SUAMI SAYA SELINGKUH DENGAN BANYAK ORANG, BOLEHKAH SAYA BERCERAI?

Author : Bimantoro | Tue, 30 June 2015 - 12:14 | View : 3383

Dear Pak Michael, nama saya Rosa, dan saya memiliki masalah dengan pernikahan saya. Saya sudah menikah sejak tahun 2007, dan dikarunia dua orang anak. Terus terang saya memiliki suami yang ganteng menurut kebanyakan orang dan saya sendiri. Tetapi sejujurnya saya tidak merasa bahagia akhir-akhir ini, karena setelah dua anak saya lahir, yang pertama tahun 2007, dan yang kedua tahun 2009. Hingga tahun ini (2015) suami saya selalu selingkuh dengan banyak orang, selama 6 tahun ini ia sudah berselingkuh lebih dari 6 kali. Ibaratnya setiap tahun selingkuh. Ada yang dekat secara emosi, tetapi saya juga yakin ada yang hubungannya sudah sangat jauh. Setiap kali saya selalu tegur dan ia berkata mau berubah, tetapi selalu saja ada orang lain setelahnya. Saya terus terang hanya bertahan demi anak saja. Sebetulnya saya tidak lagi mencintainya. Bolehkah saya bercerai dengan kondisi yang terus menerus seperti ini, dan suami yang sepertinya tidak mau atau tidak bisa berubah?

Rosa, Jakarta.

Dear Ibu Rosa, yang saat ini merasa tidak bahagia. Memang masalah dalam rumah tangga seringkali membawa kita ke dalam perasaan yang bercampur-baur. Kita bisa merasa marah, sedih, menyesal, dan bahkan putus asa. Apalagi jika kita melihat pasangan/suami kita yang selama bertahun-tahun melakukan kesalahan yang sama, berulangkali, dan pertobatannya tidak terbukti dengan nyata. Di satu hari ia terlihat menyesal, kapok, dan berjanji tidak mengulanginya lagi, namun di kemudian hari ia seolah-olah melupakan begitu saja bahkan terus menerus menyakiti hati kita seolah-olah perasaan kita sudah kebal, dan terbiasa atas sikap yang dilakukannya. Tidak heran dalam kondisi seperti itu, kita segera memikirkan sebuah solusi yang kelihatannya dapat menolong kita sesegera mungkin keluar dari masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Tetapi ada baiknya kita melihat dengan lebih seksama terlebih dahulu mengenai masalah yang sedang kita hadapi ini.
Kita sebetulnya dapat menduga bahwa perilaku selingkuh yang dilakukan oleh suami berkali-kali sepanjang tahun bukanlah sifat dari kepribadiannya. Hal ini adalah sebuah faktor pencetus (precipitating factors) yang didorong oleh faktor bawaan, faktor sesungguhnya (predisposing factors) yang lahir dari jiwa yang gelisah, dimana ada suatu lubang di hatinya yang membuat dirinya terus-menerus mencari pemuasan, dalam hal ini perselingkuhan. Kebutuhan ini bisa saja muncul karena kebutuhan dari masa lalu yang tidak terpuaskan. William Glasser seorang psikiater dari Amerika mengatakan bahwa manusia memiliki 5 kebutuhan dasar yaitu: survival, love and belongingness, power, freedom, and fun. Seseorang yang katakan saja ingin merasakan cinta dan dimiliki, karena selama ini kurangnya kasih dari ibu, dapat bertumbuh menjadi pribadi yang ingin berpetualang dalam hal cinta, menjadi seorang womanizer, orang yang selalu ingin mengejar wanita-wanita yang ada di sekitarnya. Demikian juga orang yang mencari power, ia merasakan adanya kebanggaan, kekuatan jika ia bisa “menaklukan” banyak wanita, dan lain sebagainya. Tapi ada kalanya situasi dan kondisi yang berubah, misalnya saja dulu di rumah sepi, hanya berdua, saat ini ada kedua anak yang semakin menyita perhatian, dan tidak dapat memiliki waktu untuk sendiri atau berdua dengan istri, atau kondisi yang sumpek di rumah dapat mempengaruhi keinginan suami untuk keluar dari rumah, dan bertemu dengan orang-orang yang “fun” bagi dirinya, bisa menghilangkan sejenak kepenatan, meski berdampak buruk pada hubungan suami dan istri. Namun bisa juga ada kondisi dimana ia merasakan istri tidak lagi merawat diri, tidak lagi melayani suami, dan cenderung cuek, acuh tak acuh. Hal ini menjadi suatu dorongan psikologis yang berdampak buruk, meski orang tersebut sudah ke gereja dan sering mendengarkan Firman Tuhan.
Kondisi ini seringkali tidak disadari, dan kita memerlukan bantuan konselor yang professional untuk membuka hal-hal yang perlu kita pahami lebih dalam, dan menemukan sebuah akar permasalahan yang dampaknya sangat merusak ini. Sehingga jika sebetulnya hal ini dipahami dengan lebih baik, maka keinginan untuk bercerai dapat kita pikirkan ulang, dan sebaliknya kita bisa memiliki solusi yang kongkrit untuk masalah yang sedang dihadapi. Saya berdoa, ibu Rosa juga dapat memikirkan mengenai hal ini dan mengambil kesempatan yang ada untuk mencari pertolongan lebih lanjut.

Lifespring Counseling
and Care Center Jakarta
021- 30047780

Komentar

Top