PGI Surati Jokowi Terkait Kondisi Kebangsaan Saat Ini

Author : Ronald | Thu, 4 May 2017 - 20:23 | View : 141

Reformata.com, Jakarta- Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta memang telah usai. Meski demikian, gonjang-ganjing isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) yang sengaja diembuskan oleh kelompok intoleran pengusung paham radikalisme selama penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut rupanya tak kunjung reda. Karena didorong rasa prihatin atas hal itu pada Selasa lalu (2/5/2017), Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) melayangkan surat kepada Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo.

Berdasarkan Siaran Pers yang diterima oleh redaksi Reformata pada Rabu malam (3/5/2017), surat PGI kepada Jokowi bernomor 258/PGI-XVI/2017 tertanggal 2 Mei 2017, itu, menggarisbawahi tentang “Keprihatinan atas Kondisi Kebangsaan Kita”. Di dalam suratnya yang dilayangkan kepada Jokowi, PGI menyampaikan sejumlah poin keprihatinan terkait kondisi kebangsaan saat ini. Berikut empat poin penting dari surat yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PGI Pdt. Dr Henriette Hutabarat-Lebang, serta Sekretaris Umum PGI Pdt. Gomar Gultom M. Th, itu:

“ 1. Salah satu keprihatinan yang paling mengemuka adalah kondisi kebangsaan kita yang dirasakan sedang berada di ujung tanduk. Di tengah upaya Bapak mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila melalui Revolusi Mental, kami melihat kecenderungan sekelompok masyarakat yang justru berniat meminggirkan Pancasila dari kehidupan kita berbangsa dan bermasyarakat, dan menggesernya dengan dasar agama. Pada hemat kami, pengedepanan agama secara formal sebagai dasar dalam kehidupan kita berbangsa hanya akan membawa persoalan baru yang menuju kepada perpecahan. Para pendiri bangsa kita telah sangat arif menempatkan Pancasila, dan bukan agama, sebagai dasar negara kita. Tentu nilai-nilai agama tetap akan menjadi landasan etik, moral dan spiritual kita, yang diharapkan membangun semangat persaudaraan sebagai bangsa yang majemuk serta memberi kontribusi positif bagi kemaslahatan seluruh ciptaan Tuhan. Tentu saja nilai-nilai agama tersebut haruslah telah melalui proses objektifikasi, sehingga dapat diterima semua kalangan dan tidak mendiskriminasikan orang dari latar belakang keyakinan dan kelompok mana pun.

2. Sejalan dengan itu, kami juga prihatin dengan makin maraknya aksi-aksi intoleran, kekerasan dan ujaran kebencian yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat, yang dalam beberapa kasusterkesan dibiarkan oleh aparat negara. Hal ini makin memprihatinkan karena ternyata pendidikan di sekolah-sekolah turut mempersubur aksi-aksi ini, baik oleh guru-guru yang tidak memiliki komitmen kebangsaan maupun oleh buku-buku yang berisikan ajakan memerangi mereka yang berbeda keyakinan.

3. Kami juga prihatin dengan semakin maraknya berbagai aksi/deklarasi sektarian yang berkomitmen menerapkan ideologi di luar Pancasila. Provokasi semacam ini akan semakin melemahkan sendi-sendi kehidupan kita bersama sebagai bangsa yang majemuk. Apalagi ditengarai, aksi dan deklarasi semacam ini juga didukung oleh pernyataan-pernyataan para pejabat publik kita. Kami berpandangan, selama masih ada kelompok yang mengutak-atik dasar negara, dan dibiarkan oleh aparat negara, maka kita tidak akan pernah siap untuk membangun, bahkan sedang menuju kehancuran sebagai bangsa.

4. Sejalan dengan itu, kami juga prihatin dengan kecenderungan sebagian masyarakat kita yang selalu memaksakan kehendak dan aspirasinya lewat pengerahan massa, ketimbang menempuh jalur hukum dan dialog yang lebih bermartabat. Kecenderungan semacam ini sangat potensial meruntuhkan sendi-sendi demokrasi yang kita perjuangkan selama ini dan menggantinya dengan mobokrasi.

 

Berdasarkan keprihatinan tersebut, PGI menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Gereja-gereja di lndonesia mendukung sepenuhnya langkah-langkah Bapak Presiden lr. Joko Widodo, bersama seluruh elemen bangsa yang berkehendak baik untuk meneguhkan ulang komitmen kita terhadap dasar Negara Pancasila, mewujud-nyatakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, serta bersama-sama merawat warisan kemajemukan, yang adalah rahmat Tuhan yang luar biasa bagi bangsa lndonesia.

2. PGI menghimbau kepada Bapak Presiden bersama dengan TNI dan Polri untuk mengambil tindakan tegas atas segala aksi dan kelompok yang berupaya merongrong Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara kita dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. PGI mendukung langkah dan tindakan tegas yang diambil oleh Pemerintah untuk menjaga tetap tegaknya NKRI.

3. PGI menghimbau Pemerintah Pusat dan Daerah untuk lebih sungguh-sungguh menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui proses pendidikan, sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

4. PGI menghimbau kepada semua elemen bangsa untuk tetap taat dan setia terhadap nilainilai Pancasila dan UUD 1945, serta memelihara kebersamaan hidup bermasyarakat dan bernegara dalam bingkai NKRI dan dalam semangat Bhineka Tunggal lka.”

Seperti diketahui bersama situasi sosial-politik Indonesia kian menghangat seiring munculnya gerakan-gerakan yang ingin menggantikan ideologi Pancasila. Keprihatinan atas kondisi kebangsaan itu tak hanya datang dari PGI, namun juga sejumlah elemen masyarakat dari pelbagai latarbelakang. Secara garis besar mereka meminta agar pemerintah menindak tegas kelompok-kelompok intoleran yang berupaya menggantikan dasar Negara Indonesia dengan ideologi yang bertentangan dengan kebinekaan.

Komentar

Top