Respon Seniman Kristen Terhadap Situasi Sosial Politik Saat Ini

Author : Nick Irwan | Fri, 10 February 2017 - 16:24 | View : 202

Reformata.com, Tangerang- Komunitas Seruni (Seni Rupa Kristen Indonesia) bekerjasama dengan School of Design (SoD) UPH kembali menggelar pameran karya lukisan. Kali ini pameran tersebut mengangkat tema ‘Ketika Aku’,  diadakan di Galeri Gedung B lantai 1, Kampus UPH Karawaci, Tangerang. Pameran tersebut sudah berlangsung dari tanggal 6 Februari 2017 dan akan berakhir pada tanggal 11 Februari 2017, besok. Dari keterangan tertulis yang diterima redaksi Reformata, tema ‘Ketika Aku’ diusung para pengiat seni itu sebagai respon dari situasi sosial-politik saat ini yang dianggap memprihatinkan, akibat dari adanya permainan isu agama dalam kontestasi legitimasi kekuasaan.  

“Keadaan dimana banyak pihak di dunia ini mengejar keberuntungan material, dan mengabaikan orang-orang yang menjadi korban ketamakan mereka. Melalui karya seni ini, Seruni ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya ukuran kerohanian seseorang diukur melalui kepekaan mereka dalam meresponi penderitaan atas ketidakberuntungan mereka dalam kehidupan. Selain itu melalui karyanya Seruni ingin kembali menyadarkan bahwa pusat dari segalanya adalah Yesus, bahkan dalam Matius 25:35 Yesus sendiri merepresentasikan dirinya sebagai sesama kita yang tidak beruntung,” demikian kutipan dari pernyataan tertulis yang diterima Reformata, (7/2).

Salah satu pengiat seni dari Seruni, Setiyoko Hadi, memamerkan lukisan yang diberi judul ‘Anak Emas’, yakni sebuah lukisan yang menggambarkan situasi kondisi masyarakat Papua di tengah tambang emas Freeport. Lukisannya bergambarkan 12 wajah anak Papua bersama koin-koin mata uang beragam negara, beserta seorang ibu yang masih menggunakan pakaian tradisional papua sambil menggendong anak, dengan latar belakang tambang Freeport yang dilukis terbalik. Latar belakang Freeport terbalik ini menggambarkan adanya ketidakwajaran dari kondisi di sana. Kemudian 12 wajah anak Papua yang berada di antara koin mata uang beragam negara menggambarkan adanya pertarungan antara kepentingan lokal masyarakat Papua dengan kepentingan Industri dan kepentingan uang. Kemudian gambar seorang ibu yang menggendong anak sebagai simbol kasih sayang ditampilkan lebih menonjol di lukisan itu  untuk menggambarkan adanya perjuangan dari masyarakat lokal Papua di garda depan. Setiyoko juga menambahkan dari sisi rohani, lukisan ini disimbolkan dengan 12 wajah anak Papua, angka 12 disini mengacu pada jumlah murid Yesus, dan gambar seorang ibu menggendong anak sebagai simbol Maria, Ibu Yesus. Untuk judul ‘Anak Emas’ memiliki dua pengertian disini, pertama anak-anak yang hidup di lingkungan pertambangan emas, dan kedua mengingatkan bahwa semua manusia, termasuk anak-anak ini, adalah anak emas dari Allah sendiri.

Tidak hanya menjelaskan arti dari lukisannya, Setiyoko juga memberikan pandangan bahwa kondisi apapun di dunia termasuk keadaan sosial politik saat ini yang dihadapi Indonesia menjadi sumber inspirasi para seniman untuk mengeskpresikannya melalui karya seni.

“Melalui karya seni yang kami buat ini, kami ingin menyampaikan suatu pesan. Tentunya sebagai seniman kami merasa puas ketika karya seni kami dapat dimengerti oleh penikmat. Kemudian ketika karya seni ini dimengerti, kami berharap lukisan ini mampu mengubah cara pandang orang yang melihat, mampu memberi masukkan dan pencerahan bagi orang sekitar, dan meningkatkan kepekaan seseorang untuk menyadari keadaan sekitar,” ungkap Setiyoko Hadi.

Selain Setiyoko, Daniel salah satu pelukis Seruni juga menceritakan lukisannya yang diberi judul ‘KasihNya untuk Semua’. Melalui lukisannya ia menggambarkan pluralisme Indonesia melalui simbol-simbol budaya seperti baju daerah yang dikenakan orang-orang yang sedang berpegangan tangan dan berkumpul, kemudian juga adanya rumah-rumah adat, yang digambarkan untuk  semakin menekankan keragaman Indonesia.

“Pesan yang ingin disampaikan sederhana saja, yaitu mengenai pluralisme atau keragaman Indonesia yang kini mulai memudar. Kekayaan budaya Indonesia mulai hilang tergantikan kepentingan-kepentingan yang bahkan mengatasnamakan kepentingan agama,” jelas Daniel.

Dengan lukisannya Daniel ingin mengingatkan kembali bahwa Indonesia memang terdiri dari beragam suku dan budaya, dan Yesus menjadi fokus dan sumber kasih untuk menyatukan semua orang, semua suku, dan kalangan, tanpa membeda-bedakan. Perbedaan itu indah dan seharusnya menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

Melalui 17 karya seni yang dipamerkan ini Seruni berharap agar kehadirannya mampu memberikan sumbangsih dalam menolong kita bersama untuk berdialog serta menikmati makna reflektif yang hampir tenggelam oleh kegaduhan dunia.

Komentar

Top