SAYA PANCASILA (SERI 1)

Author : Bigman Sirait | Wed, 3 May 2017 - 15:01 | View : 1459

INDONESIA sebagai negara kepulauan yang bukan saja kaya dengan alamnya, tapi juga budayanya, dengan ribuan pulau dan ratusan bahasa suku, juga memiliki kekayaan warisan Pancasila. Kemerdekaan Indonesia menuntut Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan juga berbagai kerajaan diwaktu lampau harus bersatu. Betapa beruntungnya Indonesia punya Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa, jiwa, dan kepribadian anak Indonesia. Pancasila juga menjadi dasar negara Republik Indonesia yang bersifat mengikat kita sebagai anak bangsa menjadi satu di kepelbagian dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. Disinilah NKRI berkibar dengan gagah perkasa. Tak peduli apa suku, ras, atau agama kita, tapi yang pasti kita satu, yaitu Indonesia. Dan sumpah pemuda 1928 telah menjadi cikal bakal bangsa Indonesia yang besar dan kaya. Satu bangsa, tanah air, dan bahasa kita, yaitu Indonesia.

          Pancasila bukan meniadakan kekayaan suku, ras, agama yang ada, tetapi dalam posisi yang mulia Pancasila justru merajutnya menjadi Indonesia yang indah. Kita sah berbeda suku, ras, mari kembangkan budaya yang diwarisi dan berkontribusi bagi kekayaan budaya Indonesia. Kita juga sah berbeda agama, jalankan ibadah menurut keyakinan agama demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Nah, disini Pancasila mempersatukan dan menjaga kesatuan kita sebagai Indonesia yang satu. Jika agama bersifat vertikal maka Pancasila horizontal, sehingga adalah kesalahan besar jika membenturkan antara agama dengan Pancasila, karena memang berbeda konteks. Kecuali jika kita mengingkari Indonesia dan bermaksud menghianatinya. Indonesia adalah negara Pancasila bukan negara agama, semua rakyat harus memahami sejarahnya. Dan jangan biarkan ada yang menyeretnya keranah yang salah dan memaksakan kebenaran kelompoknya.

          Dalam perjalanannya tak sekali saja Pancasila mengalami gonjang ganjing karena ulah sekelompok orang, dan peristiwa Mei 1998 menjadi catatan tersendiri. Namun sekarang ancaman semakin melebar, tak hanya suku dan ras, tapi agamapun dibenturkan. Dan yang lebih mengerikan bukan saja yang berbeda agama, yang seagama namun tak sejalanpun dicap sesat. Ya, Islam radikal mencap Islam NU, Muhamadiyah, yang tak sejalan sebagai tak benar. Pemaksaan pemimpin yang harus seiman menjadi benih pertikaian yang disemai di Pilkada Jakarta, tampaknya akan menjadi insprasi salah yang ditularkan ke Pilkada serentak 2018, Pileg dan Pilpres 2019 (akan dibahas lengkap diseri berikut). Judulnya sederhana; Demi Kemenangan, namun mengabaikan akibat mahal yang ditimbulkan. Teknik saling menunggang kepentingan dengan rasa yakin mampu mengendalikan yang lainnya menjadi ancaman. Seperti seorang memelihara anak macan kecil, lucu, dan menyenangkan untuk memuaskan keinginan diri. Terbiasa bersama macan membuatnya lupa macan punya habitatnya sendiri, dan satu waktu ketika macan telah dewasa majikanpun segera di habisinya. Penyesalan terlambat, majikan jadi korban apa yang dipeliharanya karena melupakan habitat macan yang sesungguhnya.

          Pancasila sakti untuk menangkal radikalisme, kita anak bangsa yang berbeda agama berada dipayung yang sama, saling menghargai dan bekerjasama. Radikalisme hanya merusaknya, bahkan menuju kehancuran yang tak terselesaikan. Afganistan, Suriah, dan negara timur tengah lainnya hanya bisa mengenang keindahan masa lalunya. Sementara masa depan gelap gulita, dan masa kini hanyalah ketidakpastian. Indonesia tak boleh lengah, anak bangsa harus bersatu padu mendukung penuh gerak Polri dan TNI. Polri, TNI digarda depan, NU, Muhammadiyah, Ansor, Banser, bersama kita bisa membersihkan benci yang terus menerus dikompori, perbedaan yang terus menerus dibenturkan. Ini Indonesia, bumi Pancasila, kita Bhineka Tunggal Ika, NKRI adalah harga mati. Sebagai umat beragama jangan hanya berdoa berantai seribu atau sejuta, namun tak terlihat dikehidupan berbangsa. Tidak boleh ada yang menyembunyikan diri. Mari berdoa memohon pimpinan Tuhan untuk menegakkan kebenaran di bumi Pancasila dan hadir di keseharian. Jangan tanya apa agamaku atau apa agamamu, tapi kita perlu dan harus bertanya; Indonesia-kah aku? Pancasilais-kah aku? Hanya Iya, jika kita menjaganya, membersihkannya dari anasir kebencian. Berbagi bunga, melepas balon, bisa jadi ide baik, tapi jangan hanya kesatu pihak tapi semua yang punya tanggungjawab bersama menjaga Indonesia kita. Membangun diskusi Pancasila di kelompok kecil, dengan belajar dari kehancuran diberbagai negara. Peka terhadap sesama dan menunjukkan kepedulian sebagai sesama anak bangsa. Jangan terjebak klaster suku, ras, agama, apalagi kelas ekonomi yang sering menimbulkan kecemburuan dan bisa menjadi celah kebencian, pintu masuk radikalisme yang seakan mau meluruskannya. Dan yang bisa segera, ganti profil anda, atau group, di sosmed dengan gambar Garuda Pancasila. Warnai chat anda dengan kekayaan Pancasila dan resiko menghianatinya. Jangan lalai dan menganggap remeh situasi yang sedang terjadi, agar Ibu Pertiwi tak menangis lagi.

Mari bersama bergerak dalam semangat #SayaPancasila. Indonesia adalah Pancasila.    

#SAYAPANCASILA (SERI 1) by: Bigman Sirait | www.twitter.com/bigmansirait

Komentar

Top