Waspadai Sel ISIS Di Indonesia

Author : Redaksi | Wed, 21 June 2017 - 10:10 | View : 95

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa saat ini sel ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) sudah menyebar di Indonesia. Ada 16 lokasi sel ISIS di Indonesia. "Nah, di Indonesia ada sekitar 16 tempat itu tempat ISIS juga, sudah bergabung dengan kita (Indonesia), nggak bisa dibedakan. Nah, kalau kita tidak segera tutup pelarian ISIS ke Indonesia, sangat berbahaya," kata Gatot di gedung DPR, Jakarta, Kamis (15/6). Menurut dia saat ini sel-sel tersebut sedang 'tidur'. Tanda-tanda mereka bangkit adalah ketika melakukan aksi teror di Indonesia. Gatot mengatakan, sel-sel ini yang harus sama-sama diwaspadai. Karena begitu sel-sel tidur itu dibangunkan, maka akan ada berbagai macam spot konflik di Indonesia yang terafiliasi ISIS. Apabila Negara tidak bisa menangani, maka pasti tangan-tangan dari luar juga masuk dengan dalil kemanusiaan. Dimuat di salah satu media daring nasional 15/6/2017.

Pernyataan panglima di atas harus disikapi dengan serius. Pernyataan tersebut bukanlah pepesan kosong semata. Kapasitasnya sebagai Panglima TNI dalam mengutarakan pendapat pasti didasarkan pada data dan fakta yang real. Jika melihat akhir-akhir ini  beredarnya video ancaman dan teror untuk wilayah Indonesia melalui jejaring sosial seperti WhatsApp dan Facebook. Semakin memperkuat pernyataan Panglima tersebut. Mereka (ISIS) sudah masuk dan hendak menguasai wilayah Indonesia. Mereka menebar ancaman akan mengejar, membunuh hingga memenggal kepala orang yang dianggap zhalim atau thagut.

Kondisi ini sungguh sangat mengkhawatirkan, karena  sudah mengancam keberadaan dan keberlangsungan bangsa dan negara Indonesia. Jika  melihat  situasi yang terjadi di Irak  dan Syria, di mana ISIS mulai bergerilya, Negara tersebut telah porak poranda dan tak menentu. Negara tersebut hingga kini dilanda perang yang tak berujung. Kelompok radikal ini berusaha dengan segala macam cara agar bisa menegakkan hukum Allah di bumi dengan versi Islam radikal yang mereka yakini.

Bagi sebagian masyakat Indonesia yang pro ISIS, khususnya warga nitizen yang pro, menggangap ISIS adalah pahlawan yang berperang atas nama agama. Mereka menyikapi berita bahwa ISIS akan menguasai dan memasuki wilayah Indonesia sebagai angin segar (sorga) dan kegembiraan bagi mereka. Mereka sedang menantikan bangsa ini ditegakkan dengan hukum agama. Para pendukung ISIS ini, berupaya membangun argumen-argumen pembelaan atas seluruh tindakan yang dilakukan oleh kelompok ISIS. Tidak heran jika ada anggota ISIS yang ditangkap oleh aparat,karena melakukan teror dan meledakkan bom. Pendukung ISIS ini menyerang secara membabi buta di media sosial dengan menyebut tindakan aparat kepolisian arogan, tidak berdasar dan hanya pencitraan.

Ini ada  satu contoh yang saya temukan yang pro radikalisme (sebutlah demikian), yaitu salah seorang pengguna facebook dengan profil tertulis sebagai guru SMP Negeri di NTB. Pemilik akun tersebut mengupload foto putrinya yang masih kecil sedang memegang golok, (kurang jelas golok mainan atau asli) tampak sekilas seperti asli. Muka anak tersebut ditutup kain tipis warna pink ala ninja, sehingga yang tampak hanya mata dan jidat. Si pemilik akun menulis status “Calon mujahidahku KSZ (tidak etis menulis nama anak tersebut), kecil-kecil tanpa diajar udah berani dan bisa bilang gorok ahok, tembak jokodok.” Kepala Negara saja berani diancam. Apalagi masyarakat sipil yang tidak memiliki kekuatan apa-apa, pasti  bisa dihabisi.

Jika gerakan radikal ini sudah mulai tumbuh subur di Indonesia, baik lewat media sosial, maupun tindakan nyata secara brutal, maka pemerintah dan masyarakat harus bergandeng tangan, bahu membahu agar dapat menghentikannya. Aparat keamanan, TNI dan POLRI, perlu meningkatkan keamanan yang super ketat, karena Indonesia menjadi sasaran utama untuk dikuasai sebagai basis ISIS di wilayah Asia Tenggara. Kalau sampai ISIS masuk dan mulai bergeriliya dengan bebasnya di Indonesia, maka tidak akan lama lagi NKRI tiba pada kehancurannya. Indonesia bisa-bisa tinggal sejarah.

Saat ini memang  sudah susah membedakan kelompok yang pro radikalisme  dan yang tidak. Mereka  sudah  mulai menciptakan image yang terlihat samar dan mulai  sama dengan masyarakat lainnya. Untuk mewaspadainya pun perlu kehati-hatian  dan kejelian. Tidak semua yang berjubah agama, berjenggot dan bersorban  adalah kelompok  radikal. Sama  sekali tidak. Seluruh  elemen  dan kalangan  mereka  sasar  untuk direkrut menjadi  bagian dari  mereka. Iming-iming sorga  menjadi senjata utama mereka agar ada yang bergabung.

TNI dan POLRI di seluruh jajaran dan anggotanya pun harus dipastikan adalah orang-orang yang setia pada NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 45. Posisi aparat keamanan memang sangat strategis untuk direkrut. Jika anggota atau oknum TNI atau POLRI menyimpang dari ideologi NKRI, maka akan mempermudah bagi kaum radikal untuk bergerak dan menguasai Indonesia. 

Para tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakatpun harus bisa menjadi perekat kesatuan  dan persatuan. Para tokoh tersebut harus bisa bekerja sama dalam tindakan  nyata, bukan hanya di ranah public terlihat “mesra”. Namun, tetap memakai mimbar agamanya untuk menebar  kebencian dan permusuhan di  antara kelompok masing-masing. Para tokoh harus bisa membawa kesejukan hati, kedamaian, dan meperkuat  persatuan  dan kesatuan bangsa.

Tokoh Pendidikan juga demikian, seperti guru dan dosen harus bisa  menanamkan cinta  tanah air kepada peserta didiknya. Menularkan  semangat kebersamaan di dalam perbedaan. Menerima  kemajemukan  sebagai kodrat ilahi yang tidak  bisa  dipungkiri  dan ditolak. Mensterilkan  wilayahnya dari radikalisme dan tidak ikut  menjadi bagian  dari perongrong NKRI.

TNI, POLRI, tokoh agama, tokoh adat,  tokoh masyarakat, dan para pendidik menjadi kunci  utama  untuk meredam  radikalisme. ISIS bisa dihalau dari NKRI jika semua elemen masyarakat bersatu  untuk  melawannya. Pasti bisa!

 

Ashiong P. Munthe

*Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan

Komentar

Top