Rekson Sitorus, MENGUBAH Sampah Menjadi Emas

Tue, 5 May 2015 - 14:10 | View : 3281
news24284.jpg
foto: obornews

Rony, begitulah dia dipanggil masyarakat Bekasi. Nama itu sebenarnya nama dari anak sulung Rony Pandapotan Sitorus. Sebagaimana orang Batak umumnya menggunakan panggilan namanya dari nama anak pertama. Dia bukanlah seorang birokrat pemerintahan, yang selalu petantang-petenteng berteriak-terik menyuruh anak buah, memeriksa aparat bawahan. Dan bukan seorang pemimpin politisi yang dengan baju safari berpidato berjanji muluk-muluk. Sebaliknya dia hanya pengusaha yang berusaha berarti untuk orang lain, menjadi saluran berkat untuk orang lain.

Rekson Sitorus mengawali usahanya di daerah Cilengsi. Memulai usaha dengan bergulat bersama tanah urukan. Pria asal kampung Habinsaran, Toba Samosir, kemudian memuai peruntungan di jalur mengruk tanaj yang kemudian hari berkembang menjadi pendiri PT Godang Tua Jaya, yang kini dipercayakan pemerintah DKI Jakarta mengelola tempat pembuangan sampah terpadu di Bantar Gebang, Bekasi. Pusat pembuangan dan pengelolaan sampah terbesar di Indonesia. Jauh sebelum menjadi pengusaha, sebenarnya, cita-citanya ingin menjadi pelaut. Maka begitu lulus SMA tahun 1971 di Pematang Siantar, dari sana langsung ke Jakarta melamar ke Akademi Ilmu Pelayaran. Niatnya itu ditopang semangt seorang kenalannya bermarga Simanjuntak, kenalannya yang bertempat tinggal di Tanjung Priok, dekat di sekolah tersebut.  ”Namun batin saya berkata bahwa saya bukan seorang pelaut. Saya tidak bisa menjiwai pekerjaan di laut,” kenangnya.

Ceritanya, dalam suasana hati tidak menentu, tampillah seseorang yang juga bermarga Sitorus yang mengajaknya berbisnis urukan tanah. ”Saya waktu itu langsung semangat. Setelah saya coba, saya perhatikan, saya merasa cocok. Saya langsung tertarik. Saya katakan pada diri saya, ah, ini dunia saya. Menjadi kontraktor penggalian tanah.” Jadilah mulai tahun 1980 dia mulai bisnis uruk tanah. Dari sana merintis usaha pembuatan kompos hingga kemudian menjadi perusahaan swasta yang dipercaya untuk mengelola Bantar Gebang.

Mengubah sampah
Rekson adalah sosok pengusaha yang berhasil, mengubah sampah jadi berharga; diantaranya menjadi kompos, bahan rekondisi yang kembali bisa dibuat plastik dan juga dikonfersi menjadi listrik. “Bayangkan, kalau sampah satu hari saja menumpuk di Jakarta, kota kita sudah kewalahan. Sampah-sampah sudah pasti berserakan di sepanjang jalan,” ujarnya. “Tetapi, kalau kita kelola samapah dengan baik, lingkungan sekotor apapun akan bersih, sedangkan kesadaran masyarakatnya belumlah tinggi, apalagi soal kebersihan. Sampah harus dikelola dengan baik, kalau ngga sampah bisa juga merusak alam, wadah air minuman.”

Naluri bisnis dari orangtuanya. “Ayah saya, dulunya seorang pedagang keminyaan dan penatua di gereja. Ketika kecil, usia puluhan tahun, saya sudah biasa melihat transaksi bisnis keminyaan.  Dari situlah saya mengenal mulai bisnis. Saya belajar mengelola usaha,” ujarnya lagi. Dia menyadari jalan berliku harus dilalui pengusaha tangguh. “Kegagalan jadi kesuksesan. Bagi saya, sukses bukan berarti kaya, berkuasa dan populer. Melainkan sanggup melewati badai. Kehidupan saat itu membentuk saya untuk menghargai hidup lebih dari sekedar merasakan kesulitan.”

Bisnisnya penah kolap, sempat berbinis uruk tanah lagi sepih order. Hal itu pernah menimpanya saat krisis moniter tahun 1998. Kenyataan melewati krisis ekonomi sangat sulit. Namun ada 3 kunci keberhasilan. Pertama, tidak melarikan diri. Kedua, konsolidasi dan penggunaan dana seefektif mungkin, dan yang ketiga, proaktif melakukan perundingan dengan pihak kreditur. Dari sinilah katanya pergulatan hidupnya menemukan jalan, dan perusahaan yang dia kelola terus berkembang dan berkembang. Masih jelas dalam ingatannya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Bantar Gebang itu dulunya adalah sumber tanah urukan untuk proyek pembangunan perumahan di Podomoro, Kelapa Gading, dan Sunter yang kini lahan itu menjadi pembuangan sampah, tetapi memberikan keuntungan berlipat.

Sebagai Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, saat ini pihaknya menerapkan teknologi landfill gas untuk menghasilkan listrik dari sampah. Selama ini, dengan fasilitas teknologi yang dikembangkan saat ini hanya baru mampu mengolah sebanyak 2.000 ton sampah yang menghasilkan listrik 10 megawatt, pupuk organik, serta bijih plastik. Sehingga, masih ada sekitar 3.500 ton sampah yang belum terkelola. Teknologi landfill Gas itu dilakukan dengan melakukan penutupan sampah menggunakan bahan karet bernama bio-membran yang mengelilingi tiga zona pembuangan sampah.

“Harganya mahal sekali yakni Rp 90 ribu/meter. Sedangkan area timbunan sampah yang harus ditutup luasnya sekitar 89 hektar. Namun dengan penutupan ini selain menghilangkan bau dan serangga, sekaligus dapat memproduksi gas biometan,” katanya. “Gas tersebut tiap bulan dapat menghasilkan listrik hingga 10 megawatt yang dibeli oleh PLN untuk dialirkan kepada masyarakat Jawa dan Bali. Penjualan listriknya kini rata-rata per bulan sekitar Rp 4 miliar.”

Setiap zona yang ditutupi bio-membran itu terdapat 200 sumur gas sedalam 20-25 meter yang selanjutnya dihubungkan ke pipa-pipa menuju penampungan gas untuk diolah menghasilkan listrik. Seluruh investasi mulai dari pengolahan sampah hingga menjadi listrik mencapai Rp 700 miliar. Sementara itu mengenai polemik masalah sampah yang melibatkan Pemprov DKI Jakarta dengan Pemda Bekasi, Rekson berharap segera berakhir. “Sebaiknya  pimpinan pemerintahan tidak ribut lagi karena kerja sama sampah ini sama-sama menguntungkan kedua pihak. Membangun simbiosis mutualisme,” ujar anggota FKUB Kota Bekasi, ini.

Entrepeneur
Menjadi seorang wirausaha disebutnya oleh ajakan Hiobaja Sitorus adalah ”guru”-nya dalam bisnis tanah uruk. Waktu itu, Hiobaja kecelakaan, sang guru harus istirahat dan kemudian mengalihkan usaha ke bidang perhotelan. Sementara Rekson tetap bertahan dengan memuali bendera sendiri. Dan, puji Tuhan, dalam waktu tujuh tahun, dari seorang yang menjual tenaganya kepada orang lain, Rekson telah menjadi raja atas dirinya sendiri. Dia menjadi entrepreneur. Pintu lebih terbuka buatnya untuk mengembangkan layar lebih lebar lagi mengarungi bisnis di dunia yang dianggap jorok oleh orang lain: mengelola sampah.

Tahun 1993 dia mendirikan PT Godang Tua Jaya. Nama itu agaknya sengaja dipilih karena di situ terkandung obsesi untuk menjadi ”berkah yang besar.” Apa salahnya untuk mematok sebuah harapan. Yang jelas ini bukan sekedar mimpi. Perusahaan yang dia kendalikan kemudian digandeng oleh pemodal besar, PT Navigat Organic Energy Ind, dengan melibatkan investasi besar.
Apa kunci sebagai seorang entrepreneur? Kuncinya adalah memangun relasi. ”Kuncinya adalah mencoba berteman dengan banyak orang. Tak pernah mencari musuh. Itulah yang membuat kita bisa eksis sampai sekarang. Kita juga selalu berupaya berbuat baik terhadap lingkungan. Kepada karyawan pun saya tidak pernah menunjukkan bahwa saya bos. Pengalaman saya menunjukkan orang yang menamakan diri bos selalu bersikap kasar.

Kepada aparat mereka juga sombong-sombong. Loh, masyarakat ini kan asetmu kok kau kasarin. Atau mungkin karena orang Batak itu punya karakter kasar seperti itu?!” Menurutnya, bahwa untuk modal dalam memulai usaha, mencintai sesama manusia. “Saya mengimani firman Tuhan, yang menyebut bahwa kalau kita mengasihi sesama kita dengan tulus, kita akan diterima di mana-mana. Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung,” motonya. Suami dari Lina boru Pasaribu, ayah dari empat anak. Yang pertama dan kedua kembar. Anak pertama, Rony Pandapotan Sitorus, dia tempatkan untuk mengelola divisi alat-alat berat. Ernika Tiurmauli boru Sitorus telah menikah dengan Douglas Manurung, yang sekarang duduk sebagai Wakil Direktur Utama PT Godang Tua Jaya. Anak ketiga, Elfrida Junita, menikah dengan Tumpak Sidabutar, saat ini menjadi anggota DPRD Kota Bekasi. Sementara yang paling bungsu, Henry Fonda Agung. Dari keempat anak dan menantunya Tuhan anugerahi 9 cucu. Sekali lagi, kuncinya mengasah hubungannya dengan relasi dan para mitranya. Tetapi jauh dari hal itu, masalah spritualitas yang selalu diutamakannya. Selain sebagai pengusaha dia menjadi salah satu penatua di Gereja Pentakosta Indonesia sidang Kota Wisata. “Saya Percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan dan hidup. Tuhan yang memegang masa depan kita. Hidupilah jujur dan kerjakanlah apa yang memuliakan Tuhan,” ujarnya. ?Hotman

Komentar

Top