Umat Muslim Maluku Bantu Renovasi Gereja

Author : Ronald | Fri, 20 January 2017 - 16:15 | View : 282
toleransi-di-maluku.png
Warga muslim dari kampung Hitu Lama dan Hitu Hesing tengah membantu renovasi gedung Gereja Protestan Maluku jemaat Imanuel, Galala, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Foto: malukupost

Reformata.com, Maluku- Praktik gotong royong serta kerukunan telah menjadi sebuah nilai luhur di bumi nusantara, jauh sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Praktik dan nilai-nilai inilah yang terus berperan penting dalam merekatkan keutuhan bangsa Indonesia yang majemuk. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat muslim dari Hitu Lama dan Hitumesing di Kecamatan Leihitu, Kota Ambon, Maluku. Dengan semangat persaudaraan dan kerukunan mereka bahu membahu membantu proses renovasi Gereja Protestan Maluku (GPM) jemaat  Imanuel, Negeri (kampung) Galala, yang terletak di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Telah sejak puluhan tahun silam masyarakat Hitu menjalin persaudaraan (pela) dengan masyarakat Galala. Bersama-sama mereka membongkar gedung gereja yang telah berdiri sejak tahun 1956 itu. Bangunan yang pernah menjadi saksi bisu bagi kerukunan antar umat beragama di Kota Ambon itu harus menjalani renovasi, karena telah termakan usia.

Sementara itu Kepala Desa Galala, John Van Capelle, mengatakan bahwa nilai-nilai kearifan lokal tersebut telah sejak lama tertanam di antara warga kedua kampung tersebut. Atas dasar semangat persaudaraan pada tahun 1959 warga Hitu Lama dan Galala saling sepakat untuk mengangkat pela dan mengenyampingkan segala perbedaan yang ada diantara mereka, demi menciptakan keharmonisan.

“Wujud kegiatan tersebut terbukti disetiap kegiatan masyarakat Galala dan Hitu Lama. Kedua negeri selalu melibatkan Pemerintah beserta masyarakat. Hal ini terbukti dengan kegiatan pembongkaran gereja yang dilakukan saat ini,” ujar John, seperti dilansir malukupost.com (17/1).

Sementara itu tokoh masyarakat dari Negeri Hitu Lama, Salhana Pelu, dalam penjelasannya mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat Hitu Lama dalam renovasi gereja tersebut bukanlah sebuah hal baru. Ia menuturkan, masyarakat Hitu juga ikut ambil bagian dalam proses pembangunan gereja tersebut pada tahun 1956.

“Keterlibatan warga Hitu dengan menyumbangkan tenaga dan material untuk membangun gereja. Kami datang dengan sukacita untuk membantu basudara (para saudara) Galala merenovasi gereja,” ujar Salhana Pelu.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Majelis Jemaat GPM Imanuel, Pdt. Joice Saimima, mengatakan proses renovasi gereja Imanuel Galala telah menjadi sebuah tanggung jawab bersama. Atas dasar itulah masyarakat Galala tidak pernah lupa untuk selalu melibatkan para saudara muslim mereka dari Hitu Lama dan Hitumesing, dalam setiap proses renovasi gereja. Lebih lanjut ia mengutarakan, para tokoh masyarakat dari Hitu Lima dan Hitumesing turut serta dalam peletakan batu pertama pembangunan gereja pada 12 Juli 2016. Saat proses pembongkaran bangunan lama berlangsung, maka warga serta tokoh masyarakat dari kedua kampung itu kembali dilibatkan.

“Yang menjadi perhatian bersama adalah dalam gereja Imanuel ini ada 12 tiang yang merupakan sumbangan dari dua Negeri, sehingga itu akan kita jaga dan di gereja baru juga akan tetap ada 12 tiang,” tutur Pdt. Joice.

Komentar

Top