Ketika Agama Diseret Ke Ranah Politik

Author : Ronald | Tue, 16 May 2017 - 16:58 | View : 158

Reformata.com, Jakarta- Persekutuan Intelegensia Sinar Kasih (PISKA) menggelar diskusi terkait pasal penistaan agama yang menjerat Gubernur Jakarta non aktif, Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Diskusi yang dilaksanakan di Grha Oikumene PGI, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (16/05/2017). Menurut salah satu narasumber, Gomar Gultom, kondisi saat ini yang dinamakan mabokrasi, ketika agama yang seharusnya merupakan ranah yang sangat pribadi dibawa ke luar, ke ranah publik. Hal ini bisa dilihat dari tekanan yang mewarnai kondisi politik dan hukum saat ini.

"Apa yang terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Pasar Minggu itu bukan hal yang baru. Tahun 2010 itu ketika Judicial Review itu tekanan massa kuat sekali. Sangat kuat. Jadi sebetulnya mobokrasi itu sudah berlangsung," jelas Gomar.

Berkaitan dengan mobokrasi, Gomar menambahkan, pasca bergulirnya Reformasi 1998 keberadaan Pancasila seakan terpinggirkan, dimana pemahaman akan landasan ideologis bangsa itu tidak lagi mendapat porsi khusus di dalam dunia pendidikan.

"Setelah Reformasi 98 kita semua ramai-ramai meminggirkan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat kita. Bahkan di ruang pendidikan pun tidak ada lagi pendidikan PMP (Pendidikan Moral Pancasila)," ujar Gomar.

Tak hanya Pancasila, Gomar menambahkan, generasi muda saat ini juga telah memasuki masa dimana lagu-lagu perjuangan dan nilai Pancasila tidak lagi populer di kalangan mereka.

"Jadi apa yang mau dikatakan, sekarang sebetulnya setiap anak yang berusia 20 tahun tidak pernah dididik tentang Pancasila, tuna Pancasila. Jumlahnya lebih kurang 119 juta," tegas Gomar.

Komentar

Top