Hukum Tanpa Kasih Hanyalah Legalistik Belaka

Author : Dr An An Sylviana | Tue, 5 May 2015 - 14:27 | View : 874
law.jpg

Bpk. Pengasuh yang terhormat,
Putusan Praperadilan yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Sarpin Rizaldi, dalam kasus Budi Gunawan berbuntut panjang. Komentar-komentar yang dibuat oleh banyak pihak dan diangkat kepermukaan oleh media massa, telah mengundang reaksi balik dari Hakim Sarpin Rizaldi. Mantan Hakim Agung Komariah Emong Sapardjaja, telah dilaporkan ke pihak Kepolisian, karena telah dianggap mencemarkan nama baiknya. Demikian pula dengan komisioner dari KY.Saling laporpun tidak terelakan lagi dan kami sebagai masyarakat awam dibuat bingung dengan ulah mereka. Apakah tidak ada cara yang lebih santun untuk menyelesaikan kasus-kasus seperti itu.Haruskan melulu jalan yang ditempuh adalah jalur hukum ? apakah jalur hukum menurut Bp. Pengasuh merupakan jalan yang terbaik. Mohon penjelasan.
Syarifah – Jakarta

Sdri. Syarifah yang terkasih

Pendeta Bigman Sirait pernah menyatakan bahwa “Hukum tanpa Kasih hanyalah legalistik belaka”, sedangkan “Kasih tanpa Hukum adalah liar”. Saya teringat pada waktu seorang ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat.” Dan Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Selanjutnya Rasul Paulus kepada Jamaat di Korintus dalam misi Penginjilannya mengajarkan hal-hal sebagai berikut: “Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?     Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari. Sekalipun demikian, jika kamu harus mengurus perkara-perkara biasa, kamu menyerahkan urusan itu kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat? Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya? Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya? Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu.”
Dengan demikian masalah-masalah hukum sebenarnya dapat diselesaikan apabila setiap pribadi yang terlibat dalam suatu masalah masih memiliki “Kasih”, sehingga ia mempunya kemampuan, kekuatan untuk mengampuni, termasuk akan tetapi tidak terbatas untuk mengampuni lawan-lawannya.

Dapat dipahami bahwa Institusi seperti Kepolisian yang memang telah ditetapkan oleh Undang-undang sebagai salah satu yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan “Penyelidikan dan Penyidikan”. Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang, sedangkan Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Tentunya setiap orang akan mempertahankan bahwa dirinya benar, seperti pada kasus Hakim Sarpin Rizaldi Vs Mantan Hakim Agung Komariah Emong Sapardjaja. Tentunya Mantan Hakim Agung Komariah Emong Sapardjaja tidak akan berdiam diri dan akan melakukan perlawanan. Dan pada akhirnya kita akan mengetahui “yang kalah menjadi abu dan yang menang menjadi arang”. Dengan demikian tidak selamanya jalur hukum merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan semua permasalahan, masih ada jalan lain yang dapat dipilih untuk menyelesaikannya. Jalan hukum adalah merupakan jalan terakhir, apabila jalan lain sudah tidak mungkin lagi untuk ditempuh.
Demikian untuk menjadi bahan perenungan bagi kita semua.

Komentar

Top