ahok dan berharap agar majelis menghukum berat Ahok.

Dalam sidang tersebut, Ahok sempat melakukan pembelaan atas sangkaan bahwa ia menghina sebuah kitab suci dan sebuah agama gara-gara ia menyebut-nyebut ayat yang "mengatur" bagaimana memilih seorang pemimpin yang diyakini harus seiman.

Seperti yang sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan, Ahok pada sidang tersebut menjelaskan kembali bahwa ia tidak punya niat sedikit pun untuk menghina kitab suci, ulama, apalagi agama.

Dalam sidang yang berlangsung dua setengah jam tersebut, saya lebih banyak menangkap "khotbah" atau renungan/kesaksian daripada dalil-dalil hukum, baik yang disampaikan Ahok maupun tim penasihat hukumnya.

Menarik apa yang disampaikan Ahok -- ia sesekali menangis dan mengusap air mata -- bahwa ia berani membandingkan ayat yang selama ini diributkan dengan Galatia 6:10 yang berbunyi: “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Intinya, ayat seperti itu bisa saja digunakan oleh elite politik Kristen yang bernafsu menjadi penguasa. Saya menangkap, jika ada orang Kristen yang ingin menjadi penguasa menggunakan Galatia 6:10, Ahok pun akan berani mengatakan “jangan mau dibohongi pakai Galatia 6:10.”

Apakah dengan demikian Ahok bisa diklasifikasikan sebagai penghina Injil dan menistakan agama Kristen? Menurut saya tidak. Kata-kata itu justru sebagai peringatan agar elite politik Kristen jangan menggunakan ayat secara sembarangan.

Ahok mengungkapkan di NKRI, kepala pemerintahan bukanlah kepala agama/imam kepala. Bagaimana dengan oknum elit yang berlindung, dibalik ayat suci agama Kristen? Ahok menyebut mereka sebagai pengecut dan kemungkinan tidak bisa menang dalam pesta demokrasi.

Lantaran sulit untuk menang, maka yang diandalkan hanya SARA. Dalam konteks Indonesia, putra terbaik bersuku Padang dan Batak Islam, menurut Ahok, tidak mungkin menjadi pemimpin di Sulawesi, apalagi di Papua. Hal yang sama, seorang Papua, tidak mungkin menjadi pemimpin di Aceh atau Padang.

Kondisi itu sulit bagi Indonesia untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik dari yang terbaik. Sebaliknya kita akan mendapatkan yang buruk dari yang terburuk, karena rakyat pemilih diarahkan, diajari, dihasut, untuk memilih berdasarkan SARA saja. Singkatnya, hanya memilih yang seiman.

Dalam konteks itu, Ahok hendak mengatakan bahwa apa yang disampaikannya di Kepulauan Seribu pada akhir September 2016 soal ayat suci yang sayangnya telah diedit sedemikian rupa oleh Buni Yani dan memunculkan huru hara politik adalah untuk mengingatkan para elite politik agar jangan memain-mainkan ayat suci dalam kontestasi di pilkada. Sebaliknya, bertarunglah secara fair.

Ahok kemudian mengutip sebagian dari buku yang pernah ditulisnya: “Selama karier politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti pemilu, kampanye pemilihan bupati, bahkan sampai gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan “roh kolonialisme”.

Ayat itu sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elite, karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung di balik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya.

Banyak tokoh yang menyimpulkan “kesaksian” Ahok yang diungkapkan dalam sidang perdana kasusnya sebagai langkah berani seorang warga negara Indonesia yang cinta pada negeri tumpah darahnya yang berbhineka tunggal ika.

Galatia 6:10 sebagaimana dikutip Ahok sekaligus merupakan peringatan bagi orang-orang Kristen agar jangan arogan dalam beriman. Sebagai umat Kristen, kita harus bisa membedakan mana urusan iman (akidah) dan mana urusan duniawi (sekuler).

Saya tidak tahu seperti apa akhir dari “episode” Ahok, apakah kelak majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara berani menjunjung tinggi keadilan dalam arti yang sesungguhnya setelah mendengar kesaksian Ahok, atau mempertimbangkan (baca: takut) massa yang “mengadili” Ahok karena punya konsep sendiri tentang keadilan.

Saya berharap kasus “pengadilan” ala Pontius Pilatus atas Yesus ribuan tahun lalu tidak terulang di zaman yang serba canggih ini. []

Gantyo Koespradono

*Penulis adalah Wartawan Senior

Komentar

Top