Tangkal Radikalisme Dengan Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama

Author : Chandra | Fri, 21 July 2017 - 10:39 | View : 228

Reformata.com. Jakarta - Menangkal radikalisme dan terorisme bukan hanya tugas pemerintah semata. Begitu juga menjaga kebhinekaan Indonesia, jangan hanya menaruh harapan kepada pemerintah saja,  tapi itu tugas semua elemen bangsa. Demikian disampaikan Pdt. Bigman Sirait dalam dialog santai bertajuk: “Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam Bingkai Kebhinekaan” di Gedung Annex, Ariobimo Sentral, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 15 Juli, lalu.

"Kita tak boleh hanya berharap kepada pemerintah. Mari kita mulai dari hal-hal kecil, seperti mendukung Perpu terorisme, dan banyak lagi." jelas Gembala Gereja Reformasi Indonesia ini.

Dia menambahkan, bahwa cara yang paling ampuh untuk menangkal gerakan-gerakan radikalisme adalah dengan cara menghargai perbedaan dan membangun dialog antar umat beragama.

Diskusi Membangun Dialog, Menjaga Kerukunan Dalam Bingkai NKRI

"Mari kita mulai dari hal-hal kecil, seperti menyapa Pendeta, menyapa Kyai atau Ustad dan sebagainya, supaya kita bisa mewujudkkan kebhinekaan dan kualitas hidup berbangsa dan bernegara" ujar Bigman.

Menurut Bigman, campur tangan politisi dan pengusaha hitamlah yang membuat permasalahan di Indonesia belakangan ini menjadi sangat serius. Di mana para pihak yang mempunyai kepentingan itu melegalitaskan atau mendanai gerakan-gerakan ekstremis untuk bergerak, sehingga Agama mengalami pergeseran nilai hakikinya. Menyebabkan Agama menjadi menyeramkan. Munculnya gerakan-gerakan ekstrimis, kata Bigman, menjadikan agama (tampak) negatif. Agama menjadi bersikap eksklusif, tidak ada agama yang benar kecuali agama kelompoknya. Pada akhirnya, menurut Bigman, agama jadi alat intimidatif, dipakai untuk mengintimidasi orang yang tidak sepaham dengan agamanya,

"Gerakan radikalisme ada kaitannya dengan politik, para politisi dan pengusaha hitam itu memainkan politik kuda troya. Di mana mereka melegalitaskan, atau mendanai gerakan ini untuk bergerak, mari kita dukung agar pemerintah betul-betul mengawasi politisi dan para pengusaha hitam" Imbuhnya.

Sementara, Gus DR Sahiron, salah satu tokoh Ormas Besar Islam, Nahdlatul Ulama, yang ikut menjadi narasumber dalam dialog itu berpendapat, bahwa setiap Kitab Suci pasti mengajarkan kebaikan. Menurutnya fungsi Agama dan sifat agama itu sendiri adalah moderat, tidak ekstrim kanan atau ekstrim kiri.

“Fungsi agama sebagai pemersatu, mungkin perbedaan politik atau berbeda pilihan bisa saja. Maka agama mesti jadi pemersatu, bukan sebaliknya sebagai pemecah bangsa,” ujar ulama yang juga sempat menjadi Saksi Ahli pada sidang kasus penistaan agama yang menyerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) beberapa waktu lalu.

Terkait menangkal ajaran-ajaran ekstrim itu, Sahiron berpendapat bahwa kita harus memahami agama secara konstektual.

Disinilah peran keluarga sangat penting. Oleh Karena itu mari membiasakan berdialog dengan anak-anak kita. Mari memberikan pandangan-pandangan dan perbedaan dalam bidang Agama, Suku, Budaya. Agar tercipta kerukunan antar umat beragama di NKRI,” ujarnya.

*Chandra

Komentar

Top