Sekum PGI Ajak Umat Jakarta Hindari Politik Uang Di Putaran 2 Pilkada DKI

Author : Ronald | Sun, 16 April 2017 - 23:35 | View : 35

Reformata.com, Jakarta- Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran ke-2 tinggal menunggu hari. Jelang penyelenggaraan pesta demokrasi yang akan menentukan masa depan ibukota selama lima tahun ke depan itu Sekretaris Umum (Sekum) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) , Pendeta Gomar Gultom, mengajak umat Kristen agar menghindari penentuan pilihan mereka atas dasar politik uang. Pendeta Gomar menilai, tindakan tersebut merupakan sebuah pembodohan yang akan merusak substansi demokrasi Indonesia. Ajakan itu ditulis oleh Pendeta Gomar Gultom dalam “Siaran Pers Sekum PGI Terkait Pilkada DKI Tahap Kedua, 19 April 2017”.

Hindarilah penentuan pilihan atas dasar transaksional. Kepentingan bersama untuk jangka panjang, terlalu mahal untuk dikorbankan untuk kepentingan segelintir orang dan untuk jangka pendek. Olehnya hindarilah politik uang dan pertimbangan-pertimbangan emosional. Politik uang hanya merupakan pembodohan rakyat dan merusak substansi demokrasi kita. Dengan demikian, politik uang adalah dosa yang harus dihindari,” bunyi poin Kedua dari Siaran Pers Sekum PGI terkait Pilkada putaran Kedua, yang diterima redaksi Reformata pada Minggu malam (16/4/2017).

Di lain sisi, Sekum PGI juga mengajak umat Kristen untuk memilih pemimpin yang tidak hanya mengumbar janji belaka, namun lebih memilih figur yang telah teruji dalam mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat.

Di tengah kebebasan Saudara memilih, kami mengajak Saudara untuk sungguh-sungguh memilih di antara calon yang sudah teruji kecakapannya dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, dan tidak terjebak pada janji-jani manis yang belum teruji kebenarannya. Perhatikanlah jejak para calon apakah memang sudah memiliki rekam jejak yang berprestasi,” tulis Siaran Pers Sekum PGI di butir A, pada poin yang Ketiga.

Terkait masa depan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Pendeta Gomar Gultom juga mengajak umat mencermati ideologi dari koalisi partai politik yang mengusung pasangan calon.

Yang tak kurang pentingnya adalah memperhatikan gabungan partai politik yang mengusung pasangan calon. Cermatilah idiologi apa yang ada di balik partai-partai pengusung, rekam jejak mereka, kelompok organisasi sayap pendukung apa yang ada di dalamnya, siapa saja tokoh utama yang berpengaruh terhadap partai tersebut. Apakah ada partai itu yang tidak secara jelas menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, melainkan ideologi lain. Hal-hal ini penting agar jangan sampai pasangan calon terpilih disandera atau dipengaruhi oleh partai-partai tersebut dalam menjalankan pemerintahan,” tutur Siaran Pers tersebut lebih lanjut. (nick)

Komentar

Top