SUP - MENJAWAB ZAKIR NAIK (SERI.2)

Author : Bigman Sirait | Sat, 8 April 2017 - 21:43 | View : 8951
Pdt Bigman Sirait
www.twitter.com/bigmansirait

MELANJUTKAN tentang pernyataan dan pertanyaan Zakir Naik, ketika menjawab seorang mahasiswi; Jika Allah tidak dilahirkan maka siapa yang menciptakan Dia. Hal ini berkaitan dengan Yesus Kristus yang dilahirkan, apakah Dia Allah. Zakir menjawab dengan memberikan sebuah pertanyaan; Sahabat saya Tom memiliki saudara laki-laki, dan dia melahirkan. Apakah anaknya laki-laki atau perempuan? Si mahasiswi sempat menjawab salah, namun kemudian sadar bahwa laki-laki tidak mungkin melahirkan. Berangkat dari sini Zakir memberi kesimpulan bahwa laki-laki tidak mungkin melahirkan. Karena itu pertanyaan apakah anaknya laki-laki atau perempuan tidaklah relevan. Demikian juga dengan mempertanyakan siapa yang melahirkan Allah, tidaklah relevan. Sejatinya dalam hal ini tidak ada diskusi tentang Allah dilahirkan atau tidak. Yang ada, adalah pengalihan permasalahan ketidakmungkinan laki-laki melahirkan. Si mahasiswi berani bertanya tapi sayang tak punya pemahaman iman yang baik atas apa yang dipertanyakan. Dia terjebak.

Nikmati Menu Lainnya: #SUP - MENJAWAB ZAKIR NAIK (SERI.1)

          Analogi jawaban Zakir Naik sejatinya asburd. Bagaimana mungkin membandingkan ketidakmungkinan laki-laki melahirkan, sehingga Allah pun tak mungkin dilahirkan. Pertama adalah betul laki-laki tak mungkin melahirkan, itu tak masuk akal. Tapi Allah tidak ada dalam ruangan pernyataan itu, Dia yang menciptakan laki-laki tidak bisa melahirkan dan menetapkan perempuan yang melahirkan. Allah bukan soal masuk atau tidak masuk akal, melainkan melampaui akal. Ingat baik-baik; Adalah masuk akal jika Allah tidak masuk akal, yang tidak masuk akal adalah jika Allah masuk akal, karena Allah Maha dan melampaui akal manusia (Yesaya 55:7-8, Yeremia 32:17,27). Membandingkan laki-laki tidak mungkin melahirkan dengan hakekat Allah yang Maha Kuasa adalah merendahkan derajat Allah Sang Maha. Jika dibalik, Allah menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, apakah laki-laki juga bisa? Jawabannya jelas tidak! Karena memang berbeda hakekat. Laki-laki harus menikah, sehingga spermanya membuahi sel telur wanita dan lahirlah seorang anak. Jelas sekali hakekat Allah berbeda dengan manusia, bagaimana mungkin Zakir Naik sebagai umat beragama bisa menyamakannya. Bahasa gaulnya, gak level. Nabi Musa dan kitab Mazmur (Zabur) berkata dengan jujur bahwa manusia hanyalah debu (Kejadian 2:7, Mazmur 104:29). Allah bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki, termasuk soal kelahiran. Jika Allah tidak bisa, justru itu yang jadi pertanyaan, apakah Dia Allah yang sejati atau bukan? Yang tidak bisa segala hal itu “allah” ciptaan pikiran manusia, sehingga terikat dalam ruang manusia.  

Nikmati Menu Lainnya: #SUP - PILKADA DAN ISU SARA

          Bahwa soal Yesus, Allah yang dilahirkan dari Bapa, kesaksian Alkitab jelas dan tegas. Tapi ini giliran berikut dibedah. Sekarang kita fokus soal hakekat Allah dan manusia. Jika dikatakan Allah mendengar doa kita, apakah itu berarti Dia memiliki telinga seperti orang Indonesia, atau lancip seperti Spock di Star Trek? Lalu Allah itu pria atau wanita? Sebutan Allah Bapa tidak menunjukkan jenis kelamin. Juga, bahasa apa yang dipahaminya dengan baik, karena jangan-jangan Allah tidak paham bahasa Indonesia, itu akan membuat kita percuma berdoa. Ada orang yang mampu berbahasa banyak, tapi belum ada manusia yang mengerti semua bahasa yang ada dikolong langit ini, kecuali Allah, Sang pencipta dan pemilik bahasa. Jadi analogi yang dipakai oleh para nabi dan rasul, menggambarkan Allah sedekat mungkin dengan keseharian manusia, namun bukan dalam arti seutuhnya, hanya sebatas kuantitas bukan kualitasnya. Supaya manusia mampu memahami Allah. Analogi Zakir lewat garis batas; Out!!! kata pemain bola. Oleh karena itu pengenalan akan Allah bukan soal seberapa pintarnya kita, tapi seberapa dekat hubungan kita dengan Nya dan seberapa taat kita pada Firman Nya (Matius 11:25-27).      

Nikmati Menu Lainnya: #SUP - SATU PUTARAN YANG HILANG

          Demikian juga istilah lahir. Mari kita bertanya, kapan hari kelahiran bangsa Indonesia? Jawabannya jelas 17 Agustus 1945. Tapi tidak serta merta kan anda bertanya siapa bapak dan emaknya? Ada ibu kota, apakah dia janda karena tidak ada bapak kota? Jika diteruskan bisa habis halaman ini dengan berbagai analogi lainnya. Yang pasti, lihat dimana kalimat itu dipakai, kapan, bagaimana, dan pada siapa? Harafiah atau kiasan, harus bisa dibedakan.  Itulah orang cerdas yang pelajaran sastranya pasti mendapat angka yang baik. Jadi pengertian Yesus Allah dilahirkan, tidak sama dengan manusia dilahirkan. Allah tidak dikurung oleh jenis kelamin, bahkan tidak oleh ruang dan waktu. Maka ketidak mungkinan laki-laki melahirkan tidak sama dengan ketidak mungkinan Yesus Allah dilahirkan (Mazmur 2:2,7, Ibrani 1:5-8). Lagi-lagi pernyataan dan pertanyaan Zakir Naik hanyalah sebuah retorika yang lemah bagi yang memahami iman Kristen yang benar. Tapi harus diakui, dalam apa adanya, dia memiliki keberanian yang ekstra.


          Ayat-ayat yang saya cantumkan hanyalah ingin menunjukkan ada terlalu banyak kesaksian akan kebenaran yang tidak terbantahkan mulai dari PL hingga PB. Umat Kristen, pendetanya; Bisa salah, tapi Alkitab tidak akan pernah salah selamanya (Matius 24:35, 2 Petrus 1:20-21).

Ayo sekarang habiskan dulu SUP nya. Masih ada yang lain, tersedia dengan rasa berbeda. Tapi jangan pernah pelit dengan makan sendiri, bagi-bagi ke yang lainnya, terutama teman-teman yang anda kenal ikut diskusi, dan mungkin sekarang mereka sedang kebingungan cari makanan sehat.

Komentar

Top