Natal Itu Subversi, Terima Kasih FPI

Author : Redaksi | Sun, 25 December 2016 - 22:55 | View : 719

ALHAMDULILLAH. Puji Tuhan! Perayaan dan ibadah Natal 2016 di negeri tercinta ini berjalan dengan aman dan damai. Umat Kristen di Indonesia mesti bersyukur dan berterima kasih kepada umat Islam yang ikut menjaga keharmonisan dan kebinekaan bangsa kita.

Selayaknya pula umat Kristen di negeri nan-indah ini berterima kasih kepada saudara-saudaranya yang tergabung dalam FPI yang tempo hari melakukan sweeping ke mal-mal untuk mengingatkan kepada sejumlah pihak agar tidak mengenakan atribut natal.

Banyak memang yang kesal dengan ulah ormas keagamaan tersebut karena dianggap “mencampuri urusan dalam negeri umat Kristen.” Tapi, tidak sedikit umat Kristen yang justru mengapresiasi FPI yang dikesankan alergi terhadap “simbol-simbol” natal (kekristenan).

Lho, kok ada yang mengapresiasi? Ya, benar, sebab gara-gara FPI, umat Kristen tersadar bahwa peringatan natal selama ini telah “ditunggangi” para pelaku bisnis untuk mencari keuntungan dan melestarikan tradisi atau budaya Barat yang (maaf) identik dengan kemewahan.

Kemewahan itu digambarkan dengan pohon natal yang gemerlapan, rusa bertanduk menarik kereta terbuat dari emas, dan Sinterklas yang diidentikkan dengan pemegang monopoli kebenaran dan Piet Hitam yang disimbolkan sebagai manusia berkasta rendah penuh dosa dan karenanya layak dizolimi dan disuruh-suruh layaknya budak.

“Penjajahan” budaya ala Barat itu lewat “ritual” natal itu terbukti cukup ampuh, sehingga membuat orang Kristen di Indonesia lupa akan jati dirinya, sehingga setiap natal tiba merasa perlu harus mengenakan jas, ke gereja bagi yang perempuan harus mengenakan pakaian bak Cinderella bersepatu kaca. “Bahkan mungkin saja ada jemaat yang ke gereja saat natal mengenakan perhiasan layaknya toko emas berjalan,” kata Ivan Gilang Kristian, calon pendeta GKJ Tangerang, saat menyampaikan refleksi natal di Gereja Kristen Jawa Tangerang, Sabtu (24 Desember) malam.

Dampak “penjajahan” seperti itu membuat banyak orang Kristen lupa bahwa sesungguhnya kelahiran Yesus Kristus ke dunia ini sarat dengan kemiskinan, kesederhanaan dan penolakan, bahkan penzoliman. Saat Maria akan melahirkan Yesus dan mau numpang “nyeprot” saja tak ada yang sudi memberikan tumpangan. Ya, apa boleh, tak ada rumah bersalin, Yesus pun lahir di kandang kambing (domba).

Oleh sebab itulah, ketika natal tahun ini (25 Desember) jatuh pada hari Minggu, gereja saya (GKJ Tangerang) belajar untuk tidak berwah-wah. Ibadah yang biasanya diselenggarakan tiga kali, cukup sekali. Ibadah malam natal (Sabtu 24 Desember) tidak ada makan dan minum. Panitia tidak menyediakan setetes pun air putih, teh atau kopi, apalagi makanan kecil.

Saat ibadah natal Minggu 25 Desember, kebiasaan makan siang juga ditiadakan. Panitia melalui wilayah-wilayah hanya menyediakan makanan kecil tiga rupa. Panitia tidak diperkenankan minta sumbangan ke jemaat. Panitia hanya diminta mengelola anggaran dari majelis (pengurus) gereja sebesar Rp 8 juta. Dalam ibadah natal, seperti biasa, majelis mengedarkan dua kantong kolekte. Uang yang terkumpul dari salah satu kantong kolekte disepakati untuk disumbangkan bagi korban bencana gempa bumi di Aceh.

Di gereja tidak ada hiasan ala Barat. Di depan mimbar hanya ada miniatur kandang domba dan palungan. Orang Majus (Timur Tengah) dan gembala yang memberikan persembahan kepada bayi Yesus diganti dengan petani dan gembala (pengangon) bebek. Betul-betul Indonesia “banget.”

Bahwa belakangan ini ada sementara kalangan yang tidak suka dengan hal-hal berbau natal – bahkan mengucapkan selamat natal pun sebaiknya jangan – menurut Pdt Hardiyan Triasmoroadi dari GKJW Batu Malang, bukan sesuatu yang baru.

“Sejak Yesus lahir, bahkan sesudahnya, natal selalu ditolak. Penolakan peringatan natal itu justru datang dari kalangan Kristen sendiri,” kata Hardiyan saat menyampaikan khotbah natal di GKJ Tangerang, Minggu (25 Desember).

Pada abad-abad pertama, menurut Hardiyan, penguasa, bahkan gereja menganggap memperingati natal sebagai perbuatan subversi dan gereja melarangnya. Harap maklum, sebab di dalam Alkitab memang tidak ada tertulis bahwa Yesus lahir pada 25 Desember.

Berdasarkan catatan sejarah, natal yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember adalah bikinan Kaisar Konstantin pada tahun 325, saat dia menang perang melawan jenderal Maximeus dan memproklamasikan kekristenan menjadi agama negara.

“Fatwa” Konstantin memunculkan pro dan kontra di kalangan gereja. Oleh sebab itulah ada gereja dan negara yang menganggap peringatan natal sebagai kegiatan “subversi” hingga sekarang dalam bentuk yang berbeda.

Sekali lagi, pro dan kontra natal bagi umat Kristen di sepanjang abad, bukan sesuatu yang baru dan tahun depan di saat natal tiba, pasti akan muncul lagi suara mayor dan minor. Biasalah itu. Pdt Hardiyan cuma mengingatkan orang-orang Kristen agar jangan memedulikan dan memuji-muji diri sendiri, tapi belajarlah memahami dan peduli kepada orang lain, termasuk mereka yang mungkin menyakiti kita.

Ribut-ribut soal simbol dan ornamen natal adalah siklus tahunan yang usianya telah berabad-abad. Orang Kristen tidak perlu “gumunan” (heran dan bingung). Ia akan terus datang. Aksi penolakan itu pasti memunculkan pro dan kontra.

Faktanya, ketika anggota FPI menggeruduk sejumlah mal agar pengelola mal mencopot ornamen-ornamen berbau natal, yang keberatan dan menyesalkan justru mayoritas saudara-saudara muslim. Saya menduga yang kontra terhadap FPI lebih dari 90 persen.

Teman-teman saya yang baik hati itu tetap memberikan ucapan dan salam natal kepada saya, karena mereka berprinsip persaudaraan dan penghargaan atas keberbedaan di negeri ini jauh lebih penting untuk negeri ini daripada menganggap peringatan natal sebagai sebuah kegiatan subversi.

Sekali lagi, ibadah dan perayaan natal di negeri ini telah berlangsung dengan damai dan sejahtera. Terima kasih umat Islam yang rahmatan lil alamin. Terima kasih FPI, karena kegiatan Anda, umat Kristen di negeri ini diingatkan kembali akan makna natal yang sesungguhnya.

Bahkan program Anda menjelang natal tempo hari telah menyadarkan umat Kristen di Indonesia untuk sadar bahwa menjadi pengikut Kristus itu mengandung konsekuensi: dihina dan ditolak.

Terima kasih FPI. Salam damai, karena sesungguhnya kita bersaudara dalam kemanusiaan. Bravo negeriku nan-indah: Indonesia.[]

Oleh Gantyo Koespradono

*Penulis adalah Wartawan Senior

Komentar

Top