Mengenal Gejala Perimenopause

Author : Redaksi | Fri, 17 February 2017 - 18:50 | View : 323

Dok Stephanie, saya punya pertanyaan seputar masa menopause. Saya seorang ibu usia 48 tahu dengan 2 anak yang sudah dewasa, yang tertua lelaki berusia 26 tahun dan adiknya perempuan, berusia 24 tahun. Semuanya sehat dan sudah berkerja. Keluhan saya belakangan ini (sudah kira-kira hampir setahun) menstruasi saya tidak teratur seperti sebelumnya, misalnya bulan ini saya dapat haid bisa-bisa bulan depan atau beberapa bulan berikutnya saya tidak haid tapi kemudian haid lagi. Selain itu juga kalau dulu lamanya haid rata-rata 5 hari sekarang 2 hari saja sudah bersih. Yang aneh saya rasakan pada satu tahun belakangan ini terutama pada emosi saya yang menjadi kurang stabil misalnya saya lebih mudah tersinggung dan menjadi marah pada hal-hal yang sepele khususnya bila saya merasa suami kurang memperhatikan keadaan saya selain bisa membuat saya menjadi depresi. Secara fisik saya sering merasa jantung berdebar-debar, pusing, kurang tidur, vagina menjadi lebih kering sehingga tidak nyaman saat beraktifitas seksual bahkan gairahpun sangat berkurang, rasa semburan panas pada wajah dan seluruh tubuh sering saya rasakan. Hatipun hampir selalu terasa galau.

Pertanyaan saya dok:

  • Apakah keadaan saya ini bahaya?
  • Apakah saya terkena depresi karena menjelang menoupause?
  • Apa tanda-tanda depresi pada saat akan menopause?
  • Apa penyebabnya?
  • Adakah cara untuk mencegahnya?

Atas jawaban dokter, terima kasih

Ibu Lely

Di Makassar, Sulawesi Selatan

Jawab:

Yang terkasih Ibu Lely di Makassar, sebenarnya keadaan Ibu Lely normal bagi seorang perempuan bila pada usia sekitar 48 tahun sudah akan masuk ke masa yang disebut perimenopause atau periode menjelang menopause dengan segala keluhannya. Selama keluahn-keluhannya masih bisa teratasi maka keadaan aman, tapi keadaan dapat menjadi cukup berbahaya apabila disertai keadaan depresi yang cukup serius terutama bila menjurus ingin bunuh diri sehingga butuh penanganan yang cepat dan professional.

Memang ada kemungkinan ibu masuk pada keadaan gejala depresi menjelang menopause yang umunya sering terjadi pada rentang usia 45-50 tahun dengan rata-rata sekitar usia 51 tahun, yang kebenaran terjadi pada ibu di usia 48 tahun. Tapi saya berharap ibu secepatnya dapat mengatasi keadaan ini sehingga tidak akan masuk pada keadaan yang berbahaya. Untuk hal ini ibu dapat seceptnya mencari bantuan seorang ahli dalam bidang ini sehingga ibu jangan masuk ke gejala depresi perimenopouse yang berat.

Tanda-tanda depresi perimenopause terjadi oleh karena adanya penurunan kadar hormone-hormon tertentu yang terutama berhubungan dengan reproduksi misalnya hormone estrogen dan progesterone sehingga tidak ada kemungkinan untuk bisa hamil. Siklus menstruasi juga menjadi tidak teratur dan keadaan seperti ini bisa berlangsung kurang lebih sepuluh tahun. Selain itu terjadi juga perubahan siklus haid dengan gejala mual, pusing, rasa jantung berdebar, sulit tidur, konsentrasi dan memori yang menurun, kekeringan vagina, nyeri saat melakukan hubungan intim, infeksi saluran kencing, inkontinentia urine, kegemukan, dan keluhan rasa panas di dada.

Pada penelitian choirah. M (tahun 2004) di Jakarta, ditemukan hubungan antara penurunan kadar estrogen dengan perubahan mood yang terjadi pada masa perimenopouse. Dikatakan dapat ditemukan depresi sebanyak 37,9% pada perempuan perimenopouse yang mengalami penurunan kadar estrogen selain juga dapat terjadi kesulitan tidur, cepat lelah, penurunan gairah seksual, perubahan perilaku, dan penurunan fungsi kognitif. Sedangkan dari aspek sosiokultural dapat terlihat peran lingkungan yang juga bisa menimbulkan stress sampai dengan depresi yaitu misalnya saat datang masanya pensiun, kehilangan pasangan hidup, sakit-sakitan oleh karena usia tua sehingga menurunnya aktifitas fisik dan sosial. Disamping itu harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesismistis, juga dapat menyebabkan munculnya depresi dan pikiran-pikiran tentang kematian yang bisa berlanjut dengan usaha-usaha bunuh diri.

Penyebab depresi perimenopause adalah:

  • Karena kondisi yang berhubungan dengan penurunan kadar hormone estrogen.
  • Faktor psikolojik yang berhubungan dengan persepsi diri disebabkan perubahan fisik akibat bertambahnya umur.
  • Faktor sosiokultural karena adanya perubahan peran.

Pada fase kehidupan ini, faktor-faktor lain adalah:

  • Adanya riwayat depresi sebelum perimenopause, perasaan menolak pada menopause dan proses menjadi tua, serta faktor peningkatan stress karena kehidupan usia lanjut.
  • Hubungan interpesonal yang tidak harmonis terutama dengan pasangan hidup, tidak ada pekerjaan, perasaan rendah diri, kurangnya aktifitas sosial, problem finansial, dan rasa kehilangan peran karena tidak produktif lagi dapat menyebabkan munculnya depresi pada masa-masa perimenopause.
  • Merokok dan kurangnya aktifitas fisik juga bisa memperparah depresi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada perempuan dengan perimenopause yang cenderung menyebabkan terjadinya depresi antara lain:

  • Supaya dilakukan pengaturan nutrisi secara benar, pola makan seimbang (rendah lemak, banyak sayuran, suplementasi vitamin dan mineral).
  • Hindari makanan berkadar garam tinggi, hindari makanan dan minuman yang manis atau mengandung banyak gula supaya daya tahan tubuh selalu terjaga dan penurunan kadar hormone estrogen tidak terjadi secara d rastis.
  • Bila merokok supaya segera hentikan, awasi berat badan dan keseahatan secara umum.
  • Pemeriksaaan hormon harus dilakukan secara teratur dan bila diperlukan lakukanlah terapi hormone replacement.
  • Faktor eksternal lain yang perlu diawasi termasuk persiapan masa pensiun dan aktifitas sesudah masa produktif berlalu adalah olah raga merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempertahankan kebugaran, menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan dan dapat memperbaiki suasana hati.
  • Tingkatkan kemampuan untuk dapat menerima perubahan jasmani dan peran dalam kehidupan, tingkatkan kemampuan komunikasi dengan pasangan dan berbagi kegiatan bersama.
  • Serta memberi lebih banyak kasih sayang dapat menghindarkan diri terhadap kemungkinan timbulnya depresi.

Kegiatan spiritual juga sangat membantu memperkaya dan memperbesar kemampuan menerima keadaan sehingga kebahagiaan lebih dirasakan.

Demikianlah jawaban kami, TUHAN memberkati.

dr. Stephanie Pangau M.P.H

Kontributor Rubrik Konsultasi Kesehatan Reformata

Komentar

Top