Apa Itu Kebenaran?

Author : Redaksi | Mon, 15 May 2017 - 10:42 | View : 1295
Tags : Ahok Kebenaran

Putusan sidang Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada tanggal 9 Mei 2017 yang lalu menjatuhkan vonis dua tahun penjara terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Gubernur non aktif DKI Jakarta karena dinilai terbukti bersalah dan melanggar pasal 156-a tentang penodaan agama.

Pasca vonis dijatuhkan, Basuki Tjahaja Purnama langsung digelandang petugas menuju rumah tahanan Cipinang. Peristiwa ini tentu saja sangat mengagetkan seluruh lapisan masyarakat di tanah air, oleh karena itu seruan protes pun berkumandang mulai dari Jakarta hingga meluas ke berbagai kota di Indonesia bahkan kecaman terhadap keputusan ini juga datang dari Amnesti Internasional, negara-negara Uni Eropa dan Persatuan Bangsa-Bangsa. Mereka tidak menyangka Indonesia yang selama ini dikenal sebagai role model negara pluralis yang menjunjung tinggi nilai demokrasi dan toleransi beragam ternyata tersandung kasus intoleransi agama.

Di tanah air protes terhadap vonis yang dianggap masyarakat tidak memberi rasa keadilan itu pun ditindak lanjuti oleh aksi damai dengan menyalakan seribu lilin yang dilakukan oleh semua elemen masyarakat di berbagai kota di Indonesia yang menandai matinya hukum dan keadilan sosial di bumi Nusantara. Protes masyarakat yang muncul dari berbagai kota di Indonesia adalah bentuk ungkapan dari hati nurani publik yang tidak mampu menciderai kebenaran.

Fenomena sosial di atas mengingatkan kita pada kejadian dua ribu tahun yang lalu di Palestina, seorang pemuda Yahudi yang hidupnya bersahaja dan seluruh hidupnya hanya dipersembahkan untuk melaksanakan misi mesianik dari Allah demi membawa kebaikan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia harus mati di atas kayu salib karena dituduh menistakan agama.

Yesus Kristus sang pemuda Yahudi yang mati di atas kayu salib itu adalah korban dari kebenaran atas nama penguasa agama, kebenaran atas nama tirani kekuasaan dan kebenaran atas nama kemunafikan. Tidak heran mengapa Pontius Pilatus dengan nada pesimis menggugat ‘apa itu kebenaran’? karena bagi dia kebenaran bersifat partikularis, tergantung siapa yang mengatakannya.

Akan tetapi kebenaran yang sesungguhnya adalah kebenaranan an sich (kebenaran yang ada pada dirinya), dia tidak dapat ditutupi dan dia tidak dapat dihalangi. Kematian Yesus di atas kayu salib adalah bukti bahwa kebenaran yang sesungguhnya dapat melahirkan efek bola salju yang dahsyat bagi kehidupan manusia. Gelombang kebenaran tidak dapat dibendung, dia mewabah sampai ke seluruh pelosok dunia sehingga lambang salib tidak lagi menjadi lambang kekerasan atas nama kekuasaan melainkan menjadi lambang keselamatan dan kehidupan bagi orang percaya.

Kebenaran an sich adalah kebenaran yang memiliki korespondensi antara hati nurani dengan perbuatan, kebenaran ini didasari oleh takut akan Tuhan karena itu dia menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan dan bukan karena takut akan kekuasaan yang mengancamnya. Martin Luther, Bapak Reformasi Protestan pernah mengatakan “it is not good work which make good man, but a good man who does a good works”. Bukan karena perbuatan baik menjadikan orang baik melainkan orang baik pasti menghasilkan perbuatan baik.

Ungkapan Luther ini kemudian mengingatkan saya dengan istilah habitus yang dikemukakan sosiolog Perancis abad ke-20, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, habitus adalah struktur mental kognitif seseorang yang terbentuk dari perilaku sosial yang dihayati dan terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama sehingga perilaku itu mengendap dan membentuk karakter yang sulit diubahkan. Jika perilaku sosial yang diinternalisasi adalah perilaku buruk maka karakter yang terbentuk akan buruk pula. Dan ketika karakter buruk itu mencapai kesempurnaannya maka seumur hidup ia tidak akan bisa diubahkan.

Mengubah karakter tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena karakter tidak datang dengan sendirinya, dia tidak lahir dari ruang hampa, dia lahir dari hati dan dinyatakan dalam perbuatan. Itulah sebabnya mengapa 2600 tahun yang lalu melalui nabi Yeremia, Allah sudah mengingatkan manusia jangan memandang ringan dalam mengubah tingkah langkahnya (Yeremia 2:36), karena kesombongan manusia hanya akan membawa manusia makin jauh dari kebenaran.

Akan tetapi Allah adalah setia dan adil, melalui nabi Yehezkiel, Allah sudah berjanji akan memberikan “hati dan roh yang baru” (Yehezkiel 36:26-27).Karena Allah tahu kalau bukan karena Dia mustahil manusia dapat mengubah dirinya sendiri. Oleh sebab itu pertolongan Tuhan ini memberi pengharapan baru bagi manusia untuk menemukan kembali otentisitas dirinya sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan sebagai manusia yang hati nuraninya telah digusur oleh libido kekuasaan, kepicikan dan pembenaran diri sendiri.

Maka perilaku dan perbuatan yang benar merupakan fondasi yang kuat dalam membangun kehidupan berbangsa, berdemokrasi dan berkerukunan antar umat beragama demi mewujudkan Indonesia yang satu, Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika.

 

Nedy Subrata

*Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta (STT Jakarta).

Komentar

Top