Janda Cerai, Bingung Mau Nikah Lagi

Author : Bimantoro | Tue, 5 May 2015 - 14:19 | View : 1916
divorcing.jpg

Dear Konselor, saya seorang ibu dari dua anak perempuan (9 dan 6 tahun). Dua tahun lalu saya diceraikan oleh suami saya dengan alasan sudah tidak ada kecocokan. Kami sempat konseling ke beberapa hamba Tuhan, tetapi keadaan tidak juga membaik sampai akhirnya bercerai. Selama masa perceraian ini suami sudah tidak lagi kontak baik dengan saya maupun dengan anak-anak, padahal dulu dia sangat dekat dengan mereka. Belakangan ini  ada pria yang mulai mendekati saya dan mengajak menikah. Bagaimana saya harus menanggapi dia? Apakah saya boleh menikah lagi? Usia saya saat ini 35 tahun. Terima kasih.
    
Ms. X
Jawa Tengah

IBU  X yang terkasih, mengalami kegagalan dalam pernikahan memang bukan hal yang mudah, apalagi Ibu sudah mencoba mempertahankan pernikahan dengan konseling ke beberapa hamba Tuhan, tentunya konseling-konseling tersebut dilakukan dengan harapan bahwa kondisi rumah tangga akan membaik dan tidak sampai bercerai. Namun realita tidak seperti yang Ibu harapkan dan perceraian itu terjadi, di mana setelah bercerai hubungan dengan ayah anak-anak menjadi putus sama sekali. Sebuah pengalaman yang bisa menghasilkan berbagai pemahaman dalam diri entah itu tentang pria, atau tentang pernikahan atau juga tentang diri. Pemahaman ini bisa menjadi sebuah pemahaman yang baik karena belajar dari pengalaman atau bisa menjadi suatu pemahaman yang kurang baik ketika melihat berbagai kenangan pahit yang terjadi. Suatu kondisi yang bisa membuat Ibu berpikir dengan lebih serius ketika akan mengulangi lagi suatu relasi yang baru, yang mungkin bisa berujung pada pernikahan.
Memulai sebuah relasi dalam status janda memang tidak mudah, tapi mari kita pikirkan bersama tentang realita yang Ibu hadapi.

1. Bagaimana respon anak-anak terhadap kemungkinan Ibu menikah lagi? Mau tidak mau anak-anak juga punya pemahaman sendiri akan apa yang terjadi dengan orang tuanya. Saya tidak tahu apa pemahaman mereka terhadap perceraian, apalagi Ibu mengatakan bahwa hubungan mereka terputus dengan ayah yang dulunya sangat dekat. Saya juga tidak tahu apakah terputus ini karena Ibu memberikan tanda-tanda tertentu sehingga suami menjadi sungkan untuk bertemu, atau suami Ibu memang punya masalah dalam dirinya sehingga menarik diri dari fungsi sebagai ayah yang seharusnya tidak terputus karena perceraian. Pemahaman mereka akan perceraian yang terjadi tentunya akan mempengaruhi pemahaman mereka akan pernikahan kembali ibunya, yang bisa saja akan menimbulkan permasalahan dalam keluarga baru yang akan dibentuk.

2. Apakah alasan Ibu memikirkan tentang pernikahan? Ada wanita yang memikirkan menikah kembali karena pertimbangan akan lebih mudah membesarkan anak-anak di tengah tuntutan hidup yang tinggi, sementara wanita lain memikirkan menikah lagi karena membutuhkan seseorang secara emosi dalam kehidupan ini, atau wanita lain lagi menikah kembali karena dorongan dari keluarga atau orang-orang terdekat karena mereka melihat Ibu masih muda dan masih punya banyak kesempatan, atau alasan lain lagi yang bisa sangat beragam. Bahkan Firman Tuhan pun membukakan kemungkinan menikah lagi seperti yang ada dalam 1 Korintus 7 : 8 – 9 dengan berbagai pertimbangan tertentu.

3. Apakah Ibu sudah berdamai dengan diri Ibu atas pengalaman perceraian? Hal ini perlu supaya efek perceraian tidak mempengaruhi relasi Ibu dengan pasangan yang baru. Bagaimana pemahaman Ibu terhadap pria? Apakah Ibu siap jika pasangan ini memunculkan beberapa sikap seperti pasangan yang lalu? Apakah Ibu siap jika pasangan yang baru ternyata tidak sesuai harapan? Apakah Ibu yakin bahwa pasangan ini menerima Ibu apa adanya dan tidak akan menyesali keputusan menikah dengan seorang yang pernah mengalami perceraian? Di samping itu Ibu juga perlu tahu apa alasan di balik keinginannya menjalin relasi dengan Ibu. Bagaimana pengalaman dia dalam berrelasi dengan wanita selama ini, baik itu dalam pernikahan maupun berpacaran?

Memulai pernikahan kedua bukan hal yang mudah dan seringkali harus lebih banyak dipikirkan, kiranya hal-hal tersebut di atas membantu Ibu untuk memikirkan lebih lanjut rencana ke depan. Konseling dengan orang yang tepat tentunya bisa sangat membantu Ibu dalam meresponi pengalaman-pengalaman yang pernah Ibu alami dan akan Ibu alami. Tuhan memberkati.

Komentar

Top