Dialog Masih Jadi Cara Ampuh Menangkal Radikalisme

Author : Ronald | Thu, 6 April 2017 - 21:11 | View : 110
sidra-uki-edit.jpg
Pengamat terorisme dari FISIPOL UKI Dr. Sidratahta Mukhtar usai memoderatori seminar kebangsaan yang membahas upaya merawat kemajemukan dalam bingkai NKRI di Graha William Soeryadjaya, kampus FK-UKI, Rabu (5/4/2017). Foto: Ronald

Reformata.com, Jakarta- Suburnya pertumbuhan kelompok radikal di Indonesia dewasa ini tak hanya menjadi sebuah ancaman nyata bagi kehidupan bertoleransi, namun juga potensial mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab itu dibutuhkan sinergi segenap elemen bangsa seperti Pemerintah dan masyarakat dalam rangka menghambat laju penyebaran dari paham-paham yang bertujuan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa. Sayangnya hingga kini sebagian besar masyarakat masih saja berpandangan bahwa tugas untuk menangkal praktik-praktik intoleran dan radikalisme hanya menjadi kewajiban pemerintah semata, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulanan Terorisme (BNPT). Sebagai respon atas keadaan itu pengamat terorisme dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Dr. Sidratahta Mukhtar mengatakan partisipasi masyarakat dalam memerangi bahaya radikalisme sangat diperlukan. Menurutnya, keikutsertaan masyarakat dapat dilakukan dengan memperbanyak ruang dialog antar umat beragama, karena cara itu terbukti ampuh melawan penyebaran radikalisme yang menjurus ke arah terorisme, di Indonesia.

“Dialog itu kan bentuknya seperti ini. Misalnya, UKI yang menyelenggarakan seminar mengundang berbagai komunitas non Kristen, kemudian terjadi dialog. Kemudian dialognya saling respect, saling menghargai, dan lain-lain. Nah inilah yang kurang. Artinya eksklusivisme itu menjadi penyebab intoleransi yang berujung pada tindakan yang radikal,” ujar Sidra saat ditemui Reformata usai memoderatori seminar kebangsaan diselenggarakan oleh UP Konseling dan Kerohanian UKI dengan tajuk “Merawat Kemajemukan Dalam Bingkai NKRI”, di Graha William Soeryadjaya, kampus UKI Cawang, Jakarta (4/6/2017).

Sebagai bagian dari upaya merekatkan bangsa ia juga melihat bahwa berbagai gagasan seputar kemajemukan harus terus mendapatkan porsi melalui pemberitaan di media massa. Di sisi lain, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UKI ini juga mengingatkan agar bangsa Indonesia belajar banyak dari sejarah runtuhnya Yugoslavia, yang disebabkan perang ideologi.

“Gagalnya Yugoslavia itu karena perang ideologi agama, jadi akhirnya Negara bubar. Nah saya kira di sini meskipun sifat dasar kita sangat toleran, sangat plural, tetapi seperti yang dikatakan tadi perlu terus dibicarakan dan didialogkan, ” imbuhnya lebih lanjut.

Sidra melanjutkan, dialog yang dilakukan harus konsisten berada dalam bingkai pluralisme dan toleransi. Selain itu, klaim merasa bahwa ajaran agamanya paling benar juga mesti dikesampingkan.

"Ke-Indonesiaan itu harus dirajut sedemikian rupa sehingga kita tidak salah langkah,” pungkas Sidra.

Komentar

Top