Menolong Suami Yang Depresi

Author : Bimantoro | Thu, 9 April 2015 - 14:31 | View : 1683

Dear Konselor, kami sudah menikah selama lebih dari 10 tahun. Beberapa bulan lalu suami didiagnosis menderita depresi dan harus menjalani pengobatan. Suami menjadi depresi sejak mengalami pecah kongsi dalam usahanya, di mana rekan bisnisnya ternyata melakukan penipuan selama ini.
Saya sangat ingin melihat suami bisa segera sehat dan dapat beraktivitas kembali, tetapi tampaknya dia sulit sekali sembuh dan setiap hari hanya mau mengurung diri di kamar. Saya merasa suami seperti tidak mau sembuh dan belakangan ini sudah tidak teratur minum obat. Suami harus bagaimana supaya kembali sehat? Rasanya sudah banyak hal dikerjakan tetapi belum ada banyak perubahan yang terjadi.

SL
Malang

IBU  SL yang terkasih, memiliki anggota keluarga yang mengalami penyakit mental memang tidak mudah, apalagi orang itu adalah pasangan kita. Tentunya kita menginginkan dia segera sehat dengan meminta bantuan pada dokter, dengan harapan bahwa melalui pengobatan dia dapat segera kembali sehat seperti sediakala. Tetapi ketika perkembangan ternyata berjalan tidak sesuai rencana, kita bisa saja kemudian menjadi kecewa, mungkin marah pada pasangan karena dia tidak mau membantu dirinya sendiri, mungkin juga lelah karena kita sudah melakukan banyak hal dan akhirnya bisa menjadi putus asa. Saya ingin mengajak Ibu untuk memikirkan beberapa hal sebagai berikut:
1) Memiliki anggota keluarga yang sedang mengalami sakit mental memerlukan penyesuaian dalam keluarga itu sendiri, artinya setiap anggota keluarga lainnya harus mengupayakan pola komunikasi yang tidak membuat orang tersebut merasa tertekan, terluka dan tertolak. Coba Ibu pikirkan pengalaman komunikasi seperti apa yang sudah pernah dicoba lalu Ibu melihat mana yang membantu dan mana yang kurang membantu. Mengapa ini perlu dipikirkan, karena ada yang kemudian mencoba memberikan semangat, tetapi ternyata maksud baik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang sesuai harapan, cara memberikan semangat yang tidak tepat bisa membuat dia semakin terpojok, apalagi kalau yang keluar adalah kata-kata yang berkonotasi menyalahkan. Masyarakat kita masih kurang begitu bisa menerima orang yang mengalami sakit mental, dan sering kali menjadi malu sehingga ingin cepat-cepat bisa keluar dari masalah ini. Nah kondisi seperti ini menjadi tekanan tersendiri bagi keluarga yang bisa sangat melelahkan dan tidak sabar dalam menghadapi individu yang menderita sakit mental sehingga berakibat pada pola relasi/komunikasi yang bisa memperburuk kondisi penderita.
2)   Pengobatan untuk sakit mental seringkali membuat penderita tidak nyaman, ada banyak gejala yang bisa timbul sebagai akibat dari proses pengobatan. Ini juga perlu diketahui oleh keluarga dengan tujuan membuat strategi tertentu supaya penderita bisa mengonsumsi obat secara teratur. Keluarga perlu memastikan apakah obat-obatan sudah diminum dengan tepat. Informasi tentang ini tentunya bisa ditanyakan pada psikiater dan jangan ragu untuk menanyakan sejelas-jelasnya.
3) Saya peraya bahwa pengobatan medis bisa membantu, namun akan lebih baik kalau Ibu bersama suami bisa mencari konselor yang tepat, guna membantu proses pengobatan yang sedang dikerjakan. Melalui konseling yang tepat, tentunya bisa ditemukan hal-hal yang memunculkan depresi, apakah murni dari kegagalan usaha atau ternyata ada hal lain yang memicu depresi. Selain itu melalui konseling juga bisa dicari strategi yang pas yang bisa dikerjakan oleh Ibu dan keluarga untuk membantu penderita dalam mengatasi masalah depresi ini. Dari sisi iman kristiani, melalui proses konseling diharapkan Ibu dan keluarga juga bisa mencari apa yang Tuhan maksudkan dengan persitiwa yang sedang dialami oleh Ibu dan keluarga.
Roma 8: 28 ” Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” mau mengingatkan kepada kita bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seijin Allah. Kiranya Tuhan menolong Ibu dan keluarga melalui perjalanan hidup yang tidak mudah ini.

Komentar

Top