Orang Percaya Bekerja Dengan Excellent

Author : Redaksi | Tue, 13 June 2017 - 14:05 | View : 43
rubrik-management-edit.png
Ilustrasi: gip

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. Kolose 3:17

 

Ayat Alkitab yang kita bahas untuk menjadi dasar menjawab pertanyaan – Bagaimana Orang Percaya Bekerja? - adalah Kolose 3:17. Jika kita bekerja ‘dalam nama Tuhan Yesus’ bagaimana secara lebih spesifik prinsip-prinsip kita bekerja? Bagaimana kita bekerja sehingga pekerjaan kita berkenan kepada Tuhan Yesus dan orang lain melihat Tuhan Yesus pada waktu kita bekerja? Satu ciri kita bekerja adalah kerja yang ‘excellent.’

Allah memperkenalkan diri sebagai Pekerja yang sempurna. Allah bekerja dengan kreatif dan inovatif tanpa banding. Dia menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, dan hasilnya sempurna. Ketika Allah menciptakan bagian-bagian dari dunia ini, Allah melihat hasilnya ‘baik’ (Kejadian 1:4 – 25) dan ketika semua telah selesai diciptakan, khususnya dengan sepasang manusia di dalamnya, Allah melihat hasil karya-Nya itu ‘sungguh amat baik’ (Kejadian 1:31).

Sementara kita diciptakan sesuai dengan gambar-Nya (Kejadian 1:27). Artinya kita memiliki ‘kemiripan’ dengan Dia, dan ini, antara lain adalah dalam berpikir dan bekerja. Menegaskan kehendak-Nya bagi orang percaya, Yesus memerintahkan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 4:48). Dia menghendaki perilaku kita jauh lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Kalau mereka mengasihi sesamanya, maka kita bahkan harus mengasihi ‘musuh’ kita. Kalau mereka bekerja baik untuk orang-orang yang mereka kasihi, maka kita harus bekerja lebih baik, untuk siapa pun, bahkan untuk mereka yang jahat terhadap kita.

Target Allah adalah hasil yang sempurna. Karena itu kita diminta bekerja “dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Hati adalah pusat kehendak, komitmen, motivasi dan perubahan. Bekerja dengan segenap hati, karena itu bisa kita artikan bekerja dengan komitmen penuh. Kita bekerja dengan segala kreavitivas, semangat dan sepenuh tenaga memberikan yang terbaik, karena Allah berhak mendapatkan yang terbaik. Apa yang kita kerjakan tidak pernah cukup untuk Allah, oleh karena itu kita harus terus mengusahakan kinerja yang lebih baik. Melakukan terbaik dan semakin baik ini yang kita kenal dengan istilah bekerja dengan ‘excellent.’ Bekerja dengan ‘excellent’ artinya bekerja memberikan hasil yang melampaui hasil kerja orang lain, melampaui harapan pemberi kerja, dan ketika berulang, semakin baik.

Motivasi kita melakukan yang terbaik bukan untuk menyenangkan manusia. Kita bekerja untuk menyenangkan hati Tuhan, untuk memuliakan Dia (1 Korintus 10:31). Hanya pekerjaan yang ‘excellent’ potensi memuliakan Allah. Hasil kerja yang biasa-biasa apalagi pekerjaan berkualitas kurang, ketika ditampilkan oleh orang percaya, akan merusak nama Allah. Oleh karena itu ketika menghasilkan report yang bagus, produk berkualitas, layanan ke pelanggan yang memuaskan; ibu rumah tangga menyiapkan makanan untuk keluarga terbaik,  dsb, dsb.

Namun dunia juga banyak menggunakan istilah ‘excellent’. Perusahaan-perusahaan banyak yang meyakini salah satu kunci keberhasilan bisnis adalah dengan bekerja secara excellent dan memberikan hasil yang excellent bagi pelanggan mereka. Oleh karena itu banyak perusahaan mencantumkan ‘excellence’ sebagai salah satu pilar-pilar budaya mereka. Ini mengingatkan kepada semua karyawan agar mereka bekerja dengan tujuan memberikan hasil yang excellent. Oleh karena itu bekerja excellent bagi orang percaya tidak cukup, karena dengan tujuan hasil excellence orang bisa mencuri formula kompetisi, misalnya. Atau ketika dia berhasil, maka bukan nama Tuhan yang dimuliakan, tapi nama yang bersangkutan. Lebih parah ketika kita menggunakan Allah sebagai pendorong kinerja kita tapi tidak mengakui Dia ketika berhasil, maka bukan saja kita tidak memuliakan Dia, tapi kita telah mencuri kemuliaan-Nya.

Oleh karena itu bekerja dengan tujuan sekedar ‘excellence’ seperti yang terjadi di dunia yang tidak mengenal Tuhan, bukan yang Alkitab maksudkan. Kita bekerja dengan target excellence untuk nama Allah, bukan untuk nama diri sendiri. Bekerja dalam nama Tuhan Yesus tidak sekedar dengan hasil excellent, tapi juga mengikuti prinsip-prinsip Tuhan yang lain, misalnya, bekerja dengan etika, dengan kasih, dsb. Bagaimana kita telah bekerja? Pada pembicaraan kita sekarang, kita bertanya secara khusus, apakah kita telah unjuk kerja yang jelek, sedang-sedang atau excellent? Apakah ketika kita mengejar kinerja yang excellent, kita telah mengabaikan perintah-perintah Tuhan Yesus yang lain? Apakah kita melakukan karena iman kita kepada Dia dan untuk kemuliaan-Nya atau untuk kepuasan dan nama pribadi? Tuhan memberkati!

 

Harry Puspito

Kontributor Rubrik Manajemen Reformata

Komentar

Top