PERGUMULAN DI GETSEMANI

Author : Pdt Robert R Siahaan | Tue, 5 May 2015 - 13:39 | View : 1113
pergumulan--di-getsemani.jpg

Sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, Ia mengajak murid-murid-Nya ke bukit Zitun dan masuk ke taman Getsemani dan disana Ia mengajak murid-murid-Nya berdoa (Mt 26:36-46; Mk 14:32-36; Lk 22:41-44). Kitab Injil menggambarkan bahwa Yesus mengalami suatu pergumulan yang sedemikian rupa hingga merasakan suatu ketakutan, seperti mau mati dan kegentaran yang sangat besar. Lukas menggambarkan secara spesifik: “Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Lukas 22:44). Apa yang menyebabkan Yesus mengalami pergumulan yang sedemikian hebat dan apa yang menjadi faktor ketakutan Yesus? Mungkinkah Yesus takut menghadapi penderitaan dan penyaliban di kayu salib? Apakah Yesus takut menghadapi kematian? Pertama-tama kita harus memahami terlebih dahulu pribadi Yesus Kristus sebagai manusia seutuhnya yang juga merasakan pengalaman-pengalaman dan pergumulan fisik, mental dan spiritual sebagaimana layaknya manusia: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibrani  4:15). Pada saat bersamaan Yesus adalah Allah seutuhnya yang juga memiliki kuasa, kedaulatan, kekudusan, kemahatauan, kekekalan dan segala atribut keilahian-Nya. Dari persfektif keilahian Kristus dapat kita simpulkan bahwa Ia tidak akan memiliki ketakutan (fearless) terhadap segala sesuatu dan segala keberadaan. Namun dari persfektif kemanusiaan mungkin banyak orang akan menafsirkan bahwa Yesus gentar dan takut terhadap penyiksaan serta kematian yang akan dihadapi-Nya. Namun apakah benar ketakutan Yesus terhadap penderitaan fisik dan kematian? Beberapa catatan peristiwa di dalam Injil menunjukkan bahwa selama Ia melayani bersama murid-murid-Nya Yesus tidak pernah menunjukkan ketakutan terhadap situasi apa pun atau ketakutan terhadap siapa pun. Berhadapan dengan para ahli Taurat, Imam-imam kepala, orang Farisi, tentara Romawi, berhadapan dengan Herodes, Pilatus, bahkan ketika Ia ditangkap, disiksa dan disalibkan. Sama sekali tidak ada penolakan dan perlawanan sekalipun Ia sanggup melakukan perlawanan. Ketika ditangkap Ia berkata bahwa Ia dapat meminta duabelas pasukan malaikat untuk melindungi-Nya (Mat 26:53). Tidak diragukan lagi bahwa sejak semula kedatangan Yesus ke dunia menjadi manusia seutuhnya untuk menyatakan rencana keselamatan umat pilihan-Nya (Ef 4:1-10). Yesus menyadari resiko dan tantangan serta penderitaan fisik yang akan dialaminya dan selalu memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa penderitaan-Nya adalah untuk menggenapi apa yang tertulis dalam kitab suci dan bagi Yesus semua harus terjadi seperti itu supaya semua tergenapi (Yes 53, Zak 11:12, 13:7;  Maz 109:2-5). Di dalam Yesaya 53:10 dituliskan dengan jelas bahwa Yesus secara sengaja dan rela menjalani misi penyaliban: “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.” Jika Yesus bukan takut terhadap penderitaan apakah Ia takut akan kematian? Sekali lagi kitab-kitab Injil dan surat-surat Paulus menggambarkan bahwa Yesus bahkan rela mati hingga di kayu salib (baca Ef 1:4-9, Fil 2:5-10). Ia sendiri menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa: Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.” (Luk 23:46). Ia juga menyebutkan bahwa pada hari itu Ia tetap berada di dalam surga ketika penjahat yang ada disebelahnya berbicara dengan-Nya, kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:43). Ketakutan Kristus tidak mungkin berkaitan dengan kematian karena Ia sangat sanggup menghadapi kematian. Ia juga menyebutkan bahwa setelah menerima penderitaan fisik kemudian penyaliban dan pada hari yang ketiga Ia akan bangkit dari kematian (Matius 16:21, 20:19). Jika Yesus takut terhadap penderitaan dan penyiksaan fisik serta takut kepada kematian, sejak awal tentu Ia akan menghindarinya, justru sebaliknya, Yesus begitu tegas dan berani menyatakan serta menggenapi rencana kematian-Nya agar terlaksana pegampunan dan penebusan dosa-dosa umat Allah di dalam diri-Nya.

Cawan Murka Allah
Jika bukan penderitaan fisik dan kematian yang menjadi alasan utama pergumulan Yesus, lalu mengapa begitu besar pergumulan Yesus di Getsemani? Dia bahkan berdoa dengan sangat serius sebanyak tiga kali dan Lukas menggambarkan keringatnya bagaikan tetesan darah yang jatuh ke tanah. Apa yang menjadi kegentaran dan ketakutan Yesus? Dalam doanya jelas sekali Yesus meminta jikalau mungkin ia tidak meminum cawan yang dikehendaki Bapa: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" (Mat 26: 42). Apa yang dimaksud dengan cawan itu? Kalau kita baca dari Yesaya dan Mazmur, cawan itu adalah symbol penghukuman dan murka Allah, penghakiman Allah atas umat Israel (Yes 51:17; Yer 25:15-17). Cawan yang disebutkan Yesus berbicara mengenai Yesus yang menanggung seluruh dosa manusia. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor 5:21). Kristus menggantikan posisi umat pilihan-Nya (substitution) sebagai target murka Allah, disalib itu terjadi proses pembayaran korban dosa bagi umat manusia. Yesus Kristus mengalami maut di salib itu. Penebusan Yesus Kristus secara jasmani menunjukkan bahwa tugas-Nya telah selesai untuk membayar korban dan tebusan bagi dosa-dosa umat-Nya (Im 17:11; Ibr 9:22, Ef 1:7). Yesus mengalami maut ketika Ia mengatakan, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Inilah yang menjadi pergumulan terbesar yang digumuli Yesus di taman Getsemani. Yesus bukan takut disiksa, ditinggalkan murid-murid, atau takut menghadapi kematian. Ia mengalami kegentaran karena harus menanggung semua dosa manusia serta mengalami keterpisahan dengan Bapa-Nya.  Dalam pemahaman konsili Nicea ditegaskan bahwa pribadi Allah tritunggal tidak pernah dapat dipisahkan atau dicampur baurkan baik peran dan eksistensi-Nya. Namun sebagai manusia Yesus Kristus yang sedang menjadi target dosa, Ia kemudian ditinggalkan sementara waktu untuk menanggung keberdosaan umat manusia. Yesus mengalami hukuman untuk menggantikan hukuman kematian umat tebusan-Nya yang seharusnya mengalami maut. Sebelum mati Ia mengatakan, “sudah selesai.” Pergumulan dan kegentaran Yesus di dalam peristiwa penyaliban tidak mungkin dapat dimengerti sepenuhnya oleh manusia. Sebuah moment dan pergumulan terberat yang tidak mungkin dapat dirasakan dan tidak mungkin dapat ditanggung oleh manusia. Mengapa Allah harus menjadi manusia dan kemudian harus mati di kayu salib? Karena tidak ada cara lain untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal selain dari kematian-Nya di kayu salib. Hanya Yesus satu-satunya manusia yang sanggup menjadi korban tebusan, dan satu-satunya korban yang dapat memenuhi tuntutan murka Allah atas dosa-dosa manusia. Yesus mati untuk menganggung dosa-dosa kita dan agar kita dibenarkan, diperhitungkan kudus dan  tidak bersalah dihadapan Allah (Ef 1:4,7). Mengapa Allah Bapa merelakan Kristus AnakNya yang tunggal mengalami pergumulan dan proses kematian yang begitu dahsyat? “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16). Yesus Kristus merelakan diri-Nya untuk menjadi manusia (inkarnasi) dan mengalami proses yang panjang hingga mencapai puncak penderitaan-Nya di atas kayu salib. Apa respon terbaik yang dapat kita berikan kepada Allah atas anugerah-Nya yang terbesar melalui inkarnasi dan melalui kematian-Nya di kayu salib? Jika kita telah menerima anugerah penebusan Kristus tentu bukan karena ada sesuatu yang istimewa atau karena ada faktor kelebihan di dalam diri kita dan juga bukan karena ada kebaikan dalam diri kita. Semua itu hanyalah anugerah Allah yang diberikan Allah kepada orang-orang yang dikasihi-Nya (Ef 2:8-9). Maka sudah sepantasnya kita selalu hidup dengan sukacita dan penuh syukur disertai hidup yang selalu mau mempersembahkan ibadah yang sejati, yang kudus, yang hidup dan yang selalu memuliakan Allah (Roma 12:1-2). Sebagaimana Paulus berkata “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor 6:20). Soli Deo Gloria.

Komentar

Top