Kokoh Di Tengah Badai

Author : Pdt Robert R Siahaan | Thu, 9 April 2015 - 10:01 | View : 1430
kokoh-di-tengah-badai.jpg

Setelah seseorang dilahirbarukan menjadi orang percaya, selanjutnya Allah menghendakinya untuk memasuki proses pertumbuhan yang progresif untuk mencapai kedewasaan rohani (2 Pet 1:5-10; 3:18). Banyak orang Kristen yang gagal memasuki proses ini dengan baik, kebanyakan gagal mencapai pertumbuhan iman yang dewasa. Mungkin kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa pertumbuhan itu adalah sesuatu yang bersifat alami dan pada dirinya sendiri ketika ia mulai banyak terlibat dengan kegiatan-kegiatan gereja maka ia akan bertumbuh dan menjadi dewasa. Namun kenyataan menujukkan bahwa hanya sedikit orang Kristen yang berhasil bertumbuh menjadi dewasa dalam iman. Bertumbuh dan menjadi dewasa secara rohani tidaklah terjadi secara otomatis dan tidak terjadi secara instan, dan pastinya bukan suatu proses yang mudah atau sederhana. Tidak ada janji Allah di Alkitab, bahwa jika seseorang menjadi Kristen, maka seluruh aspek hidupnya akan menjadi lebih mudah. Karena pertumbuhan kedewasaan iman tidak pernah lepas dari perjuangan dan usaha orang Kristen untuk betul-betul giat dan serius menjalani tuntutan dan perintah-perintah Allah. Yang dimaksud bukanlah sekedar melakukan aktivitas-aktivitas yang selalu dilakukan oleh orang-orang Kristen pada umumnya. Seperti rajin ke gereja, rajin berdoa, aktif melayani bahkan menjadi pengurus komisi-komisi, menjadi anggota majelis gereja, bahkan menjadi rohaniwan. Kepada setiap orang Kristen Allah mewajibkannya untuk hidup sama seperti Kristus hidup (1Yoh 2:6). Tuhan Yesus dengan keras mengecam para Imam, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Lukas 11:42-52). Sekalipun mereka begitu giat dalam menjalankan  kegiatan-kegiatan keagamaan mereka. Mereka juga sangat serius mengurusi ajaran-ajaran Taurat dan adat istiadat mereka, namun mereka justru memungkiri kebenarannya, bahkan melakukan manipulasi-manipulasi keagamaan.

Bagaimana dengan fenomena kekristen masa kini? Fenomena yang sama mungkin saja sedang terjadi dalam kehidupan orang-orang Kristen di masa kini. Dalam kehidupan kekristenan saat ini,  kita dapat melihat bahwa orang Kristen juga terlibat dalam berbagai praktek  kejahatan dalam bermasyarakat atau bernegara. Dimana praktek tipu menipu dalam bisnis, korupsi di kantor, menyontek, mengimitasi skripsi, dan pelanggaran-pelanggaran moral lainnya juga biasa dilakukan oleh orang Kristen yang notabene aktif beribadah dan aktif melayani. Tidak sedikit orang Kristen ketika berhadapan dengan kehidupan nyata yang penuh dengan godaan, tantangan dan kesulitan hidup, ia kemudian mempraktekkan apa yang merupakan kebalikan dari apa yan ia tahu sebagai kebenaran. Sehingga yang paling sering terlihat dilakukan juga oleh banyak orang Kristen adalah rumus aji mumpung, karena terpaksa, karena kepepet, dan karena orang lain juga melakukannya. Kalau orang lain boleh, kenapa saya tidak boleh? Kompromi terhadap penyimpangan dan pelanggaran dosa cenderung menguasai dan mengendalikan orang-orang Kristen yang tidak matang kerohaniannya. Ada ruang di dalam hatinya yang sengaja dibiarkan untuk kompromi terhadap dosa, untuk berbohong, malas dan tidak bertanggung jawab, menggosip, atau melakukan dosa-dosa pribadi lainnya. Sehingga bertahun-tahun bahkan puluhan tahun menjadi orang Kristen, yang terjadi bukanlah pertumbuhan iman yang semakin matang, tetapi mengalami kemandegan rohani, dan tidak sedikit yang menjadi semakin buruk imannya. Perumpamaan tentang benih yang ditabur (Mat 13:1-9, 18-23) juga menggambarkan mengenai bagaimana kualitas kekristenan saat ini. Kebanyakan orang Kristen rajin beribadah, kebanyakan orang Kristen senang mendengar Firman Tuhan. Namun sama seperti kebanyakan benih itu jatuh di tanah yang tidak baik, awalnya Firman itu diterima dengan sukacita, namun hanya bertahan sebentar saja, kemudian diabaikan, terlupakan dan akhirnya mati terhimpit oleh kesulitan dan tantangan hidup. Mungkin hanya sedikit orang Kristen yang betul-betul menyediakan hati yang baik, dimana Firman itu betul-betul berbuah tiga puluh kali lipat, enam puluh bahkan seratus kali lipat.

Tuhan  Yesus berkata: “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Lukas 8:15). Diperlukan suatu sikap hati yang baik untuk terus menyimpan Firman di dalam hati dan diperlukan ketekunan, kedisiplinan, ketaatan dan kerja keras untuk dapat membangun kualitas iman yang matang. Dalam semua bangunan terdapat dasar yang tidak terlihat  yang menjadi dasar untuk meletakkan dan mendirikan bangunan itu. Kualitas fondasi sebuah bangunan jauh lebih penting dari keindahan dan kemegahan bangunan yang tampak di luar. Dasar bangunanlah yang menentukan apakah suatu gedung akan berdiri kokoh ketika dilanda berhadapan dengan berbagai keadaan cuaca serta ketika terjadi badai atau gempa bumi. Jika fondasinya kuat, tentu bangunan itu akan tetap berdiri kokoh menghadapi badai atau gempa yang hebat sekalipun. Namun jika fondasinya tidak kuat, bangunan itu akan hancur seketika ketika ada badai, bahkan gempa yang biasa-biasa pun mungkin akan merubuhkannya.
 
Membangun Dasar Iman
Demikian juga dengan kehidupan rohani kita, ada bagian dari kehidupan rohani kita yang terlihat dalam aktivitas ibadah, pelayanan, yang mungkin itu terlihat begitu bagus dan sangat baik. Namun sesungguhnya ada bagian dari kerohanian itu sendiri yang tidak terlihat yang merupakan dasar dari bangunan kerohanian kita. Dasar iman inilah yang akan menentukan apakah seorang Kristen akan sanggup menghadapi godaan, tantangan dan badai hidup ataukah ia akan terhanyut oleh badai hidup. Kualitas dasar iman ini juga yang menentukan keotentikan dan kualitas dari semua aktivitas yang dilakukan orang Kristen.

Yudas menegaskan kepada kita: "Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal." (Yudas 20-21). Membangun diri menjadi seorang Kristen  yang sejati membutuhkan suatu dasar yang benar dan kuat, yang suci dan murni. Membangun iman yang suci berkaitan dengan motivasi dan kemurnian hati, ketulusan dalam sikap hati dan tindakan beribadah dan melayani. Berapa banyak orang yang mengaku diri Kristen dan sangat aktif dalam berbagai aktivitas pelayanan gereja namun tidak memiliki dasar iman yang tidak suci. Orang demikian biasanya akan mudah sekali frustrasi menghadapi kesulitan hidup, mudah sekali jatuh ke dalam dosa atau pertikaian yang tidak perlu, mudah tersinggung  atau menjelek-jelekkan orang lain. Mudah sekali tergoda untuk marah-marah dan biasanya lebih suka mempertahankan hak pribadi daripada mengasihi dan mengampuni orang lain. Mudah sekali membenci orang lain atau senang menyimpan kesalahan orang lain, merasa diri paling benar atau berdiri di posisi paling benar, orang lain yang pasti salah.

Orang yang telah membangun dasar imannya dengan benar tidak akan mudah goyah menghadapi badai hidup. Tidak mudah terobsesi untuk mengorbankan kekudusan dan ketaatannya pada Allah demi kenikmatan dosa sesaat (Lukas 14:27-35). Orang yang telah membangun iman dengan benar akan berani mempertahankan kebenaran dan memperjuangkan keadilan, kebenaran dan kejujuran, berapa pun harganya. Jangankan membayar dengan uang dan harta, membayar dengan nyawa pun ia akan rela. Ia akan mentaati hukum, ia memilih mengaku salah dan menerima resiko hukuman daripada menyogok, ia akan memilih dipecat dari pekerjaan daripada menyangkali kebenaran dan imannya. Ia tidak akan menipu atau merugikan perusahaan dimana ia bekerja, komitmennya adalah menjadi berkat bagi perusahaan dan orang-orang di tempat ia bekerja. Ia tampil di tengah pertarungan rohani dengan perlengkapan rohani yang lengkap, ia mempersenjatai diri dengan doa, kerendahan hati, mengandalkan Firman Tuhan dan bukan pikiran-pikirannya atau pertimbangan hati nuraninya semata. Ia lebih mengadalkan kasih dan pengorbanan dari pada mengejar atau memaksakan hak-hak pribadi yang bersifat sementara.

Membangun dasar iman yang benar dan suci menuntut latihan-latihan ibadah (1Tim 4:8), perlu melatih kepekaan dan komitmen yang tinggi untuk memilih mentaati dan melakukan hal-hal yang benar (Roma 13:12). Seberapa baik Anda telah membangun dasar iman Anda? Seberapa kuat dasar bangunan iman Anda? Apakah Anda adalah orang Kristen yang akan tetap berdiri kokoh di tengah badai kehidupan, atau akan hancur seketika? Apakah Anda akan hanyut dilanda godaan gaya hidup dan tuntutan hidup yang semakin kompleks?

Mari kita membangun dasar iman dengan benar, mari kita memperjuangkan kemurnian iman, motivasi dan ketulusan dalam  mengerjakan semua pekerjaan, ibadah dan pelayanan. Paulus mengajak kita untuk mengejar semua itu: “Tetapi engkau hai manusia Allah, .... kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Tim 6:11; bd. 2 Tim 2:22; Ibr 12:14). Soli Deo Gloria.
 
Penulis melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia Kebayoran Baru.

 

Komentar

Top